Jakarta, Kowantaranews.com – Bencana hidrometeorologi terburuk dalam satu dekade melanda Pulau Sumatera. Hingga Minggu malam (30/11/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu Siklon Tropis Senyar dan Koto telah mencapai 188 orang. Sebanyak 167 orang lainnya masih dalam status hilang, sementara lebih dari 35.813 jiwa terpaksa mengungsi karena rumah dan kampung mereka lenyap tertimbun lumpur atau tersapu air bah.
Provinsi Sumatera Barat menjadi wilayah paling parah. BPBD Sumbar melaporkan 90 korban meninggal dunia dan 90 orang lainnya masih belum ditemukan. Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Tanah Datar, Agam, Padang Pariaman, dan Padang Panjang pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari menyisakan duka mendalam. Di Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, satu kampung bernama Jorong Limo kaum hanyut total. “Hanya tersisa tiang listrik dan atap-atap rumah yang menyangkut di pepohonan,” ujar Salahuddin, salah seorang relawan yang ikut mengevakuasi korban.
Di Sumatera Utara, angka korban tewas juga mencapai 90 orang dengan 68 jiwa masih dalam pencarian. Kabupaten Karo, Dairi, dan Tapanuli Utara menjadi titik terparah. Banjir lahar dingin dari Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak memperburuk situasi. Sementara itu, Provinsi Aceh melaporkan 13 korban meninggal dan 9 orang hilang, terutama di Aceh Tenggara dan Gayo Lues.
Infrastruktur lumpuh total di banyak titik. Jalan Lintas Sumatera segmen Medan–Banda Aceh masih terputus di belasan lokasi. Jalan Tol Binjai–Langsa ditutup karena genangan air setinggi 1–2 meter di Km 49+800 dan Km 50+800 serta longsor di beberapa titik lainnya. Di Sumatera Barat, jalur strategis Padang–Bukittinggi sama sekali tidak bisa dilalui. Jembatan Kembar Padang Panjang Barat tertimbun material longsor setebal hampir 2 meter, terdiri dari lumpur, batu besar, dan batang pohon pinus.
“Kami terpaksa menutup total jalur ini demi keselamatan. Tidak ada kendaraan yang bisa lewat, bahkan sepeda motor,” kata Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Taufiq Hidayat.
Tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Tagana, dan relawan masih terus berjibaku melakukan pencarian korban hilang. Operasi darat menggunakan alat berat dan tenaga manual, operasi air dengan perahu karet, serta operasi udara menggunakan drone dan empat unit helikopter (tiga milik TNI AD/AU dan satu milik Polri). Pemerintah pusat telah mengirimkan bantuan logistik tahap pertama menggunakan pesawat Hercules C-130 TNI AU ke Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, untuk kemudian didistribusikan ke wilayah terisolir.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang masih akan mengguyur sebagian besar Sumatera Utara dan Sumatera Barat hingga 1 Desember 2025. “Potensi banjir bandang, longsor, dan banjir lahar hujan masih sangat tinggi, terutama di daerah pegunungan dan lereng barat,” tegas Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto.
Ribuan pengungsi kini bertahan di tenda-tenda darurat, sekolah, dan masjid. Kebutuhan mendesak berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, paka obat-obatan, dan pampers bayi terus berdatangan dari berbagai daerah. Masyarakat diminta tetap waspada dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman bila hujan kembali mengguyur dengan intensitas tinggi.
Tragedi ini menjadi pengingat keras betapa rentannya wilayah Sumatera terhadap bencana hidrometeorologi di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian dan pertolongan masih terus berlangsung 24 jam tanpa henti, dengan harapan angka korban hilang bisa terus berkurang dan keluarga yang ditinggalkan segera mendapat kepastian. By Mukroni
39 Tewas, Puluhan Hilang akibat Banjir Bandang dan Longsor di Aceh & Sumut
Aroma yang Membawa Pulang: Ketika Makanan Menyimpan Kenangan
Ketimpangan Wilayah: Bom Waktu Struktural yang Terabaikan di Balik Kemegahan Jabodetabek
Marsinah Resmi Jadi Pahlawan Nasional, Simbol Perjuangan Buruh Perempuan

