Jakarta, Kowantaranews.com – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang akan jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026 mendatang, aroma manis khas gula yang terkaramelisasi mulai menyeruak dari dapur-dapur tradisional di kawasan Pecinan di seluruh Nusantara. Aroma itu berasal dari Nian Gao, atau yang lebih akrab di lidah masyarakat Indonesia sebagai Kue Keranjang.
Di balik teksturnya yang lengket dan rasanya yang legit, tersimpan sebuah narasi sejarah yang membentang lebih dari satu milenium. Penganan ini bukan sekadar komposisi tepung ketan dan gula; ia adalah artefak budaya yang hidup, merekam jejak perjalanan dari dataran beku Tiongkok Utara hingga ke iklim tropis Indonesia.
Asal Mula: Dari Benteng Pertahanan ke Meja Makan
Jauh sebelum menjadi simbol festival yang dihiasi stiker merah, sejarah Nian Gao dapat dilacak hingga masa Dinasti Liao (907–1125). Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada masa itu, warga Beijing memiliki kebiasaan memakan kue ketan pada hari pertama tahun baru. Awalnya, kue ini disinyalir sebagai makanan bertahan hidup di musim dingin yang keras bagi masyarakat agraris, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi tradisi ritual.
Legenda yang lebih dramatis mengaitkan kue ini dengan sosok Jenderal Wu Zixu pada masa Periode Negara-Negara Berperang (475-221 SM). Konon, Wu Zixu membangun tembok kota dari batu bata yang terbuat dari tepung beras ketan yang dipadatkan. Ketika kota dikepung musuh dan kelaparan melanda, warga teringat pesan sang jenderal untuk “menggali di bawah tembok”. Mereka menemukan “bata” yang bisa dimakan tersebut, menyelamatkan banyak nyawa dari kelaparan.
Barulah pada masa Dinasti Ming (1368–1644), status Nian Gao mengalami demokratisasi. Ia tidak lagi sekadar makanan darurat atau sajian elit, melainkan menjadi kudapan umum yang dinikmati rakyat jelata di pasar-pasar, menandai integrasinya yang permanen ke dalam kuliner Tionghoa.
Semiotika Bahasa: Doa yang Dapat Dimakan
Mengapa kue ini begitu penting? Jawabannya terletak pada permainan kata (pun) dalam bahasa Mandarin yang sarat makna. Kata Nian (年) yang berarti “tahun” adalah homofon dari kata Nian (黏) yang berarti “lengket”. Sementara Gao (糕) yang berarti “kue” terdengar sama persis dengan Gao (高) yang berarti “tinggi”.
Ketika digabungkan, memakan Nian Gao adalah sebuah ritual fisik untuk mendoakan Nian Nian Gao Sheng (年年高升), yang berarti “meningkat tinggi dari tahun ke tahun”. Ini adalah aspirasi universal tentang mobilitas vertikal: jabatan yang naik, bisnis yang berkembang, anak-anak yang bertumbuh tinggi, dan kemakmuran yang meningkat di tahun yang baru, khususnya menyambut Tahun Kuda Api di 2026 ini.
Di Indonesia, istilah Ti Kwe (bahasa Hokkien yang berarti Kue Manis) juga populer, merujuk pada profil rasanya. Namun, nama “Kue Keranjang” adalah adaptasi lokal yang unik, merujuk pada wadah cetakan keranjang anyaman bambu yang digunakan dalam proses pembuatannya.
Sains di Balik Kesabaran 5 Hari
Apa yang membuat Kue Keranjang tradisional mampu bertahan hingga satu tahun tanpa pengawet buatan? Rahasianya terletak pada kearifan lokal yang kini dapat dijelaskan oleh sains modern: fermentasi alami dan reaksi Maillard.
Pembuatan kue keranjang tradisional memakan waktu total sekitar 5 hari. Proses ini dimulai dari perendaman beras ketan, penggilingan, hingga tahap krusial “pengistirahatan adonan”. Riset menunjukkan bahwa pengistirahatan ini memungkinkan terjadinya fermentasi alami oleh mikroba pada tepung beras. Proses ini mengubah struktur pati, meningkatkan kemampuan adonan menahan air (water-holding capacity), dan mencegah kue menjadi keras atau pecah terlalu cepat.
Puncak dari proses ini adalah pengukusan yang memakan waktu 10 hingga 12 jam menggunakan kayu bakar. Penggunaan kayu bakar bukan sekadar nostalgia; fluktuasi suhu mikro dari api kayu dan durasi masak yang panjang memicu reaksi Maillard (pencoklatan) yang sempurna, menghasilkan warna cokelat gelap alami dan aroma “smoky” yang tidak bisa ditiru oleh kompor gas.
Inilah sebabnya mengapa Kue Keranjang yang dibungkus daun pisang seringkali lebih dicari daripada yang berbungkus plastik. Daun pisang tidak hanya menjaga kelembapan kue agar tetap kenyal, tetapi juga menyumbangkan aroma wangi alami yang berpadu dengan aroma karamel dari gula yang dimasak lama.
Filosofi Tumpukan Ganjil
Dalam penyajiannya di altar sembahyang, ada aturan tak tertulis yang dipatuhi secara turun-temurun. Kue Keranjang biasanya disusun menumpuk ke atas menyerupai pagoda dalam jumlah ganjil: 3, 5, atau 7 tingkat.
Dalam metafisika Tiongkok, angka ganjil diasosiasikan dengan energi Yang—energi kehidupan, maskulinitas, dan pertumbuhan yang dinamis. Sebaliknya, angka genap sering dikaitkan dengan energi Yin yang pasif. Dengan menyusun kue dalam jumlah ganjil, keluarga berharap agar rezeki dan kehidupan mereka terus “hidup” dan tumbuh, tidak stagnan. Angka 4 dihindari karena bunyinya mirip dengan kata “kematian”.
Januari Kelabu: Saat Longsor Cisarua dan Banjir Bandang Slamet Menerjang Bersamaan
Bentuknya yang bulat tanpa sudut melambangkan kesatuan keluarga yang utuh (reunion) dan rezeki yang berputar tanpa putus. Teksturnya yang lengket adalah doa agar anggota keluarga tetap bersatu dan akur, “lengket” satu sama lain dalam menghadapi tantangan tahun Kuda Api mendatang.
Dari benteng pertahanan Jenderal Wu Zixu hingga menjadi hantaran manis di Jakarta, Nian Gao membuktikan dirinya lebih dari sekadar makanan. Ia adalah monumen ketahanan budaya, sebuah doa bisu yang diucapkan melalui rasa manis, tekstur lengket, dan aroma daun pisang yang melintasi zaman. By Mukroni
Januari Kelabu: Saat Longsor Cisarua dan Banjir Bandang Slamet Menerjang Bersamaan
Duka Januari 2026: Rentetan Bencana Alam Terjang Bandung Barat, Tegal, Sleman, dan Manggarai Timur
Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

