Jakarta, Kowantaranews.com – Akhir Januari 2026 mencatatkan sejarah kelam dalam lembaran kebencanaan nasional. Di saat langit Jawa tak henti menumpahkan air, dua tragedi besar menghantam wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam waktu yang hampir bersamaan, menyisakan duka mendalam dan pekerjaan rumah raksasa bagi tata kelola lingkungan di Pulau Jawa.
Di kaki Gunung Burangrang, Kabupaten Bandung Barat, keheningan dini hari pada Sabtu (24/1/2026) pecah oleh suara gemuruh yang digambarkan warga menyerupai suara helikopter mendarat. Namun, yang datang bukanlah bantuan, melainkan petaka. Bukit yang menjulang di atas Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, runtuh seketika, menimbun Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda.
Hingga Senin (26/1/2026), tim SAR gabungan telah mengevakuasi total 25 kantong jenazah dari reruntuhan . Pemandangan di lokasi sangat memilukan; satu keluarga ditemukan tewas dalam posisi berpelukan, sebuah simbol cinta yang abadi di tengah maut yang datang tiba-tiba. Namun, kecemasan belum mereda karena puluhan orang—estimasi berkisar antara 60 hingga 80 jiwa—masih dinyatakan hilang di bawah timbunan lumpur tebal . Duka Cisarua semakin pekat dengan gugurnya dua anggota Polda Jawa Barat, Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery, yang mengalami kecelakaan tragis saat bergegas menuju lokasi untuk menolong warga . Misteri juga menyelimuti nasib 23 personel TNI yang dikabarkan turut hilang di lokasi, sebuah informasi yang hingga kini masih terus diverifikasi kebenarannya oleh Kodam III/Siliwangi di tengah simpang siur situasi lapangan.
Hanya berselang beberapa jam sebelumnya dan ratusan kilometer ke arah timur, lereng Gunung Slamet di Jawa Tengah juga “mengamuk”. Hujan deras yang mengguyur sejak Jumat (23/1/2026) memicu banjir bandang yang menerjang tiga kabupaten sekaligus: Purbalingga, Tegal, dan Pemalang. Bukan sekadar air, banjir ini membawa material kayu gelondongan dan batu-batu raksasa, sebuah indikasi kuat rusaknya ekosistem hulu yang seharusnya menjadi penyangga .
Di kawasan wisata Guci, Tegal, tiga jembatan vital hancur tersapu arus, melumpuhkan akses dan ekonomi wisata setempat . Di Pemalang dan Purbalingga, desa-desa terisolasi, jembatan putus, dan rumah-rumah warga rusak dihantam material longsoran. Dua warga di Desa Bongas, Pemalang, dilaporkan hilang tertimbun longsor saat berada di sawah, menambah daftar korban jiwa dalam rangkaian bencana hidrometeorologi ini .
Benang merah dari kedua bencana ini sangat jelas: krisis lingkungan akibat alih fungsi lahan. Di Cisarua, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti dominasi tanaman sayuran non-endemik asal Amerika Selatan di zona merah longsor, menggantikan tegakan hutan yang kuat . Sementara di Slamet, gelondongan kayu yang hanyut menjadi saksi bisu deforestasi di atap Jawa Tengah.
Duka Januari 2026: Rentetan Bencana Alam Terjang Bandung Barat, Tegal, Sleman, dan Manggarai Timur
Respons cepat ditunjukkan oleh pemerintah. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang meninjau Cisarua langsung menginstruksikan relokasi warga ke tempat yang lebih aman namun tetap dekat dengan sumber mata pencaharian. Senada, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan kebijakan radikal untuk “menghutankan kembali” kawasan terdampak dan melarang hunian di zona bahaya . Upaya teknologi modifikasi cuaca dengan menyemai kapur tohor juga diterapkan untuk menghalau hujan demi memuluskan pencarian korban.
Januari 2026 menjadi pengingat pahit bahwa alam memiliki batas toleransi. Ketika hutan digantikan beton dan kebun sayur di lereng terjal, harga yang harus dibayar seringkali adalah nyawa manusia. Kini, di tengah lumpur yang masih basah, para penyintas menanti realisasi janji pemulihan, sembari berharap “Januari Kelabu” ini tidak terulang di masa depan. By Mukroni
Duka Januari 2026: Rentetan Bencana Alam Terjang Bandung Barat, Tegal, Sleman, dan Manggarai Timur
Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

