• Sen. Jan 26th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Januari Kelabu: Saat Longsor Cisarua dan Banjir Bandang Slamet Menerjang Bersamaan

ByAdmin

Jan 26, 2026
Ilustrasi. Material kayu terbawa arus saat banjir bandang di Purbalingga. (REUTERS/Ipa Ibanez)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Akhir Januari 2026 mencatatkan sejarah kelam dalam lembaran kebencanaan nasional. Di saat langit Jawa tak henti menumpahkan air, dua tragedi besar menghantam wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam waktu yang hampir bersamaan, menyisakan duka mendalam dan pekerjaan rumah raksasa bagi tata kelola lingkungan di Pulau Jawa.

Di kaki Gunung Burangrang, Kabupaten Bandung Barat, keheningan dini hari pada Sabtu (24/1/2026) pecah oleh suara gemuruh yang digambarkan warga menyerupai suara helikopter mendarat. Namun, yang datang bukanlah bantuan, melainkan petaka. Bukit yang menjulang di atas Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, runtuh seketika, menimbun Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda.

Hingga Senin (26/1/2026), tim SAR gabungan telah mengevakuasi total 25 kantong jenazah dari reruntuhan . Pemandangan di lokasi sangat memilukan; satu keluarga ditemukan tewas dalam posisi berpelukan, sebuah simbol cinta yang abadi di tengah maut yang datang tiba-tiba. Namun, kecemasan belum mereda karena puluhan orang—estimasi berkisar antara 60 hingga 80 jiwa—masih dinyatakan hilang di bawah timbunan lumpur tebal . Duka Cisarua semakin pekat dengan gugurnya dua anggota Polda Jawa Barat, Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery, yang mengalami kecelakaan tragis saat bergegas menuju lokasi untuk menolong warga . Misteri juga menyelimuti nasib 23 personel TNI yang dikabarkan turut hilang di lokasi, sebuah informasi yang hingga kini masih terus diverifikasi kebenarannya oleh Kodam III/Siliwangi di tengah simpang siur situasi lapangan.

Hanya berselang beberapa jam sebelumnya dan ratusan kilometer ke arah timur, lereng Gunung Slamet di Jawa Tengah juga “mengamuk”. Hujan deras yang mengguyur sejak Jumat (23/1/2026) memicu banjir bandang yang menerjang tiga kabupaten sekaligus: Purbalingga, Tegal, dan Pemalang. Bukan sekadar air, banjir ini membawa material kayu gelondongan dan batu-batu raksasa, sebuah indikasi kuat rusaknya ekosistem hulu yang seharusnya menjadi penyangga .

Di kawasan wisata Guci, Tegal, tiga jembatan vital hancur tersapu arus, melumpuhkan akses dan ekonomi wisata setempat . Di Pemalang dan Purbalingga, desa-desa terisolasi, jembatan putus, dan rumah-rumah warga rusak dihantam material longsoran. Dua warga di Desa Bongas, Pemalang, dilaporkan hilang tertimbun longsor saat berada di sawah, menambah daftar korban jiwa dalam rangkaian bencana hidrometeorologi ini .

Benang merah dari kedua bencana ini sangat jelas: krisis lingkungan akibat alih fungsi lahan. Di Cisarua, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti dominasi tanaman sayuran non-endemik asal Amerika Selatan di zona merah longsor, menggantikan tegakan hutan yang kuat . Sementara di Slamet, gelondongan kayu yang hanyut menjadi saksi bisu deforestasi di atap Jawa Tengah.

Duka Januari 2026: Rentetan Bencana Alam Terjang Bandung Barat, Tegal, Sleman, dan Manggarai Timur

Respons cepat ditunjukkan oleh pemerintah. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang meninjau Cisarua langsung menginstruksikan relokasi warga ke tempat yang lebih aman namun tetap dekat dengan sumber mata pencaharian. Senada, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan kebijakan radikal untuk “menghutankan kembali” kawasan terdampak dan melarang hunian di zona bahaya . Upaya teknologi modifikasi cuaca dengan menyemai kapur tohor juga diterapkan untuk menghalau hujan demi memuluskan pencarian korban.

Januari 2026 menjadi pengingat pahit bahwa alam memiliki batas toleransi. Ketika hutan digantikan beton dan kebun sayur di lereng terjal, harga yang harus dibayar seringkali adalah nyawa manusia. Kini, di tengah lumpur yang masih basah, para penyintas menanti realisasi janji pemulihan, sembari berharap “Januari Kelabu” ini tidak terulang di masa depan. By Mukroni

  • Berita Terkait

Duka Januari 2026: Rentetan Bencana Alam Terjang Bandung Barat, Tegal, Sleman, dan Manggarai Timur

Bukan Sekadar Banjir, Indonesia Perlu Pergeseran Strategi Total Hadapi Krisis Hidrometeorologi Nasional

Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam

Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak

Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama

Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera

Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir

Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki

Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?

Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia

Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri

Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C

Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari

Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal

Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

182 Korban Tewas, Operasi Udara Besar-besaran TNI AU Terus Gempur 3 Provinsi Terdampak Banjir-Longsor

39 Tewas, Puluhan Hilang akibat Banjir Bandang dan Longsor di Aceh & Sumut

Aroma yang Membawa Pulang: Ketika Makanan Menyimpan Kenangan

Ketimpangan Wilayah: Bom Waktu Struktural yang Terabaikan di Balik Kemegahan Jabodetabek

Marsinah Resmi Jadi Pahlawan Nasional, Simbol Perjuangan Buruh Perempuan

Investor Global Serukan Penghentian Deforestasi 2030: Krisis Hutan Jadi Ancaman Finansia

MPR Dukung Transisi Energi Berkelanjutan: Awasi Dekarbonisasi 2060 dan Dorong Ekonomi Hijau

Gen Z Mengguncang Dunia: Dari Aktivisme Digital ke Revolusi Jalanan

Perempuan Muslimah Indonesia: Membangun Negeri dengan Pendidikan dan Nilai Kebangsaan

Perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Sasaran Baru, Anggaran Besar, dan Tantangan Tata Kelola

Ngepop Tanpa Mesiu: Ketika Musik dan Kaos Pink Mengguncang Kekuasaan

Dapur Makan Bergizi Gratis Ceger – Cipayung 001 Resmi Mendistribusikan Makanan Bergizi untuk Generasi Sehat

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara GeogrTerafi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

1.835 Spesies Burung: Indonesia, Konser Alam Terbesar di Dunia!

Kartini Kekinian: Dari Jepara ke Luar Angkasa, Emansipasi Tetap Cetar!

Korlantas: Arus Balik Lebaran 2025 Diprediksi Terbagi dalam Beberapa Gelombang 

TSUNAMI PHK DAN DEFLASI: GELOMBANG PEMUDIK LEBARAN 2025 MENYUSUT DRASTIS!

Aktivitas Sesar Sagaing: Pemicu Utama Gempa 7,7 yang Guncang Myanmar dan Asia Tenggara

Tak Mampu Bayar Bus, Pemudik Banjiri Jalan dengan Motor: Tragedi Menanti di Balik Rindu Kampung Halaman ?

Sarjana Cumlaude Disandera PHK ? Indonesia Darurat Pengangguran Beredukasi ?

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *