Jakarta, Kowantaranews.com – Dalam era di mana jari telunjuk bergerak lebih cepat daripada pikiran, masyarakat modern kini terperangkap dalam apa yang disebut sebagai “Peradaban Kecepatan.” Lukas Deni Setiawan, akademisi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dalam esainya menyoroti sebuah paradoks fundamental: kemudahan teknologi yang seharusnya membebaskan manusia, justru menciptakan penjara baru berupa obsesi terhadap kecepatan dan ketakutan akan ketertinggalan. Fenomena ini kini memukul telak Generasi Z (Gen Z), menciptakan krisis kesehatan mental yang berakar pada apa yang oleh filsuf Paul Virilio disebut sebagai “Dromokrasi” atau kekuasaan oleh kecepatan.
Setiawan menggambarkan situasi hari ini sebagai tantangan hakiki untuk “menahan jari agar tak melakukan klik.” Bagi generasi digital, terlambat mengunggah informasi di grup WhatsApp atau media sosial seolah menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya, menjadi yang pertama membagikan informasi memberikan validasi eksistensial semu. Namun, di balik kepuasan instan tersebut, tersembunyi patologi sosial yang serius.
Dromokrasi dan Inersia Kutub
Analisis Setiawan selaras dengan teori Dromologi yang dicetuskan oleh Paul Virilio. Virilio berargumen bahwa sejarah peradaban manusia adalah sejarah percepatan. Hari ini, kita hidup dalam “Dromokrasi,” di mana kecepatan mendikte struktur masyarakat, ekonomi, dan persepsi. Namun, percepatan ini melahirkan kondisi ironis yang disebut “Inersia Kutub” (Polar Inertia). Manusia modern, khususnya Gen Z, mengalami imobilitas fisik yang ekstrem—duduk diam terpaku di depan layar—sementara kesadaran mereka bergerak dengan kecepatan cahaya melintasi berbagai platform digital.
Kondisi “diam tapi bergerak cepat” ini menciptakan disosiasi kognitif. Tubuh yang pasif tidak mampu memproses beban informasi masif yang diterima otak. Akibatnya, muncul kelelahan mental tanpa aktivitas fisik yang berarti. Riset menunjukkan bahwa mindless scrolling atau menggulir layar tanpa tujuan yang jelas berkaitan erat dengan peningkatan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Cahaya biru dari layar menekan melatonin, sementara konten yang terus mengalir memicu lonjakan dopamin sesaat yang diikuti oleh kelelahan neural.
Gen Z dalam Cengkeraman FOMO dan Budaya Viral
Dampak paling nyata dari peradaban kecepatan ini terlihat pada fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan Gen Z. Sebuah studi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengungkapkan bahwa 73% responden Gen Z mengalami kecemasan finansial akibat FOMO. Tekanan untuk mengikuti tren “budaya viral”—mulai dari gaya hidup hingga produk yang dipromosikan di TikTok Shop—mendorong perilaku konsumtif impulsif demi mendapatkan pengakuan sosial.
Yasraf Amir Piliang, dalam bukunya Dunia yang Dilipat, menjelaskan fenomena ini sebagai kompresi ruang dan waktu. Dunia yang luas telah “dilipat” menjadi layar kecil gawai, di mana jarak tidak lagi relevan, namun waktu menjadi sangat padat. Bagi Gen Z, pelipatan ini berarti hilangnya waktu jeda. Tidak ada lagi ruang untuk menunggu atau merenung; segalanya harus terjadi sekarang. Ketika realitas fisik tidak seindah citra hiperrealitas yang mereka lihat di media sosial, timbul perasaan rendah diri (insecure) dan ketidakpuasan mendalam terhadap hidup mereka sendiri.
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Erosi Kemampuan Berpikir Mendalam
Ancaman lain yang tak kalah serius adalah erosi kemampuan kognitif. Maryanne Wolf, penulis Reader, Come Home, memperingatkan bahwa kebiasaan membaca cepat di layar (skimming) merusak sirkuit “membaca mendalam” (deep reading) di otak. Otak manusia menjadi tidak sabar, kehilangan kemampuan untuk menganalisis narasi panjang, berempati, dan berpikir kritis. Fenomena yang sering disebut sebagai Brain Rot ini ditandai dengan rentang perhatian (attention span) yang memendek drastis, membuat generasi muda kesulitan fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan ketekunan.
Rata-rata orang kini mengecek ponsel mereka hingga 96 kali sehari, menciptakan fragmentasi perhatian yang parah. Setiawan dan para ahli sepakat bahwa jika tidak ada intervensi, kita sedang menuju masyarakat yang “miskin makna” di tengah banjir informasi.
Menuju JOMO: Sebuah Perlawanan
Menanggapi krisis ini, muncul wacana tandingan berupa JOMO (Joy of Missing Out). Ini adalah antitesis dari dromokrasi; sebuah keputusan sadar untuk melambat, menikmati ketertinggalan, dan fokus pada momen saat ini. Melawan arus kecepatan bukan berarti menolak teknologi, melainkan merebut kembali kendali atas waktu dan atensi kita. Seperti kritik Charlie Chaplin dalam Modern Times yang relevan hingga kini, manusia tidak boleh membiarkan dirinya menjadi sekrup dalam mesin—atau dalam konteks hari ini, menjadi budak algoritma. Mengembalikan budaya literasi mendalam dan membatasi scrolling tanpa tujuan adalah langkah awal menyelamatkan kesehatan mental generasi penerus dari gilas roda peradaban kecepatan. By Mukroni
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

