Jakarta, Kowantaranews.com – Krisis hidrometeorologi yang melanda Pulau Jawa mencapai titik kritis pada Senin (19/1/2026). Konvergensi antara curah hujan ekstrem, pasang air laut (rob), dan kegagalan infrastruktur pengendali banjir telah melumpuhkan aktivitas di dua provinsi strategis, yakni Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Data akumulatif terbaru mengonfirmasi bahwa lebih dari 100.000 warga terdampak langsung oleh bencana ini, dengan sektor transportasi dan pertanian menanggung kerugian terbesar.
Di Jawa Tengah, situasi kemanusiaan terus memburuk. Kabupaten Pati menjadi wilayah dengan dampak terluas, mencatat 61.606 jiwa terdampak di 84 desa. Pemerintah Kabupaten Pati telah menetapkan status tanggap darurat hingga 23 Januari 2026 menyusul estimasi kerugian ekonomi yang menembus Rp628 miliar, gabungan dari kerusakan infrastruktur dan ribuan hektare sawah yang mengalami gagal panen (puso). Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Kudus, di mana jumlah warga terdampak melonjak drastis menjadi 48.193 jiwa, memaksa ribuan orang mengungsi ke fasilitas publik yang lebih aman.
Salah satu dampak paling melumpuhkan terjadi pada infrastruktur transportasi nasional. Jalur kereta api lintas utara (Pantura) di wilayah Daop 4 Semarang dinyatakan lumpuh total akibat banjir yang merendam rel di petak Pekalongan-Sragi. PT Kereta Api Indonesia (Persero) terpaksa membatalkan 82 perjalanan kereta penumpang dan 16 kereta barang, serta mencatat keterlambatan pada 76 perjalanan lainnya. Kejadian ini dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Bremi dan Meduri di Pekalongan yang tidak kuat menahan debit air, diperparah oleh air pasang yang menghambat aliran sungai ke laut. Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, resmi menetapkan status tanggap darurat pada Minggu (18/1/2026) setelah jumlah pengungsi di kotanya melonjak melebihi 2.000 jiwa dan fasilitas vital seperti Rumah Pompa Tirto terancam berhenti beroperasi.
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Sementara itu, DKI Jakarta menghadapi kelumpuhan parsial akibat banjir urban. Hujan deras yang mengguyur sejak Minggu malam menyebabkan genangan di 48 RT dan puluhan ruas jalan utama pada Senin pagi. Jakarta Barat menjadi wilayah terparah dengan ketinggian air mencapai 60 cm di Kelurahan Kedaung Kali Angke, sementara Jakarta Utara terjepit oleh kombinasi hujan lokal dan banjir rob. Dampaknya, layanan transportasi publik Transjakarta mengalami gangguan masif. Operasional di Koridor 2, 3, 9, 10, dan 12 dihentikan atau dialihkan, sementara 26 rute Mikrotrans setop total karena jalan lingkungan tidak dapat dilalui.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa ancaman belum berakhir. Status “Siaga” bencana hidrometeorologi masih berlaku untuk Jawa Tengah dan Jakarta pada 19-20 Januari 2026, dengan prediksi hujan lebat yang masih akan mengguyur. Merespons hal ini, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terus diintensifkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk mengurangi intensitas hujan dan mencegah eskalasi bencana yang lebih luas. By Mukroni
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

