Jakarta, Kowantaranews.com – Langit Indonesia seolah mengirimkan pesan yang kian keras setiap tahunnya. Namun, di balik riuh rendah berita mengenai tanggul jebol dan genangan air yang melumpuhkan kota, terdapat sebuah kekeliruan fundamental dalam cara bangsa ini memandang musuhnya. Selama puluhan tahun, narasi publik dan kebijakan negara terkunci pada satu kata: “Banjir”. Padahal, banjir hanyalah satu wajah dari monster bermuka dua yang kini mengancam kedaulatan ekonomi dan pangan nasional: Krisis Hidrometeorologi.
Para pakar, data statistik, dan dokumen perencanaan strategis nasional kini menyuarakan alarm yang sama: Indonesia membutuhkan pergeseran strategi total. Kita tidak lagi bisa sekadar berperang melawan “air”, melainkan harus mengelola ketidakseimbangan sistem atmosfer dan hidrologi yang kian ekstrem.
Dominasi Mutlak Bencana Hidrometeorologi
Data berbicara lebih lantang daripada retorika politik. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang merangkum kejadian hingga September 2024, dominasi bencana hidrometeorologi di Indonesia mencapai angka yang mengejutkan, yakni 98,92% dari total kejadian bencana. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah konfirmasi bahwa ancaman terbesar keamanan nasional non-militer saat ini berasal dari interaksi antara cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan.
Jika kita hanya menganggap “banjir” sebagai musuh, strategi kita menjadi sempit: membangun tanggul setinggi mungkin dan pompa sebanyak mungkin. Mentalitas ini disebut sebagai mentalitas “pemadam kebakaran”—hanya sibuk saat kejadian berlangsung. Padahal, musuh yang sebenarnya, hidrometeorologi, menyerang dengan cara yang jauh lebih asimetris. Ia bisa menyerang lewat hujan badai yang menenggelamkan kota (wajah basah/La Nina), namun di musim berikutnya, ia menyerang lewat kekeringan mematikan yang menghanguskan lahan pertanian (wajah kering/El Nino). Strategi “membuang air secepatnya ke laut” yang selama ini diagungkan justru menjadi bumerang saat musim kemarau tiba, meninggalkan tanah retak tanpa cadangan air.
Hantaman pada Piring Nasi Rakyat
Dampak dari kegagalan memahami musuh ini dirasakan langsung di meja makan rakyat Indonesia. Sektor pertanian menjadi korban paling berdarah dalam perang ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan produksi beras nasional yang signifikan pada tahun 2023 sebesar 1,39% akibat El Nino, dan tren penurunan ini berlanjut dengan proyeksi kontraksi produksi sebesar 1,54% atau setara 480 ribu ton pada tahun 2024 .
Krisis ini bukan lagi sekadar genangan di sawah, melainkan guncangan inflasi yang nyata. Kasus banjir besar di Demak dan Kudus pada awal 2024 menjadi studi kasus betapa rapuhnya sistem logistik kita. Banjir di sana tidak hanya membusukkan ribuan hektar padi siap panen, tetapi juga memutus jalur arteri Pantura. Akibatnya terjadi double shock: pasokan beras hilang karena puso, dan distribusi barang terhenti total. Di Pasar Bintoro Demak, harga beras bahkan sempat menyentuh Rp 20.000 per kilogram, sebuah lonjakan harga yang memukul daya beli masyarakat miskin . Ini membuktikan bahwa bencana hidrometeorologi adalah ancaman langsung terhadap ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.
Meninggalkan Beton, Merangkul Alam
Lantas, bagaimana Indonesia harus merespons? Jawabannya terletak pada transformasi dari pendekatan infrastruktur “abu-abu” (beton murni) menuju infrastruktur “hijau-biru” (nature-based solutions).
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam visi jangka panjangnya mulai mengarusutamakan konsep Pembangunan Berketahanan Iklim. Salah satu manifestasi paling ambisius dari pergeseran ini adalah konsep Sponge City atau “Kota Spons” yang kini diadopsi di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan didorong untuk direplikasi di kota-kota lain .
Filosofi Kota Spons menolak cara lama yang melawan air. Sebaliknya, kota dirancang untuk menyerap air hujan seperti spons, menyimpannya di dalam tanah, embung, atau atap hijau, dan melepaskannya perlahan. IKN menargetkan prinsip Zero Delta Q, di mana bangunan tidak boleh menambah beban limpasan air ke saluran drainase kota . Embung-embung di IKN tidak sekadar kolam, tetapi infrastruktur konservasi yang menjamin air baku saat kemarau dan menahan banjir saat hujan. Ini adalah antitesis dari kanal beton Jakarta yang mempercepat air terbuang ke laut.
Di tingkat tapak, adaptasi masyarakat juga menjadi kunci. Petani di wilayah rawan kekeringan seperti Grobogan dan Indramayu mulai beradaptasi dengan mengubah pola tanam atau varietas padi yang lebih tahan kering . Di desa-desa tangguh bencana, masyarakat tidak lagi menunggu bantuan pemerintah, melainkan membangun kemandirian air melalui perlindungan mata air dan pipanisasi mandiri seperti yang terjadi di Desa Tenjolayar .
Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam
Menuju Indonesia Emas yang Tangguh
Pergeseran strategi ini mendesak untuk dilakukan sebelum 2045. Bappenas mengestimasi potensi kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim bisa mencapai Rp 544 triliun pada periode 2020-2024 jika tidak ada intervensi kebijakan yang serius. Biaya untuk “berubah” memang mahal, namun biaya untuk “tidak berubah” jauh lebih mematikan.
Indonesia harus berhenti bersikap reaktif. Menjadikan Bencana Hidrometeorologi sebagai musuh bersama menuntut kita untuk menjadi “perencana” visioner: menjaga hutan di hulu sebagai bendungan alami, membangun kota yang bernapas dan menyerap air, serta memperkuat rantai pasok pangan yang tahan cuaca. Hanya dengan cara itulah, kita tidak sekadar selamat dari banjir, tetapi memenangkan masa depan di tengah iklim yang kian tak menentu. By Mukroni
Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

