Jakarta, Kowantaranews.com – Krisis hidrometeorologi yang melanda Pulau Jawa mencapai puncaknya pada pekan ketiga Januari 2026. Hujan ekstrem yang dipicu oleh aktivitas Monsun Asia yang kuat dan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) Fase 2 telah melumpuhkan denyut nadi perekonomian di provinsi-provinsi kunci. Dari Banten hingga Jawa Timur, bentang alam Pulau Jawa kini dikepung oleh bencana banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi yang tidak hanya memutus konektivitas transportasi, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi ketahanan pangan nasional.
Situasi di Ibu Kota Jakarta dan wilayah penyangganya (Jabodetabek) berada dalam kondisi kritis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menetapkan status “AWAS” untuk wilayah Jakarta dan Banten pada 23 Januari 2026, menyusul curah hujan yang tak henti-hentinya mengguyur. Dampaknya langsung dirasakan pada sektor transportasi massal yang menjadi tulang punggung mobilitas warga. Layanan KRL Commuter Line rute Tanah Abang–Rangkasbitung mengalami kelumpuhan operasional akibat tanah longsor di petak jalan antara Stasiun Maja dan Tigaraksa. Longsoran tanah mengakibatkan tiang Listrik Aliran Atas (LAA) miring dan menjorok ke jalur rel, memaksa PT KAI Commuter menerapkan pola operasi satu jalur bergantian yang memicu penumpukan penumpang luar biasa di stasiun-stasiun transit.
Tidak hanya moda berbasis rel, sistem Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta juga tak berdaya menghadapi genangan. Koridor-koridor vital seperti Koridor 3 (Kalideres-Monas) dan Koridor 10 (Tanjung Priok-PGC) terpaksa memangkas rute atau menghentikan layanan karena jalanan berubah menjadi sungai. Di Jakarta Timur, Jalan DI Panjaitan lumpuh total dengan ketinggian air mencapai 40-60 cm, sementara di Jakarta Barat, Jalan Daan Mogot KM 13 terputus, mematikan akses utama dari Tangerang menuju pusat kota.
Bergerak ke arah timur, bencana geologi menghantam konektivitas antar-wilayah di Jawa Timur. Jalur arteri provinsi yang menghubungkan Malang dan Kediri terputus total akibat tanah longsor masif di Kecamatan Pujon dan Kasembon. Tebing setinggi 30 meter runtuh menutup badan jalan, mengisolasi jalur logistik dan pariwisata vital tersebut. Material longsor setebal tiga meter memaksa petugas menerapkan sistem buka-tutup darurat di tengah cuaca yang masih membahayakan. Di sisi barat pulau, Pelabuhan Merak yang menjadi gerbang logistik Jawa-Sumatera juga terganggu. Gelombang tinggi mencapai 2,5 hingga 4 meter di Selat Sunda memaksa otoritas pelabuhan memberlakukan sistem buka-tutup pelayaran, menyebabkan antrean truk logistik mengular hingga ke jalan tol.
Namun, ancaman yang lebih senyap dan mematikan sedang terjadi di sektor pangan. Jawa Barat, sebagai lumbung padi nasional, menghadapi potensi kegagalan panen yang serius. Di Kabupaten Karawang, banjir merendam 1.928 hektare sawah produktif yang baru saja memasuki masa tanam. Lebih parah lagi, sektor perikanan budidaya hancur lebur dengan 9.054 hektare tambak ikan dan udang tenggelam, menyapu bersih modal para petambak dalam semalam. Di pesisir utara seperti Indramayu dan pesisir selatan seperti Pangandaran, ribuan nelayan memilih “memarkir perahu” dan tidak melaut akibat gelombang ekstrem yang mencapai 4 meter, memicu kelangkaan pasokan ikan dan hilangnya pendapatan harian masyarakat pesisir.
Merespons eskalasi bencana yang mengancam stabilitas nasional ini, Presiden Prabowo Subianto, yang tengah melakukan kunjungan kenegaraan di luar negeri, mengeluarkan instruksi mendesak. Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Presiden memerintahkan pembentukan tim khusus lintas kementerian untuk merancang grand design penanganan banjir Pulau Jawa secara terintegrasi. Presiden menegaskan bahwa pendekatan reaktif tidak lagi memadai. Solusi struktural harus segera dieksekusi, termasuk percepatan proyek Giant Sea Wall yang akan dikelola oleh badan otorita khusus Pantai Utara Jawa. Proyek raksasa yang diperkirakan menelan biaya hingga US$ 80 miliar ini diproyeksikan membentang dari Banten hingga Jawa Timur sebagai benteng terakhir melawan kenaikan muka air laut dan penurunan tanah.
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Sebagai langkah taktis jangka pendek, pemerintah memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dikoordinasikan oleh BNPB, BMKG, dan TNI AU. Operasi penyemaian garam (NaCl) ke awan hujan kini tidak hanya difokuskan di langit Jakarta, tetapi diperluas hingga ke wilayah penyangga seperti Bogor dan Laut Jawa untuk memecah konsentrasi awan sebelum memasuki daratan.
Bencana Januari 2026 ini menjadi “alarm” keras bagi Indonesia. Ketika infrastruktur transportasi lumpuh dan lumbung pangan terendam, krisis ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata terhadap ketahanan ekonomi dan sosial bangsa yang menuntut transformasi kebijakan fundamental. By Mukroni
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

