Jakarta, Kowantaranews.com -Bencana longsor dahsyat yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 24 Januari 2026, menjadi potret kelam manajemen risiko bencana di Indonesia. Peristiwa yang merenggut lebih dari 80 korban jiwa ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan manifestasi dari pengabaian sistemik terhadap rekomendasi teknis dan peta risiko pergerakan tanah yang telah diterbitkan otoritas berwenang.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada tahun 2025, tingkat kepatuhan pemerintah daerah dalam mengintegrasikan peta risiko pergerakan tanah ke dalam penataan kawasan baru mencapai angka 30 persen. Angka ini menunjukkan adanya jurang yang lebar antara ketersediaan data sains dengan implementasi kebijakan di lapangan. Padahal, rekomendasi potensi gerakan tanah dikeluarkan secara rutin setiap bulan untuk memberikan peringatan dini bagi wilayah-wilayah yang masuk dalam zona bahaya.
Tragedi Cisarua: Kronik Pengabaian Sinyal Alam
Tragedi di kaki Gunung Burangrang tersebut terjadi sekitar pukul 02.30 WIB, saat hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 220 milimeter per hari mengguyur kawasan tersebut. Secara teknis, lereng bagian atas lokasi kejadian memiliki kemiringan yang sangat curam, yakni lebih dari 55 derajat, yang tersusun atas material piroklastik lapuk yang tebal dan gembur.
Meskipun PVMBG telah menempatkan wilayah Cisarua dalam Zona Menengah-Tinggi potensi gerakan tanah untuk periode Januari 2026, aktivitas di area tersebut tetap berjalan seperti biasa. Dampaknya sangat fatal; aliran bahan rombakan (debris flow) sepanjang 3,5 kilometer menyapu tiga kampung dan area seluas 26 hektare. Tidak hanya pemukiman warga dan ladang bunga aster yang hancur, namun juga 23 prajurit Marinir yang sedang melaksanakan latihan pra-tugas turut menjadi korban dalam kejadian ini .
Mengapa Angka Kepatuhan Begitu Rendah?
Rendahnya angka kepatuhan yang hanya menyentuh 30 persen ini disebabkan oleh beberapa faktor krusial. Ketua Tim Gerakan Tanah PVMBG menyebutkan bahwa rekomendasi yang diberikan bersifat tidak memaksa atau non-mandatory. Penerapan peta risiko diserahkan sepenuhnya kepada otoritas daerah, yang sering kali lebih memprioritaskan kepentingan ekonomi atau pembangunan fisik jangka pendek daripada keselamatan jangka panjang.
Selain itu, terdapat masalah dalam diseminasi informasi. Sinyal awal bencana sering kali tidak disadari atau diabaikan. Sebagai contoh, di Cisarua, warga sempat mendengar suara dentuman keras pada malam hari sebelum kejadian utama, namun karena kurangnya pemahaman mitigasi, evakuasi mandiri tidak segera dilakukan secara masif.
Pola Berulang: Dari Ciwidey hingga Pangkep
Ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan tidak hanya terjadi di daratan. Kecelakaan laut di Kabupaten Pangkep pada Desember 2025, yang menewaskan tiga orang termasuk seorang camat dan relawan kemanusiaan, juga berakar pada masalah serupa: pengabaian peringatan cuaca dan pelanggaran prosedur kelaiklautan . Kapal jolloro yang digunakan tetap melaut di tengah cuaca ekstrem dengan muatan yang melebihi kapasitas stabilitasnya.
Secara historis, pola pengabaian ini terus berulang. Bencana longsor di Tenjolaya, Ciwidey pada 2010 (45 korban jiwa) dan Gunung Lio, Brebes pada 2018 (18 korban jiwa) memiliki karakteristik serupa, yakni tingginya aktivitas manusia di zona merah yang memiliki kemiringan terjal dan struktur tanah labil . Data menunjukkan bahwa di Majenang pada 2025, faktor pemicu longsor juga berkaitan dengan tingginya air tanah di kawasan hutan yang telah berubah fungsi.
Urgensi Reformasi Mitigasi
Kematian Onel (Imran), seorang relawan medis yang gugur dalam tragedi Pangkep, serta puluhan warga Pasirlangu harus menjadi titik balik bagi pemerintah pusat dan daerah. Para pakar hidrologi dan geologi menegaskan bahwa peran pemerintah sangat vital dalam membangun kesadaran warga agar tangguh bencana. Tanpa adanya kewajiban hukum untuk mematuhi peta risiko PVMBG, pembangunan pemukiman dan aktivitas institusional di area rawan longsor akan terus menjadi bom waktu.
Pemerintah Didesak Intervensi Distribusi Iklan Nasional demi Selamatkan Industri Media
Proses evakuasi dan identifikasi korban di Cisarua yang melibatkan tim DVI Polri pun menemui kendala berat karena material longsor yang masif dan kondisi jenazah yang sulit dikenali, memperpanjang duka keluarga korban . Hal ini kembali menegaskan bahwa biaya pemulihan pasca-bencana jauh lebih besar daripada investasi dalam upaya mitigasi dan kepatuhan terhadap peringatan dini.
Jika pemerintah daerah tetap abai dan tingkat kepatuhan mitigasi tidak segera ditingkatkan melampaui angka 30 persen, maka bencana hidrometeorologi di setiap permulaan tahun akan terus menjadi siklus tragedi yang tidak pernah berakhir. Kepatuhan terhadap sains geologi dan meteorologi bukan lagi sekadar pilihan administrasi, melainkan syarat mutlak untuk menjaga keselamatan nyawa warga negara. By Mukroni
Pemerintah Didesak Intervensi Distribusi Iklan Nasional demi Selamatkan Industri Media
Pers Nasional Desak Perlindungan Hak Cipta dan Kompensasi AI dalam Deklarasi Serang 2026
Jejak 1.000 Tahun Nian Gao: Dari Bekal Musim Dingin Dinasti Liao hingga Simbol Kemakmuran Imlek
Januari Kelabu: Saat Longsor Cisarua dan Banjir Bandang Slamet Menerjang Bersamaan
Duka Januari 2026: Rentetan Bencana Alam Terjang Bandung Barat, Tegal, Sleman, dan Manggarai Timur
Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

