Jakarta, Kowantaranews.com – Akhir pekan keempat di bulan Januari 2026 menjadi momen kelabu bagi bangsa Indonesia. Dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, rentetan bencana hidrometeorologi menghantam berbagai wilayah di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Dipicu oleh cuaca ekstrem akibat interaksi Monsun Asia dan siklus tropis, alam seolah menagih kembali keseimbangannya, meninggalkan jejak kehancuran dari lereng gunung hingga kawasan kampus.
Pusat perhatian nasional tertuju pada tragedi kemanusiaan di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Pada Sabtu dini hari (24/1/2026), sekitar pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga terlelap, longsoran tanah bercampur batu besar dari Gunung Burangrang menerjang permukiman. Sedikitnya 30 rumah rata dengan tanah dalam sekejap. Hingga Minggu (25/1), Tim SAR gabungan telah mengevakuasi delapan jenazah, termasuk warga bernama Sunarya, Jajang, dan Nining. Namun, kecemasan masih menyelimuti keluarga korban karena sebanyak 84 warga lainnya dilaporkan masih hilang, diduga kuat tertimbun material longsor yang tebal. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang meninjau lokasi kejadian, menyoroti alih fungsi lahan sebagai biang keladi; hutan lindung yang seharusnya menjadi penyangga air telah berubah menjadi hamparan kebun sayur yang rapuh.
Bergeser ke Jawa Tengah, kawasan wisata unggulan Guci di Kabupaten Tegal mengalami kelumpuhan total. Banjir bandang yang terjadi pada Sabtu dini hari menyapu infrastruktur vital di kaki Gunung Slamet. Tiga jembatan utama, termasuk Jembatan Pancuran 13 dan Jembatan Pancuran 5, putus total, mengisolasi beberapa titik wisata. Arus air yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan—indikasi kuat adanya penebangan hutan di hulu—menghancurkan kolam pemandian air panas yang ikonik. Di wilayah tetangganya, Kabupaten Pemalang, banjir bandang serupa merenggut satu nyawa. Seorang pria berusia 33 tahun ditemukan tewas terseret arus Sungai Gintung di Desa Sima, sementara ratusan warga di empat desa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, ancaman datang bukan dari air, melainkan angin. Dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Luana menciptakan hembusan angin kencang yang mematikan di Kabupaten Sleman. Tragedi memilukan terjadi di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), tepatnya di Jalan Lembah. Sebuah pohon Randu Alas berdiameter 1,5 meter tumbang menimpa pengendara motor yang sedang melintas pada Sabtu pagi. Insiden ini menewaskan dua orang seketika: seorang kakek berinisial S (66) dan cucunya, A (7), warga Balikpapan yang sedang berada di Yogyakarta. Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah untuk segera mengaudit kesehatan pohon-pohon perindang di kawasan padat aktivitas.
Sementara itu, di wilayah timur Indonesia, duka yang tak kalah dalam dirasakan warga Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Tanah longsor yang dipicu hujan deras sejak Kamis sore mengubur harapan keluarga korban. Dua warga, Theresia Resen (47) dan Yustina Mira (19), dilaporkan hilang tertimbun. Ironisnya, upaya penyelamatan di wilayah ini berjalan lambat akibat kendala logistik yang mencolok. Berbeda dengan penanganan di Pulau Jawa yang didukung alat berat lengkap, pencarian korban di Manggarai Timur pada hari-hari awal terpaksa dilakukan secara manual menggunakan sekop dan linggis. Hal ini disebabkan alat berat di lokasi terkendala bahan bakar minyak (BBM) serta akses jalan yang terputus total.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem ini berkaitan erat dengan pembentukan Siklon Tropis Luana di Samudra Hindia selatan NTT pada Sabtu dini hari. Fenomena ini menarik massa udara basah yang memicu hujan lebat di Jawa dan angin kencang di wilayah sekitarnya. Rangkaian bencana ini menjadi wake-up call bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa kerusakan lingkungan dan krisis iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi hari ini. By Mukroni
Jawa Dikepung Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: Transportasi Lumpuh, Lumbung Pangan Terancam
Darurat Hidrometeorologi: Banjir Rendam Jawa Tengah dan Jakarta, Lebih dari 100.000 Warga Terdampak
Duka Sumatera, Hening di Jawa: Pesta Kembang Api Tahun Baru Diganti Doa Bersama
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

