Jakarta, Kowantaranews.com — Langit di atas pulau Jawa dipastikan akan lebih gelap dari biasanya pada malam pergantian tahun ini. Tidak akan ada pijar warna-warni kembang api yang membelah angkasa, pun tidak ada dentuman petasan yang bersahutan tepat pada pukul 00.00 WIB. Keheningan ini bukan disebabkan oleh krisis energi atau kegagalan logistik, melainkan sebuah keputusan sadar dari pemerintah dan aparat keamanan sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi duka yang sedang menyelimuti Pulau Sumatera.
Menjelang detik-detik pergantian tahun menuju 2026, Indonesia dihadapkan pada paradoks yang memilukan. Di satu sisi terdapat tradisi perayaan, namun di sisi lain, negara sedang berduka hebat. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (30/12/2025) melukiskan skala tragedi yang tak terbantahkan: 1.141 nyawa melayang akibat banjir bandang dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Angka ini belum termasuk 163 orang yang masih dinyatakan hilang dan kemungkinan besar tertimbun di bawah material longsor yang kini telah mengeras.
“Sense of Crisis” di Tanah Pasundan
Di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi mengambil langkah tegas dengan melarang perayaan yang bersifat hura-hura. Gubernur yang dikenal lekat dengan nilai-nilai kebudayaan Sunda ini menegaskan bahwa berpesta di tengah jeritan saudara sebangsa adalah tindakan yang tidak etis. Sebagai gantinya, Dedi menginstruksikan agar malam pergantian tahun diisi dengan kegiatan muhasabah dan doa bersama, yang dipusatkan di Masjid Gedung Sate, Bandung.
“Larangan ini bukan sekadar pengamanan di Jawa Barat, melainkan juga wujud solidaritas bagi korban bencana di Sumatera. Marilah merayakan tahun baru dengan sederhana dan tanpa pesta kembang api,” ujar Dedi Mulyadi.
Senada dengan Gubernur, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat, Inspektur Jenderal Polisi Rudi Setiawan, menekankan pentingnya sense of crisis. Ia menilai euforia berlebihan seperti pesta kembang api dan konvoi kendaraan tidak sepantasnya dilakukan. “Tidak sepantasnya perayaan Tahun Baru dilakukan dengan euforia berlebihan… Kondisi masyarakat Indonesia saat ini, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sedang berduka,” tegas Rudi.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan keamanan. Selain faktor empati, Jawa Barat sendiri sedang dalam bayang-bayang cuaca buruk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan lebat disertai angin kencang akan mengguyur wilayah Bandung Raya, Bogor, hingga pesisir Pangandaran tepat pada malam tahun baru.
Yogyakarta: Nol Toleransi untuk Kembang Api
Langkah lebih drastis diambil di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kapolda DIY, Irjen Pol Anggoro Sukartono, menerapkan kebijakan “nol toleransi” terhadap izin keramaian yang melibatkan bahan peledak komersial. Dalam instruksi terbarunya, Anggoro memastikan seluruh izin pesta kembang api yang sempat diajukan oleh hotel maupun penyelenggara acara telah dicabut secara sepihak demi alasan kemanusiaan.
“Semuanya dicabut. Sejak perintah itu keluar, semua izin dicabut. Polri tidak mengeluarkan izin penggunaan kembang api,” kata Anggoro di Sleman. Ia juga memperingatkan bahwa polisi tidak akan segan mengambil tindakan tegas jika menemukan pihak yang menggelar pesta kembang api secara terorganisasi tanpa mengindahkan larangan ini.
Merespons kebijakan tersebut, industri pariwisata di Yogyakarta menunjukkan adaptabilitas yang tinggi. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyatakan bahwa para pelaku usaha perhotelan telah sepakat mengganti agenda pesta mereka. Dentuman kembang api digantikan dengan acara makan malam amal (charity dinner) dan pengumpulan donasi.
“Donasi tersebut dikumpulkan dari tamu-tamu hotel dan juga manajemen hotel,” ungkap Deddy. Menariknya, meskipun tanpa atraksi visual kembang api, tingkat reservasi hotel di kawasan ring satu seperti Malioboro tetap tinggi, mencapai angka 80 persen menjelang hari H, membuktikan bahwa wisatawan dapat memahami situasi duka nasional ini.
Ancaman Nyata Bibit Siklon 96S
Keputusan untuk meniadakan pesta luar ruangan (outdoor) juga didorong oleh faktor keselamatan yang mendesak. Langit Indonesia saat ini sedang “dikepung” oleh fenomena atmosfer yang berbahaya. BMKG mendeteksi keberadaan Bibit Siklon Tropis 96S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, serta Bibit Siklon 98S di utara Australia.
Interaksi kedua sistem badai ini menciptakan zona pertemuan angin yang memicu pertumbuhan awan hujan ekstrem di sepanjang Pulau Jawa. Untuk malam ini (31/12), BMKG memperkirakan gelombang laut di perairan selatan Jawa Barat hingga DIY dapat mencapai ketinggian 4 meter (kategori Rough Sea), yang sangat berbahaya bagi wisatawan pantai. Oleh karena itu, larangan berkumpul di area terbuka bukan hanya soal empati, tetapi juga strategi mitigasi untuk mencegah jatuhnya korban baru di Pulau Jawa.
Melati Mewangi di Balik Layar: Tim Rahasia yang Bikin Film Indonesia Kian “Menyala”
Refleksi Akhir Tahun
Malam ini, masyarakat Indonesia diajak untuk menundukkan kepala sejenak. Bencana di Sumatera—yang diperparah oleh kerusakan lingkungan akibat deforestasi dan tambang ilegal yang kini mulai ditindak tegas oleh pemerintah —menjadi tamparan keras bagi kesadaran ekologis bangsa.
Saat jarum jam menyentuh angka 12 malam nanti, hening yang tercipta di Bandung dan Yogyakarta akan menjadi pesan yang nyaring: bahwa di atas segala perayaan dan pergantian kalender, rasa kemanusiaan dan persaudaraan sebangsa adalah hal yang paling layak untuk dirayakan. By Mukroni
Hilangnya ‘Golden Time’ dan Polemik Status Bencana Nasional di Tengah Tragedi Sumatera
Sambut Natal 2025, Gereja Serukan Pertobatan Ekologis dan Solidaritas untuk Korban Banjir
Perempuan Penopang Keluarga: Menjaga Keseimbangan Antara Hati dan Rezeki
Hilirisasi Rempah 2045: Ambisi Besar Indonesia atau Sekadar Tumpukan Dokumen?
Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045: Kembali Jadi Raja Rempah Dunia
Berulang, Kita Berkhianat: Gajah Membersihkan Puing Rumahnya Sendiri
Glühwein dan Labirin Kerajinan: Pasar Natal Berlin Tetap Hangat di Suhu 4°C
Sumatra Barat Daya Krisis: Penjarahan Mulai Terjadi, Stok Pangan Tinggal Hitungan Hari
Sumatra Tenggelam: Tambang dan Sawit Ubah Siklon Jadi Pembantaian Massal
Korban Tewas Banjir Bandang Sumatera Capai 188 Orang, 167 Masih Hilang

