• Kam. Jan 22nd, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

ByAdmin

Jan 22, 2026
Dua dari tiga panel lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan J.P Coen. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Sejarah kolonial sering kali mencatat peristiwa besar melalui letusan meriam, namun babak paling krusial dalam Pengepungan Batavia 1628 justru dimulai dalam keheningan. Pada bulan April 1628, empat bulan sebelum perang pecah, Teluk Batavia kedatangan tamu tak biasa: sebuah armada yang dipimpin oleh Kyai Rangga, Bupati Tegal.

Di permukaan, kedatangan Kyai Rangga adalah misi diplomatik resmi. Ia membawa tawaran damai dari Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram yang saat itu menguasai hampir seluruh Pulau Jawa. Kyai Rangga menyampaikan proposal kerjasama untuk menyerang Banten dan meminta surat jalan (pas) agar kapal-kapal Mataram bisa berdagang ke Malaka. Namun, di balik senyum diplomasi dan tawaran persahabatan itu, tersimpan sebuah operasi intelijen dan logistik militer yang dirancang dengan presisi tinggi.

Kecurigaan muncul dari muatan yang dibawa oleh armada Kyai Rangga. Laporan VOC mencatat kedatangan 14 kapal jong yang sarat muatan. Barang yang dibawa bukanlah komoditas mewah selayaknya hadiah antar-raja, melainkan bahan pokok dalam jumlah masif: ribuan karung beras, gula, kelapa, hingga ternak sapi. Bagi Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, ini adalah anomali yang berbahaya. Mengapa Mataram, yang sebelumnya menutup pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara dan melarang ekspor beras ke VOC, tiba-tiba membanjiri Batavia dengan logistik pangan?.

Pertemuan Kyai Rangga Bupati Tegal dengan JP Coen
(Sumber : https://www.ssudjojonocenter.com/product-page/pertemuan-kyai-rangga-dan-j-p-coen-e-money-card?lang=id)

Para sejarawan militer kini menganalisis langkah tersebut sebagai strategi pre-positioning logistik. Sultan Agung menyadari bahwa memobilisasi ribuan pasukan dari pedalaman Mataram menuju Batavia akan menguras energi dan bekal. Oleh karena itu, strategi “Kuda Troya” diterapkan: mengirim logistik terlebih dahulu dengan kedok perdagangan, menimbunnya di gudang-gudang sekitar Batavia, sehingga saat pasukan induk tiba, mereka memiliki suplai makanan yang cukup untuk pengepungan jangka panjang.

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Kyai Rangga memainkan peran ganda yang berbahaya: sebagai diplomat di meja perundingan dan sebagai kepala logistik klandestin di lapangan. Namun, J.P. Coen, yang dikenal paranoid dan cerdik, mencium gelagat ini. Ia menolak mentah-mentah tawaran aliansi melawan Banten dan mempersulit izin bongkar muat, karena meyakini bahwa kapal-kapal tersebut juga bertugas memetakan pertahanan laut VOC.

Penolakan Coen pada April 1628 menjadi titik balik. Diplomasi yang buntu (atau sengaja dibuntukan) ini menjadi casus belli bagi Sultan Agung. Operasi senyap Kyai Rangga segera berubah menjadi perang terbuka. Hanya berselang empat bulan, pada Agustus 1628, Tumenggung Bahureksa tiba dengan armada perang sesungguhnya dan memanfaatkan sisa-sisa jalur logistik yang telah dirintis sebelumnya untuk menggempur Benteng Hollandia. Misi Kyai Rangga menjadi bukti bahwa serangan Mataram bukanlah aksi nekat semata, melainkan puncak dari sebuah operasi besar yang dimulai jauh sebelum genderang perang ditabuh. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *