Jakarta, Kowantaranews.com -Di balik hiruk-pikuk kota Jakarta yang modern, Warung Tegal atau Warteg berdiri sebagai ikon kuliner rakyat yang paling tangguh. Hampir di setiap sudut jalan, etalase kaca berisi puluhan lauk pauk ini menyambut siapa saja, mulai dari kuli bangunan hingga pekerja kantoran. Namun, sedikit yang menyadari bahwa desain fisik warung ini menyimpan kode-kode militer yang berasal dari ekspedisi besar Sultan Agung dari Mataram saat menyerbu Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Warteg bukan sekadar tempat makan murah; ia adalah monumen hidup yang merekam strategi, kedisiplinan, dan kegagalan logistik tentara Mataram di masa lalu.
Akar sejarah ini bermula ketika Sultan Agung mengerahkan ribuan prajurit untuk mengusir VOC dari tanah Jawa. Dalam serangan pertama pada April 1628, Kyai Rangga, yang merupakan Bupati Tegal, dikirim sebagai duta besar sekaligus pengatur logistik utama. Tegal dipilih sebagai depot logistik karena letaknya yang strategis sebagai pelabuhan di pesisir utara Jawa. Namun, upaya pengepungan tersebut gagal total karena gudang-gudang beras di Tegal dan Cirebon dibakar oleh intelijen Belanda. Ratusan prajurit yang tersisa, terutama mereka yang berasal dari kontingen Tegal, merasa gentar untuk kembali ke Mataram karena ancaman hukuman mati dari Sultan bagi komandan yang gagal. Akibatnya, banyak dari mereka yang memilih menetap secara sembunyi-sembunyi di sekitar Batavia, khususnya di wilayah yang kini kita kenal sebagai Matraman dan Tegalan.
Para mantan prajurit ini kemudian mulai berdagang makanan untuk bertahan hidup, membawa filosofi keprajuritan mereka ke dalam desain warung. Salah satu rahasia desain yang paling mencolok adalah keberadaan dua pintu masuk di sisi kiri dan kanan bagian depan warung. Secara fungsional, dua pintu ini memang memudahkan sirkulasi pengunjung di ruang yang sempit agar tidak terjadi penumpukan antrean. Namun, secara simbolis, desain ini merujuk pada tata letak pintu barak atau tenda militer yang menekankan pada efisiensi mobilisasi pasukan. Dalam budaya masyarakat Tegal, dua pintu ini juga dimaknai sebagai “pintu rezeki” yang datang dari dua arah, mencerminkan kepercayaan spiritual Jawa tentang pintu-pintu keberuntungan.
Warna hijau yang mendominasi fasad Warteg juga bukan sekadar pilihan estetika sembarangan. Warna hijau cerah tersebut identik dengan identitas prajurit Mataram dan warna kesuburan agraris. Dalam sejarah militer, warna ini juga sering dikaitkan dengan kedisiplinan angkatan darat atau “army green”. Penggunaan warna yang mencolok ini bertujuan agar warung mudah dikenali dari kejauhan, sama seperti panji-panji pasukan yang harus terlihat jelas di tengah medan perang.
Jejak Sultan Agung dalam Sepiring Nasi Warteg
Sistem pelayanan di Warteg pun mengadopsi budaya barak prajurit. Pelanggan yang datang biasanya langsung menunjuk menu di balik etalase kaca, sebuah praktik yang menyerupai cara prajurit mengambil jatah makanan mereka di barak militer. Ketertiban dalam menyusun piring-piring lauk secara bertingkat mencerminkan struktur organisasi yang rapi dan terencana. Selain itu, keberadaan bangku panjang di dalam Warteg memiliki filosofi egaliter atau kesetaraan. Di atas bangku tersebut, semua orang dari berbagai lapisan sosial duduk berdampingan tanpa sekat, sama seperti para prajurit yang makan bersama di sela-sela pertempuran tanpa memandang pangkat.
Bahkan menu ikonik Warteg seperti orek tempe dan telur asin sebenarnya adalah “rasum” atau jatah makan militer masa lalu. Kedua jenis makanan ini dipilih karena memiliki daya tahan yang lama dan tidak mudah basi, sangat krusial bagi prajurit yang harus menempuh perjalanan darat sejauh 300 mil dari Jawa Tengah menuju Batavia. Dengan demikian, setiap suapan nasi Warteg yang kita nikmati hari ini adalah warisan dari sebuah strategi bertahan hidup yang telah berusia hampir empat abad. Warteg telah bertransformasi dari penyedia logistik perang menjadi penyelamat perut rakyat urban, dengan tetap menjaga rahasia desain yang mengakar pada kedisiplinan prajurit Sultan Agung. By Mukroni
- Berita Terkait :
Jejak Sultan Agung dalam Sepiring Nasi Warteg
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

