Jakarta, Kowantaranews.com – Di balik hiruk-pikuk kemacetan Jalan Matraman Raya yang seakan tidak pernah tidur, tersembunyi narasi besar tentang ambisi kedaulatan dan strategi perang abad ke-17. Bagi ribuan komuter yang setiap hari transit di Halte TransJakarta Matraman dan Halte Tegalan, nama-nama tersebut mungkin hanya dianggap sebagai penanda geografis belaka. Namun, secara historis, kedua lokasi ini adalah saksi bisu dari upaya gigih Kesultanan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo untuk mengusir Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari tanah Jawa pada tahun 1628 dan 1629.
Nama “Matraman” sendiri secara etimologis berakar dari kata “Mataraman,” yang merujuk pada para pengikut atau laskar yang berasal dari Kerajaan Mataram. Perubahan penyebutan ini terjadi karena fenomena sinkope atau penyesuaian lidah masyarakat Betawi yang lebih terbiasa meringkas kata “Mataraman” menjadi “Matraman”. Pada masa itu, kawasan yang kini dipenuhi gedung perkantoran ini masih berupa semak belukar dan rawa-rawa di pinggiran Batavia, yang kemudian diubah menjadi pangkalan militer (basecamp) dan benteng pertahanan bagi pasukan Sultan Agung sebelum melancarkan serangan darat ke jantung kendali VOC.
Berdiri berjejer dengan Matraman, wilayah “Tegalan” menyimpan rahasia tentang strategi ketahanan pangan yang menjadi kunci pengepungan. Nama ini merujuk pada pasukan yang didatangkan khusus dari wilayah Tegal, Jawa Tengah, di bawah komando Bupati Tegal, Kyai Rangga, dan Tumenggung Bahureksa. Mengingat jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia sangat jauh, pasukan tidak mungkin membawa seluruh pasokan makanan untuk pengepungan jangka panjang. Di wilayah inilah, pasukan dari Tegal membuka lahan atau “tegalan” (ladang kering) untuk bercocok tanam dan membangun lumbung padi guna mendukung logistik pangan selama masa perang. Tegal sendiri memang telah ditunjuk oleh Sultan Agung sebagai daerah strategis untuk mengumpulkan beras yang akan dikirim melalui perahu menuju Batavia.
Peristiwa militer yang melatarbelakangi penamaan ini melibatkan dua gelombang serangan besar. Pada serangan pertama tahun 1628, pasukan Mataram menghadapi kendala logistik yang parah setelah pasokan beras dari laut dicegat oleh kapal-kapal perang VOC, yang berujung pada kekalahan tragis. Belajar dari kegagalan tersebut, pada serangan kedua tahun 1629, Sultan Agung memperkuat pangkalan logistik darat di wilayah-wilayah penyangga seperti Tegalan, Matraman, dan Karawang. Meskipun secara militer benteng VOC sulit ditembus, taktik sabotase lingkungan yang dilakukan laskar Mataram dengan mencemari Sungai Ciliwung terbukti memberikan dampak mematikan. Wabah kolera yang timbul dari pencemaran sungai tersebut akhirnya merenggut nyawa Gubernur Jenderal J.P. Coen pada 21 September 1629.
Kini, toponimi Matraman dan Tegalan berfungsi sebagai instrumen preservasi memori bangsa. Nama tempat bukan sekadar label administratif, melainkan artefak budaya dinamis yang merekam identitas, sejarah, dan dinamika perubahan sosial masyarakat di tanah Betawi. Keberadaan halte yang berdekatan ini mengingatkan kita bahwa setiap inci tanah di kawasan tersebut pernah diperjuangkan sebagai garis depan pertahanan kedaulatan. Melalui penamaan yang tetap bertahan hingga era modern ini, sejarah seolah “parkir” secara permanen di tengah modernitas Jakarta, memastikan bahwa narasi perjuangan laskar Mataram tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Kesadaran akan asal-usul ini diharapkan mampu menumbuhkan kebanggaan bagi warga akan warisan sejarah yang mereka lalui setiap hari dalam perjalanan mereka. By Mukroni
- Berita Terkait :
Rahasia Desain Warteg: Menguak Simbol Kedisiplinan Prajurit Mataram di Balik Warung Rakyat
Jejak Sultan Agung dalam Sepiring Nasi Warteg
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

