Jakarta, Kowantaranews.com — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini bukan sekadar deretan angka statistik di layar bursa efek. Dampak depresiasi kurs ini kian nyata merambat ke sektor riil, bahkan mulai menggerus daya beli dan ketahanan pangan di meja makan warga kelas menengah ke bawah yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi.
Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru dan menyentuh kisaran Rp17.784 per dolar AS. Melemahnya mata uang garuda ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve AS (higher-for-longer) yang memicu arus modal keluar (capital outflow), ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengatrol harga minyak mentah dunia, hingga menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Guna meredam volatilitas ini, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah taktis dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25%. Namun, transmisi pelemahan nilai tukar ini telanjur mengalir deras ke rantai pasok pangan nasional yang memiliki ketergantungan impor tinggi.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), komoditas pangan pokok yang sensitif impor langsung mengalami lonjakan harga yang signifikan di pasar tradisional maupun modern. Daging sapi kualitas 1 melambung hingga Rp147.450 per kilogram, sedangkan kualitas 2 berada di kisaran Rp139.050 per kilogram. Selain itu, bawang putih ukuran sedang melonjak hingga Rp38.650 per kilogram, dan gula pasir kualitas premium menyentuh Rp20.020 per kilogram. Kenaikan harga ini memicu efek domino pada industri makanan olahan sekunder dan bahan pangan pokok harian seperti kedelai dan gandum yang sebagian besar dipasok dari luar negeri.
Di tingkat rumah tangga, tekanan ekonomi ini dirasakan sangat mendalam oleh warga. Septiana (36), seorang ibu tiga anak di Bandar Lampung, mengisahkan bagaimana paket ayam goreng ungkep langganannya tiba-tiba naik dari Rp50.000 menjadi Rp55.000. Kenaikan yang tampak kecil bagi sebagian orang ini justru sangat membebani anggaran belanja hariannya. Kini, ia harus menyiapkan minimal Rp100.000 per hari hanya untuk belanja dapur dasar, padahal sebelumnya uang Rp50.000 sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Untuk mengakalinya, Septiana terpaksa memprioritaskan memasak sendiri di rumah, mengurangi frekuensi makan di luar bersama anak-anaknya, serta beralih ke lauk pauk berbiaya rendah seperti telur, tahu, dan tempe di akhir bulan.
Nasib serupa dialami oleh Sundari (36), seorang ibu tunggal dengan dua anak yang bekerja dengan upah setara UMR. Sundari mengaku harus memutar otak agar pendapatannya cukup untuk kebutuhan mutlak seperti pangan, biaya sekolah anak, listrik, dan bensin, tanpa bisa lagi menyisihkan uang untuk menabung atau membeli kebutuhan pribadi non-primer seperti pakaian baru.
Tekanan biaya ini juga mencekik para pelaku UMKM kuliner. Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah mengerek ongkos produksi pangan secara keseluruhan hingga 3% akibat membengkaknya biaya logistik internasional dan tebus bahan baku impor. Berbeda dari korporasi besar yang memiliki kekuatan finansial untuk menimbun persediaan bahan baku hingga tiga bulan, pelaku UMKM rata-rata membeli stok secara harian atau mingguan. Akibatnya, setiap kenaikan kurs harian langsung memukul modal kerja mereka secara instan.
Untuk mengakalinya tanpa harus kehilangan pelanggan yang sensitif terhadap harga, para pelaku UMKM ramai-ramai mengadopsi tren shrinkflation, yaitu memperkecil ukuran dimensi, volume, atau porsi produk namun tetap menjualnya dengan harga yang sama atau sedikit lebih tinggi. Contoh nyata terlihat pada ukuran tempe dan tahu di pasar tradisional yang kini semakin tipis. Ironisnya, selain kedelai impor yang mahal , kenaikan harga kemasan plastik akibat gejolak harga minyak dunia pascakonflik Timur Tengah turut mendongkrak biaya produksi pengrajin tahu-tempe hingga mendorong penyesuaian harga atau ukuran sekitar 10%. Di Bandar Lampung, pengusaha katering seperti Puspa (33) juga harus menghadapi lonjakan harga ayam karkas yang mencapai Rp35.000 hingga Rp38.000 per kg dan minyak goreng kemasan seharga Rp230.000 per karton, yang terpaksa disiasati dengan mengurangi porsi lauk pauk pada menu kateringnya.
Himpitan ekonomi ini diperparah oleh krisis di sektor hulu pertanian. Petani di tingkat bawah harus menghadapi tekanan ganda (double blow): biaya input produksi seperti pupuk non-subsidi (seperti pupuk Nitrea yang melonjak dari Rp350 menjadi Rp600 per unit) dan pestisida naik 20% hingga 30% akibat pelemahan rupiah, sementara hasil panen mereka turun hingga 50% di wilayah sentra pangan seperti Pantura Jawa akibat serangan hama dan cuaca buruk.
Tekanan berlapis ini mempercepat penurunan kesejahteraan masyarakat kelas menengah Indonesia. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk kelas menengah menyusut tajam dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024, sementara kelompok “calon kelas menengah” rentan miskin bertambah menjadi 137,5 juta jiwa. Dengan pertumbuhan pendapatan yang hanya berkisar 1,5%—jauh di bawah laju inflasi pangan—banyak keluarga terpaksa melakukan fenomena “makan tabungan” (dissaving) demi mempertahankan konsumsi harian. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa manajemen keuangan yang bijaksana, masyarakat rentan terjerumus ke dalam lingkaran utang konsumtif seperti pinjaman online ilegal atau rentenir.
Oleh karena itu, di tengah himpitan ekonomi ini, literasi keuangan menjadi katup pengaman yang sangat krusial bagi ketahanan finansial keluarga. Merujuk pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 oleh OJK dan BPS, indeks literasi keuangan nasional telah mencapai 65,43%. Namun, disparitas antara wilayah perkotaan (69,71%) dan perdesaan (59,25%) masih menjadi tantangan yang harus segera dijembatani oleh pemerintah daerah dan otoritas terkait melalui program edukasi keuangan yang lebih merata agar masyarakat mampu merencanakan anggaran belanja secara realistis dan terlindungi dari risiko finansial di masa sulit ini. By Mukroni
- Berita Terkait :
Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026
Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen
BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional
“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump
Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri
Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia
Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia
Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026
BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan
Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global
Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza
Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF
497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional
Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal
Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata
Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza
Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir
Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel
Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas
Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina
Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!
Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’
AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa
Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel
Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian
Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!
DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI
Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam
Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi
Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza
Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump
Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah
Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS
DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!
Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia
MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

