Jakarta, Kowantaranews.com — Badai depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini kian berdampak nyata pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di dalam negeri. Pada pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah mencatat rekor terendah dalam sejarah modern dengan menyentuh kisaran Rp 17.630 hingga Rp 17.737 per dolar AS. Kondisi makroekonomi ini langsung memukul para pelaku industri pangan lokal yang memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap bahan baku impor, salah satunya adalah para perajin tempe di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, Jawa Timur.
Sentra industri Sanan yang terletak di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, dihuni oleh sekitar 600 perajin tempe dan makanan olahan turunannya. Selama puluhan tahun, mayoritas dari mereka sangat bergantung pada kedelai impor asal Amerika Serikat karena kontinuitas pasokan dan standar ukurannya yang stabil. Namun, ketika kurs dolar melonjak, biaya operasional mereka ikut membubung tinggi.
Taryono (60), salah satu perajin di Kampung Sanan, mengeluhkan bahwa harga kedelai impor kini telah menembus angka Rp 10.500 per kilogram (kg), naik signifikan dari kisaran sebelumnya yang berada di angka Rp 9.000 per kg. “Kenaikan harga ini membuat laba bersih kami terpangkas hingga 20 persen,” ujar Taryono. Setiap harinya, ia membutuhkan sekitar 450 kg kedelai untuk berproduksi. Di tengah situasi sulit ini, Taryono juga harus menyalurkan sekitar 20 persen dari total produksinya guna menyokong kebutuhan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara sisanya dijual kembali melalui pedagang perantara (reseller).
Beban perajin semakin berat karena lonjakan harga tidak hanya terjadi pada kedelai. Bahan pembungkus utama, yakni plastik kemasan, mengalami kenaikan harga yang luar biasa. Taryono mencatat, harga plastik yang semula Rp 35.000 per pak kini melonjak menjadi Rp 51.000 per pak. Bahkan, perajin keripik tempe di Sanan seperti Frimiyanti mengungkapkan harga plastik kemasan tertentu di pasaran telah meroket hingga kisaran Rp 56.000 hingga Rp 60.000 per pak, mencerminkan kenaikan biaya kemasan di atas 70 persen. Kenaikan harga plastik global ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku nafta akibat ketegangan geopolitik dan penutupan jalur logistik laut Selat Hormuz di Timur Tengah.
Hal senada dirasakan oleh Muhammad Muhajir, perajin skala kecil di Sanan yang mengolah sekitar 50 kg kedelai setiap harinya. Dengan harga bahan baku saat ini sebesar Rp 10.500 per kg, Muhajir harus merogoh kocek lebih dalam untuk mempertahankan produksinya yang menghasilkan sekitar 46 papan tempe per hari. Meskipun ia memperoleh omzet harian sekitar Rp 782.000 dengan harga jual Rp 17.000 per papan, keuntungan bersih yang didapatkannya kian menipis karena ia masih harus membayar jasa penggilingan pihak ketiga dan menanggung biaya transportasi harian.
Sebagai strategi bertahan, para perajin terpaksa mengambil langkah tak populer tanpa berani menaikkan harga jual produk agar tidak kehilangan pembeli. Ami, perajin tempe lainnya, memilih menyiasati lonjakan harga bahan baku dengan mengurangi ketebalan atau memperkecil ukuran tempe. “Ukurannya terpaksa kami buat lebih tipis,” keluh Ami, yang menyebut harga kedelai di tingkat pengecer tertentu bahkan sempat menyentuh Rp 10.900 per kg. Sementara itu, bagi produsen keripik tempe seperti Frimiyanti, mereka memilih mengecilkan sedikit ukuran plastik pembungkus tanpa mengurangi kualitas rasa keripik di dalamnya.
Kunjungi Nganjuk, Presiden Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih dan Museum Marsinah
Di tingkat pasar, kelesuan daya beli masyarakat juga mulai terasa. Iwan Hariyono, pedagang tempe di Pasar Besar Kota Malang, melaporkan bahwa volume dagangannya menurun dari biasanya menghabiskan 400 kg kedelai per hari menjadi hanya sekitar 300 hingga 350 kg saja. Penurunan serapan ini turut dibenarkan oleh Ita, pengurus koperasi kedelai Primkopti Bangkit Usaha di Kampung Sanan. Permintaan kedelai dari para anggota koperasi yang semula mencapai 5 ton per hari kini menyusut menjadi 4 ton per hari selama satu bulan terakhir.
Menanggapi situasi ini, ekonom dari Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, mengingatkan bahwa gejolak nilai tukar rupiah ini merupakan ancaman nyata bagi ketahanan pangan masyarakat kelas bawah. Ketergantungan impor pangan membuat sektor usaha mikro sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Senada dengan hal tersebut, ekonom dari Universitas Ciputra, Romauli Nainggolan, memperingatkan bahwa skema “menyerap sendiri beban biaya” (absorbing the financial hit) yang dilakukan oleh para perajin tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang. Jika rupiah tidak kunjung menguat, cepat atau lambat perajin terpaksa harus menaikkan harga jual produk ke tangan konsumen demi menghindari gulung tikar.
Di sisi lain, pemerintah pusat mulai berupaya meredam gejolak ini dengan mengeluarkan kebijakan fiskal taktis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menetapkan tarif bea masuk 0 persen selama enam bulan sejak Mei 2026 untuk produk turunan plastik, termasuk polipropilena dan polietilena, guna menekan harga kemasan plastik di tingkat industri nasional. Langkah darurat ini diharapkan dapat segera memberikan sedikit ruang napas bagi ratusan perajin tempe dan keripik tempe di Malang yang tengah terjepit di tengah krisis global. By Mukroni
- Berita Terkait :
Kunjungi Nganjuk, Presiden Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih dan Museum Marsinah
Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Lebaran 2025 Turun Menjadi 154,6 Juta Orang
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik, Industri Mamin Nasional Tertekan
Strategi Industri Ritel 2026: Mengoptimalkan Momentum Ramadan untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Survei LPEM UI: Mayoritas Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Memburuk di Triwulan I-2026
Pangan Mahal dan Mudik Kolosal: Tantangan Nasional Menjelang Idul Fitri 1447 H
Pangan dalam Cengkeraman Perang dan Cuaca Ekstrem 2026
Tergerusnya Produksi Beras Nasional di Kuartal I-2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas
Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang
Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

