Jakarta, Kowantaranews.com – Sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang, namun di tanah Tegal, sejarah justru diukir oleh mereka yang bertahan dari kekalahan. Di balik kesederhanaan warung makan berukuran 3×4 meter yang tersebar di gang-gang sempit Jakarta, tersimpan warisan epik dari seorang tokoh bernama Kyai Rangga. Ia bukanlah selebriti kuliner, melainkan figur sentral dalam salah satu tragedi militer terbesar di Nusantara: Pengepungan Batavia tahun 1628.
Bagaimana mungkin sebuah operasi militer yang gagal total dapat melahirkan “Pahlawan Kuliner Rakyat”? Jawabannya tersembunyi dalam kemampuan adaptasi manusia menghadapi krisis pangan.
Logistik yang Menjadi Abu
Pada tahun 1628, Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram meluncurkan ambisi besarnya untuk mengusir VOC dari Batavia. Dalam papan catur strategi perang ini, Tegal dipilih sebagai lumbung logistik utama. Kyai Rangga, yang dalam historiografi lokal dikenal sebagai Bupati Tegal atau pejabat tinggi intenden, diberi mandat sakral: mengumpulkan upeti beras dari petani untuk memberi makan puluhan ribu prajurit di bawah panji Tumenggung Bahureksa.
Namun, perang tidak berjalan sesuai rencana. Mata-mata Belanda berhasil mengendus simpul logistik ini. Sebelum pasukan Mataram sempat melancarkan serangan penuh, armada laut VOC melakukan manuver senyap dan mematikan. Mereka membombardir pelabuhan Tegal dan membakar gudang-gudang beras hingga rata dengan tanah. Langit pantai utara memerah oleh api, dan harapan kemenangan Mataram pun menjadi abu.
Inovasi dari Rasa Lapar
Di tengah puing-puing lumbung yang terbakar, Kyai Rangga menghadapi musuh yang lebih menakutkan daripada senapan VOC: kelaparan. Pasukan tidak bisa bertempur dengan perut kosong, dan mereka tidak bisa pulang sebagai pecundang. Dalam situasi do or die inilah, Kyai Rangga dan dapur umum pasukan melakukan improvisasi yang kelak mengubah wajah kuliner Indonesia.
Bahan pangan yang tersisa harus diolah agar tahan lama tanpa teknologi pendingin. Tempe, makanan rakyat yang sudah dikenal sejak era itu (tercatat dalam Serat Centhini), diolah dengan teknik pengawetan karamelisasi. Digoreng kering dengan gula merah dan rempah, jadilah Orek Tempe—lauk yang awet berminggu-minggu di dalam ransum prajurit. Sementara itu, telur itik diasinkan dengan abu dan garam untuk menjaga kadar proteinnya. Menu-menu ini lahir bukan dari keinginan untuk memanjakan lidah, melainkan dari desakan untuk bertahan hidup.
Transformasi Prajurit Menjadi Pelayan Rakyat
Pasca-kegagalan pengepungan, ribuan prajurit Mataram memilih untuk tidak kembali ke Keraton Yogyakarta demi menghindari hukuman mati. Mereka melakukan demobilisasi massal di Tegal, khususnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sidakaton dan Desa Sidapurna (yang secara harfiah bisa diartikan “Menjadi Sempurna” atau tempat peristirahatan terakhir).
Di desa-desa inilah, “warisan” Kyai Rangga berinkubasi selama tiga abad. Para mantan prajurit ini mewariskan etos kerja keras, disiplin ala militer, dan resep survival mereka kepada anak cucu. Ketika Jakarta mulai membangun dirinya pada tahun 1950-an, keturunan pasukan ini merasa terpanggil kembali ke “medan perang”. Namun, kali ini misinya berbeda.
Mereka datang ke Jakarta bukan untuk membunuh musuh, melainkan untuk “menyelamatkan” perut kaum pekerja yang membangun ibu kota. Warung Tegal (Warteg) lahir sebagai solusi logistik bagi rakyat kecil. Ciri khas warung dengan dua pintu di samping kanan-kiri konon mengadopsi filosofi barak militer atau kepemimpinan, dan warna hijau yang dominan sering dikaitkan dengan nuansa prajurit masa lampau.
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Epilog: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Hari ini, Kyai Rangga mungkin tidak memiliki patung di alun-alun Jakarta. Namun, monumen keberhasilannya berdiri di setiap sudut kota dalam bentuk Warteg. Kegagalannya menyediakan logistik perang di tahun 1628 telah ditebus dengan keberhasilan anak cucu ideologisnya menyediakan logistik pembangunan bagi jutaan rakyat Indonesia.
Dalam setiap suapan nasi orek tempe seharga belasan ribu rupiah, kita merayakan ketangguhan bangsa ini. Warteg mengajarkan kita bahwa kekalahan militer hanyalah satu babak dalam sejarah; babak selanjutnya adalah bagaimana bangkit, beradaptasi, dan memberi manfaat. Kyai Rangga, sang koordinator logistik yang gagal itu, pada akhirnya berhasil menjadi pahlawan yang sesungguhnya—bukan dengan memenangkan perang, tetapi dengan memastikan rakyat tidak kelaparan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

