• Ming. Feb 22nd, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Dari Medan Perang ke Meja Makan: Rahasia Hubungan Sultan Agung dan Lahirnya Warteg

ByAdmin

Feb 21, 2026
Dua dari tiga panel lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan J.P Coen. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Siapa yang menyangka bahwa di balik kesederhanaan sepiring nasi dengan orek tempe dan telur asin di sudut-sudut jalan Jakarta, tersimpan memori peperangan besar dari abad ke-17? Warung Tegal, atau yang lebih akrab kita sebut Warteg, bukan sekadar tempat makan murah bagi kaum urban. Ia adalah warisan strategi logistik Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja terbesar Kesultanan Mataram Islam, yang bertransformasi menjadi penyelamat perut jutaan rakyat Indonesia.

Tegal: Dapur Raksasa Sultan Agung

Kisah ini bermula pada tahun 1628 dan 1629, ketika Sultan Agung berambisi mengusir Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari Batavia demi kedaulatan tanah Jawa. Menyadari jarak yang sangat jauh antara ibu kota Mataram di pedalaman Jawa Tengah dengan Batavia, Sultan Agung menunjuk wilayah Tegal sebagai “titik logistik” atau lumbung padi utama.

Bupati Tegal saat itu, Kyai Rangga, menerima mandat berat: menyiapkan perbekalan bagi ratusan ribu prajurit yang berjalan kaki melintasi jalur utara. Rakyat Tegal pun dikerahkan menjadi juru masak logistik militer. Menu yang diciptakan harus memenuhi syarat ketat: murah, bergizi, dan yang terpenting, awet tidak mudah basi. Dari sinilah lahir inovasi kuliner seperti orek tempe kering dan telur asin yang hingga kini menjadi menu wajib di etalase Warteg.

Kegagalan Militer yang Membuahkan Diaspora

Namun, rencana besar itu mengalami guncangan hebat pada serangan kedua tahun 1629. VOC berhasil menangkap mata-mata Mataram dan mengetahui lokasi lumbung-lumbung padi di Tegal serta Cirebon. Dalam sebuah aksi sabotase yang fatal, kapal-kapal perang VOC membakar habis cadangan beras tersebut. Pasukan Mataram yang tiba di medan tempur menghadapi ancaman kelaparan dan wabah penyakit.

Pasca kekalahan, ribuan prajurit Mataram berada dalam dilema. Kembali ke Mataram berarti menghadapi hukuman berat atas kegagalan perang. Akhirnya, banyak dari mereka memilih menetap di wilayah pesisir (Tegal, Brebes, Pemalang) dan sebagian lainnya bertahan di sekitar Batavia. Para mantan prajurit ini beralih profesi menjadi petani padi, namun keterampilan mengelola makanan secara massal dan efisien tetap mereka jaga secara turun-temurun.

Penyelamat Perut di Era “Proyek Mercusuar”

Lompatan sejarah terjadi pada tahun 1950-an hingga 1960-an. Saat Presiden Soekarno menggencarkan pembangunan besar-besaran atau “proyek mercusuar” di Jakarta—seperti pembangunan Monas dan Gelora Bung Karno—arus urbanisasi dari Tegal meledak. Ribuan tenaga kerja kasar membutuhkan makanan yang cepat, murah, dan mengenyangkan.

Keturunan para pengelola logistik Mataram ini melihat peluang emas. Mereka mulai membuka warung-warung makan di dekat lokasi proyek. Menunya tetap setia pada akar sejarahnya: masakan rumah sederhana yang praktis. Sejak saat itu, istilah “Warteg” mulai membumi di Jakarta sebagai simbol kemandirian ekonomi masyarakat Tegal.

Menelusuri Jejak “Anak Kandung Revolusi”: Sejarah Panjang Akulturasi dalam Sebutir Telur Asin Brebes

Filosofi Militer di Balik Dinding Warteg

Hingga kini, sisa-sisa disiplin militer Mataram masih bisa kita saksikan secara visual di setiap bangunan Warteg. Desain dua pintu yang ikonik melambangkan prinsip kepemimpinan dan kemudahan sirkulasi prajurit. Penggunaan cat berwarna hijau dominan merujuk pada identitas warna keprajuritan dan perlindungan. Bahkan sistem pelayanan di mana pembeli menunjuk menu di balik kaca atau mengambil sendiri, disebut-sebut menyerupai budaya makan di barak-barak militer masa lampau yang harus serba cepat dan tertata.

Kini, Warteg telah berevolusi menjadi bisnis waralaba modern seperti grup Kharisma Bahari, namun esensinya tetap sama. Ia adalah saksi bisu sejarah panjang Indonesia: bermula dari strategi perang seorang Sultan, bertahan melalui sabotase kolonial, dan akhirnya menjadi pahlawan kuliner yang menjaga ketahanan pangan masyarakat urban hingga hari ini. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Menelusuri Jejak “Anak Kandung Revolusi”: Sejarah Panjang Akulturasi dalam Sebutir Telur Asin Brebes

Jejak Logistik Sultan Agung: Rahasia di Balik Nama Halte Matraman dan Tegalan

Kisah Kyai Rangga dari Tegal: Diplomat Sultan Agung yang Membawa Cikal Bakal Budaya Kuliner ke Batavia

Rahasia Desain Warteg: Menguak Simbol Kedisiplinan Prajurit Mataram di Balik Warung Rakyat

Jejak Sultan Agung dalam Sepiring Nasi Warteg

Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17

Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal

Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal

Bertahan Hidup di Tanah Asing: Kisah Pasukan Sultan Agung yang Terdampar dan Melahirkan Legenda Warteg

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *