Jakarta, Kowantaranews.com -Warteg (Warung Tegal) sering kali dianggap sebagai penyelamat kantong di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Namun, di balik piring-piring yang bertumpuk dan etalase kaca yang ikonik, tersimpan narasi besar tentang ambisi kekaisaran, kegagalan logistik, dan daya tahan rakyat jelata. Fenomena kuliner ini bukanlah sekadar bisnis modern bagi kaum urban, melainkan kelanjutan dari strategi militer Kesultanan Mataram yang telah berusia lebih dari 400 tahun.
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-17, Sultan Agung Hanyokrokusumo memiliki visi besar untuk menyatukan Jawa dan mengusir VOC dari Batavia. Serangan pertama pada tahun 1628 berakhir dengan kekalahan telak, bukan karena kurangnya keberanian prajurit, melainkan karena krisis pangan yang melanda pasukan selama perjalanan jauh dari Jawa Tengah. Belajar dari kesalahan tersebut, Sultan Agung mempersiapkan serangan kedua pada tahun 1629 dengan pendekatan yang jauh lebih terencana, terutama dalam penguatan rantai pasok logistik di sepanjang jalur Pantai Utara (Pantura).
Peran krusial dalam arsitektur pangan ini dipegang oleh Kyai Rangga, Bupati Tegal saat itu. Tegal dipilih sebagai depot logistik utama karena lokasinya yang strategis sebagai pusat mobilisasi pasukan. Di bawah perintah Sultan Agung, Kyai Rangga mengoordinasikan pembangunan lumbung-lumbung padi masif di wilayah Tegal dan Cirebon untuk menjamin ketersediaan makanan bagi puluhan ribu prajurit. Selain beras, menu perbekalan dipersiapkan secara spesifik. Rakyat Tegal diminta menyiapkan makanan yang tahan lama, murah, dan praktis, seperti telur asin dan tempe orek, agar prajurit tetap memiliki asupan protein tanpa takut makanan menjadi basi di tengah medan yang berat.
Strategi lumbung ini juga diperluas hingga ke Karawang, yang dijadikan sebagai “basis depan” logistik. Sultan Agung mengutus para pemimpin cakap untuk membuka lahan hutan menjadi persawahan produktif guna mendukung pengepungan jangka panjang. Transformasi Karawang dari hutan belantara menjadi pusat produksi padi militer ini kelak mengukuhkan identitas wilayah tersebut sebagai lumbung padi nasional hingga masa modern.
Namun, strategi logistik yang brilian ini harus berhadapan dengan spionase VOC yang ketat. Melalui pengkhianatan dan penangkapan mata-mata bernama Warga, lokasi gudang-gudang beras rahasia Mataram akhirnya terbongkar. Pada Juli 1629, armada VOC menyerang Tegal dan Cirebon, membakar habis sekitar 4.000 pikul beras, menghancurkan 200 perahu, serta meratakan ratusan rumah penduduk. Kehilangan perbekalan ini menentukan nasib pasukan Mataram bahkan sebelum mereka mencapai tembok benteng Batavia, di mana kelaparan dan wabah penyakit akhirnya memaksa sisa-sisa pasukan untuk mundur.
Pasca-mundurnya pasukan, banyak prajurit Mataram yang memilih untuk tidak kembali ke Jawa Tengah dan tetap menetap di pinggiran Batavia. Mereka mulai menjajakan sisa bekal perjalanan dan keahlian memasak mereka kepada penduduk sekitar, yang kemudian menjadi cikal bakal awal usaha warung makan rakyat di wilayah tersebut. Warisan ini mengalami kebangkitan besar pada era 1950-an dan 1960-an saat Jakarta mulai dibangun secara masif sebagai pusat Politik Mercusuar Presiden Soekarno. Proyek-proyek besar seperti Monumen Nasional (Monas) dan Gelora Bung Karno mendatangkan gelombang buruh konstruksi yang membutuhkan makanan murah, yang kemudian dipenuhi oleh para perantau asal Tegal dengan membuka warung-warung makan di lokasi proyek.
Dari Medan Perang ke Meja Makan: Rahasia Hubungan Sultan Agung dan Lahirnya Warteg
Kaitan antara Warteg dan militer Mataram juga terlihat dari estetika bangunannya. Penggunaan cat berwarna hijau yang identik dengan warna prajurit, serta sistem pelayanan di mana pelanggan memilih sendiri menu, disebut-sebut menyerupai gaya pengambilan jatah makanan di barak-barak militer masa lalu. Selain itu, tradisi minum teh poci atau “moci” yang menyertai Warteg memberikan dimensi filosofis tersendiri. Filosofi gula batu yang dibiarkan larut tanpa diaduk mencerminkan kesabaran manusia dalam menghadapi pahitnya hidup demi meraih manis di akhir—sebuah nilai resiliensi yang dipegang teguh oleh para perantau Tegal dalam menaklukkan kerasnya ibu kota.
Hingga kini, Warteg tetap menjadi pilar ketahanan pangan urban yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman. Di tengah kenaikan harga pangan dan krisis ekonomi, warung-warung ini tetap berdiri sebagai oase bagi para pekerja yang membangun kota dengan peluh mereka. Transformasi dari lumbung padi Sultan Agung hingga menjadi jaringan ekonomi mikro modern membuktikan bahwa Warteg adalah prasasti perjuangan yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menjaga solidaritas dan marwah kedaulatan pangan rakyat kecil. By Mukroni
- Berita Terkait :
Dari Medan Perang ke Meja Makan: Rahasia Hubungan Sultan Agung dan Lahirnya Warteg
Menelusuri Jejak “Anak Kandung Revolusi”: Sejarah Panjang Akulturasi dalam Sebutir Telur Asin Brebes
Jejak Logistik Sultan Agung: Rahasia di Balik Nama Halte Matraman dan Tegalan
Rahasia Desain Warteg: Menguak Simbol Kedisiplinan Prajurit Mataram di Balik Warung Rakyat
Jejak Sultan Agung dalam Sepiring Nasi Warteg
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

