• Jum. Feb 20th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Menelusuri Jejak “Anak Kandung Revolusi”: Sejarah Panjang Akulturasi dalam Sebutir Telur Asin Brebes

ByAdmin

Feb 20, 2026
Lokasi gerai penjualan oleh-oleh di dalam gedung eks Pabrik Gula Banjaratma yang kini menjadi Rest Area KM 260B Jalan Tol Trans Jawa di Ruas Pejagan-Pemalang-Brebes-Cirebon. Foto diambil pada 31 Desember 2022. Sumber: www.kompas.com
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Di balik cangkang biru “si bulat masir” dari Kabupaten Brebes, tersimpan narasi besar tentang ketahanan ekonomi, toleransi sosiokultural, dan sejarah perjuangan bangsa. Lauk yang kini menjadi identitas kuliner kebanggaan Jawa Tengah ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2020. Pengakuan ini bukan sekadar label, melainkan penghormatan terhadap evolusi telur asin yang bermula dari altar sembahyang hingga menjadi instrumen diplomasi budaya di era modern.

Akar Tradisi dan Altar Persembahan

Sejarah telur asin di Brebes tidak dapat dilepaskan dari komunitas peranakan Tionghoa yang telah lama menetap di pesisir utara. Jauh sebelum menjadi komoditas massal, telur asin merupakan benda sakral dalam ritual kepercayaan. Pada abad ke-19, masyarakat peranakan menggunakan telur asin sebagai sesaji atau persembahan dalam upacara sembahyang yang ditujukan kepada Dewa Bumi (Tu Di Gong) sebagai simbol syukur dan permohonan kemakmuran.

Selain fungsi ritual, teknik pengasinan ini pada awalnya adalah bentuk pengetahuan tradisional dalam mengawetkan makanan. Bagi warga peranakan yang sering melakukan perjalanan jauh, telur yang diasinkan menjadi bekal praktis yang tahan lama tanpa perlu pengawet kimia. Catatan Syahbandar Pelabuhan Tegal pada abad ke-19 bahkan telah mencatat telur itik sebagai komoditas perdagangan penting yang dikirim menuju Batavia bersama beras dan kayu jati.

“Anak Kandung Revolusi” dan Strategi Bertahan Hidup

Istilah “anak kandung revolusi” melekat pada telur asin Brebes karena momentum komersialisasinya dipicu oleh masa-masa sulit pasca-kemerdekaan. Selama periode Revolusi Fisik (1945-1949), khususnya saat Agresi Militer Belanda, banyak keluarga peranakan Tionghoa di Brebes mengalami tekanan ekonomi hebat dan kehilangan harta benda. Dalam kondisi terdesak untuk bertahan hidup (survival strategy), mereka mulai memproduksi telur asin yang semula hanya untuk konsumsi domestik atau ritual menjadi barang dagangan massal.

Keberadaan Brebes yang strategis di jalur Pantura menjadikannya titik perlintasan utama bagi para tentara dan pejuang kemerdekaan. Telur asin pun menjadi pilihan bekal favorit para pejuang karena sifatnya yang awet, bergizi tinggi, dan mudah dibawa ke medan perang. Sejarah mencatat bahwa komersialisasi secara terstruktur dimulai pada akhir 1950-an, dipelopori oleh keluarga perintis seperti Wangsa Tjoa (Tjoa Kiat Hien dan istrinya Niati) serta Lina Pandi, yang meneruskan tradisi dari In Tjiauw Seng dan Tan Po Nio.

Simbol Inklusivitas dan Ketahanan Ekonomi

Memasuki dekade 1960-an, pengetahuan tentang teknik pengasinan mulai menyebar ke masyarakat lokal (pribumi). Banyak pekerja lokal yang sebelumnya bekerja di rumah produksi keluarga Tionghoa kemudian membuka usaha mandiri. Fenomena ini menciptakan gelombang mobilitas sosial dan transformasi ekonomi kerakyatan yang inklusif. Telur asin menjadi titik temu di mana etnisitas tidak lagi menjadi pembatas dalam berwirausaha, melainkan menjadi kerja kolegial yang menjunjung tinggi toleransi dan kohesi sosial.

Kini, industri ini telah tumbuh menjadi pilar ekonomi mikro yang masif. Data menunjukkan terdapat ratusan sentra produksi di Brebes yang mampu menghasilkan jutaan butir telur setiap bulannya, memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah . Kualitas telur asin Brebes yang “masir” (bertekstur pasir) dan mengeluarkan minyak jingga pekat tetap terjaga berkat penggunaan telur itik pelari (Anas platyrhynchos domesticus) yang dibudidayakan secara lokal dengan pola makan khusus dari karang laut.

Jejak Logistik Sultan Agung: Rahasia di Balik Nama Halte Matraman dan Tegalan

Diplomasi Kuliner di Era Modern

Sebagai living heritage, telur asin Brebes terus beradaptasi. Tak hanya varian rebus original, kini hadir inovasi telur asin bakar, oven, hingga olahan modern seperti kerupuk dan saus telur asin untuk menjangkau pasar milenial dan internasional . Semangat berbagi juga ditunjukkan melalui aksi kemanusiaan; pada Desember 2025 lalu, Pemerintah Kabupaten Brebes mengirimkan lebih dari 15.000 butir telur asin untuk korban bencana di Sumatera dan Aceh sebagai wujud solidaritas sesama anak bangsa .

Puncak perayaan terhadap identitas ini baru saja berlangsung dalam Festival Telur Asin 2026 yang digelar meriah di Alun-alun Brebes pada Januari 2026 untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten ke-348 . Melalui status WBTb, pemerintah daerah berkomitmen terus melakukan pelestarian, termasuk melalui edukasi pembuatan telur asin secara tradisional bagi siswa sekolah agar warisan “anak kandung revolusi” ini tetap lestari di tangan generasi mendatang. Telur asin Brebes adalah bukti nyata bahwa kuliner sederhana mampu merajut sejarah panjang akulturasi dan menjadi simbol kebanggaan nasional yang tak lekang oleh zaman. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Jejak Logistik Sultan Agung: Rahasia di Balik Nama Halte Matraman dan Tegalan

Kisah Kyai Rangga dari Tegal: Diplomat Sultan Agung yang Membawa Cikal Bakal Budaya Kuliner ke Batavia

Rahasia Desain Warteg: Menguak Simbol Kedisiplinan Prajurit Mataram di Balik Warung Rakyat

Jejak Sultan Agung dalam Sepiring Nasi Warteg

Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17

Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal

Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal

Bertahan Hidup di Tanah Asing: Kisah Pasukan Sultan Agung yang Terdampar dan Melahirkan Legenda Warteg

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *