• Ming. Jan 25th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628

ByAdmin

Jan 25, 2026
Pengepungan Batavia oleh Sultan Mataram. Pada tahun 1628 kota VOC di Batavia menjadi korban Sultan Agoeng dari ambisi Mataram untuk menaklukkan. Dengan menaklukan Batavia, sultan akan memperoleh hampir seluruh pulau Jawa. Akibatnya masa depan VOC di Jawa tergantung pada keseimbangan. FOTO/Wikipedia
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Jika Anda melintasi Kecamatan Dukuhturi di Kabupaten Tegal, pandangan Anda mungkin akan terhenti oleh sebuah pemandangan yang kontras dan mencengangkan. Di tengah hamparan sawah hijau dan suasana pedesaan yang tenang, berjejer puluhan rumah mewah bertingkat dua, lengkap dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi dan pagar besi tempa yang megah. Ini bukan kawasan permukiman pejabat negara atau kompleks ekspatriat, melainkan desa Sidakaton dan Sidapurna—dua desa yang secara kultural dijuluki sebagai “Markas Besar” para pengusaha Warung Tegal (Warteg).

Penduduk setempat menyebut mereka “Jenderal Warteg”. Julukan ini bukan tanpa alasan. Di ibu kota Jakarta, mereka adalah komandan dari ribuan outlet kuliner yang memberi makan jutaan pekerja setiap harinya. Namun, kemewahan yang terpampang di desa ini memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dan getir daripada sekadar kesuksesan bisnis kuliner era modern. Jejak “para jenderal” ini menelusuri garis darah hingga ke tahun 1628, pada masa kegelapan logistik pasukan Kesultanan Mataram.

Jejak Pelarian Pasukan 1628

Sejarah lisan yang dituturkan oleh sesepuh desa seperti Mbah Datar dan catatan lokal menyebutkan bahwa Sidapurna memiliki kaitan erat dengan sosok Mbah Sampurna (Jamaludin), seorang tokoh sakti yang diyakini sebagai sisa laskar anti-Belanda atau Mataram. Nama “Sidapurna” sendiri sering dimaknai sebagai “Sida Sempurna” (Menjadi Sempurna/Wafat), merujuk pada gugurnya atau menetapnya para pejuang di tanah ini.

Pada tahun 1628, ketika Sultan Agung Hanyokrokusumo melancarkan serangan “Ganyang Batavia”, Tegal menjadi titik kumpul logistik. Namun, ketika armada VOC membakar lumbung-lumbung padi di pesisir, ribuan pasukan di bawah komando Tumenggung Bahureksa dan pejabat logistik Kyai Rangga tercerai-berai. Mereka yang gagal menembus benteng Batavia dan takut pulang ke Yogyakarta karena ancaman hukuman mati, memilih untuk “hilang” di wilayah ini.

Desa Sidakaton dan Sidapurna menjadi tempat perlindungan (sanctuary) bagi para prajurit pelarian ini. Mereka menanggalkan seragam perang, menyembunyikan keris, dan beralih menjadi petani atau pedagang. Namun, DNA militer mereka—kedisiplinan, solidaritas korps, dan kemampuan manajemen logistik—tetap mengalir deras.

Dari Barak Militer ke Etalase Kaca

Transformasi besar terjadi pada medio 1950-an hingga 1960-an. Ketika Jakarta mulai bersolek di bawah Presiden Sukarno, naluri “penaklukan” keturunan Mataram ini bangkit kembali. Tanah pertanian di Sidapurna dan Sidakaton yang semakin sempit tidak lagi mampu menopang populasi. Dengan modal resep leluhur—seperti Orek Tempe dan Telur Asin yang dulunya merupakan ransum awet untuk perang—mereka melakukan eksodus ke Jakarta.

Di perantauan, mereka menerapkan sistem kerja yang unik bernama Aplusan (sistem gilir). Sebuah warung dikelola secara bergantian oleh kerabat setiap 3-4 bulan sekali. Sistem ini sangat mirip dengan rotasi jaga (piket) dalam kesatuan militer. Solidaritas ini memastikan bahwa tidak ada anggota keluarga yang menganggur, dan aset ekonomi tetap berputar dalam lingkaran kerabat desa.

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Istana Sunyi Para Jenderal

Hari ini, keberhasilan “invasi kuliner” tersebut mewujud dalam bentuk fisik di kampung halaman. Rumah-rumah mewah di Sidakaton dan Sidapurna sering kali tampak sepi. Penghuninya hanyalah anak-anak sekolah atau kakek-nenek mereka. Pemilik rumah—sang “Jenderal”—sedang berada di medan tempur ekonomi di Jakarta, tidur di kamar sempit di belakang warung demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Ironi ini adalah simbol perjuangan yang indah. Rumah-rumah gedongan itu adalah monumen kemenangan mereka. Jika nenek moyang mereka (pasukan 1628) gagal menaklukkan Batavia dan pulang dengan kekalahan, generasi “Jenderal Warteg” hari ini berhasil menaklukkan ibu kota dengan cara yang berbeda. Mereka tidak membakar benteng, tetapi membangun ekonomi.

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna bukan sekadar melihat deretan rumah mewah, melainkan menyaksikan babak akhir dari sebuah epik sejarah Nusantara. Di desa inilah, semangat pasukan Sultan Agung yang dulu patah arang, kini telah “sempurna” (Sidapurna) bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang paling tangguh di Indonesia. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *