• Sen. Jan 26th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Dari Lumbung Padi yang Terbakar ke Ibu Kota: Transformasi Strategi Militer Sultan Agung Menjadi Budaya Kuliner

ByAdmin

Jan 26, 2026
Dua dari tiga panel lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan J.P Coen. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Langit di atas pelabuhan Tegal pada akhir Agustus 1628 tidak mendung karena hujan, melainkan hitam pekat oleh asap. Di cakrawala, armada kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) baru saja menyelesaikan misi sabotase yang brutal: membombardir dan membakar gudang-gudang beras raksasa milik Kesultanan Mataram. Ribuan ton gabah yang dikumpulkan dengan susah payah oleh rakyat Tegal di bawah komando Kyai Rangga musnah dilahap api.

Peristiwa “bumi hangus” ini seharusnya menjadi akhir dari kisah pasukan Sultan Agung Hanyokrokusumo dalam ambisinya menaklukkan Batavia. Namun, sejarah memiliki cara kerja yang ironis. Dari abu lumbung padi yang terbakar itulah, justru lahir sebuah strategi bertahan hidup yang empat abad kemudian “menaklukkan” ibu kota dengan cara yang tak terduga. Strategi itu kini kita kenal dengan nama: Warung Tegal (Warteg).

Logistik Perang di Ujung Tanduk

Sebelum asap membumbung, Tegal memegang peran sentral dalam geopolitik Nusantara. Menyadari jarak ratusan kilometer antara Keraton Plered (Yogyakarta) dan benteng Batavia, Sultan Agung menetapkan Tegal sebagai depot logistik utama. Kyai Rangga, yang dalam historiografi lokal dikenal sebagai Bupati Tegal atau pejabat intenden logistik, mengemban mandat hidup-mati: memastikan perut puluhan ribu prajurit Tumenggung Bahureksa tetap terisi.

Tantangan terbesar Kyai Rangga bukan hanya mengumpulkan beras, melainkan melawan waktu dan iklim tropis. Bagaimana cara mengirim bekal untuk perjalanan berminggu-minggu tanpa menjadi basi? Jawabannya ditemukan dalam kearifan lokal yang dimodifikasi untuk keperluan militer.

Tempe, panganan fermentasi yang keberadaannya telah dicatat dalam manuskrip Serat Centhini, menjadi solusi utama. Namun, tempe mentah tidak akan bertahan lama. Oleh dapur umum pasukan Mataram, tempe ini diolah dengan teknik “kering”—digoreng garing dan dibalut bumbu gula merah serta rempah yang pekat. Hasilnya adalah Orek Tempe, sebuah lauk berkalori tinggi yang awet tanpa pengawet buatan. Di sisi lain, telur itik yang melimpah di pesisir utara diasinkan dengan abu gosok dan garam, menciptakan Telur Asin yang kaya protein dan tahan banting di dalam ransum prajurit.

Genealogi Kehancuran dan Kelahiran Kembali

Ketika VOC berhasil menghancurkan lumbung-lumbung padi di Tegal dan Cirebon, rantai pasok terputus. Serangan Mataram ke Batavia pada 1628 dan 1629 pun menemui kegagalan tragis akibat kelaparan dan wabah penyakit. Ribuan prajurit yang tersisa, terjebak dalam dilema antara mati kelaparan di Batavia atau mati dihukum pancung jika pulang ke Mataram dengan tangan hampa.

Mereka memilih jalan ketiga: demobilisasi dan asimilasi. Di bawah perlindungan tokoh-tokoh lokal dan sisa komandan seperti Kyai Rangga, para prajurit ini melebur menjadi warga sipil di desa-desa seperti Sidakaton, Sidapurna, dan Krandon. Di sinilah terjadi transformasi kultural yang vital. Keahlian memasak dalam porsi massal (untuk satu kompi pasukan) dan teknik mengawetkan makanan (orek dan telur asin) tidak hilang, melainkan beralih fungsi menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Invasi Kedua ke Jakarta

Lompatan sejarah terjadi pada era 1950-an. Ketika Presiden Sukarno memancangkan tiang pertama pembangunan Jakarta modern, keturunan dari “Laskar Mataram” yang menetap di Tegal ini melihat peluang. Tanah pertanian di desa semakin sempit, sementara di Jakarta, ribuan kuli bangunan proyek Monas dan Gedung DPR membutuhkan makan murah.

Bagaikan panggilan sejarah, warga Sidakaton dan Sidapurna kembali bergerak ke barat. Kali ini tidak membawa tombak dan bedil, melainkan membawa resep leluhur mereka. Warung-warung berdinding kayu mulai bermunculan di sela-sela proyek ibu kota. Mereka menyajikan menu yang sama dengan yang dimakan leluhur mereka saat mengepung J.P. Coen: nasi, orek tempe, dan telur asin.

Bertahan Hidup di Tanah Asing: Kisah Pasukan Sultan Agung yang Terdampar dan Melahirkan Legenda Warteg

Sistem aplusan (rotasi manajemen) yang diterapkan pemilik Warteg hingga hari ini pun mencerminkan solidaritas korps (esprit de corps) layaknya sebuah regu militer yang bergantian berjaga. Tanpa disadari, manajemen Warteg adalah warisan disiplin kolektif masa lalu.

Kesimpulan

Kisah Warteg adalah bukti bahwa kebudayaan sering kali tumbuh dari krisis. Lumbung padi yang dibakar VOC pada 1628 memang menggagalkan ambisi politik Mataram, namun ia memaksa terciptanya inovasi kuliner yang tahan uji zaman. Hari ini, saat jutaan warga Jakarta menyantap sepiring nasi rames, mereka sejatinya sedang menikmati buah dari strategi militer Kyai Rangga yang telah bertransformasi. Warteg bukan sekadar tempat makan; ia adalah monumen hidup dari ketangguhan rakyat jelata dalam mengubah kekalahan perang menjadi kemenangan ekonomi. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Bertahan Hidup di Tanah Asing: Kisah Pasukan Sultan Agung yang Terdampar dan Melahirkan Legenda Warteg

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *