Jakarta, Kowantaranews.com – Di balik deretan etalase kaca berwarna biru yang menghiasi sudut-sudut jalanan Jakarta, tersimpan sebuah narasi sejarah yang lebih tua dari usia ibu kota itu sendiri. Rencana produksi film layar lebar berjudul “Jejak Warteg” kini tengah menjadi sorotan, menjanjikan sebuah eksplorasi sinematik yang tidak hanya memotret piring-piring nasi rames, tetapi juga menggali memori kolektif bangsa yang berakar sejak abad ke-17.
Film ini akan membawa penonton melintasi waktu, kembali ke masa kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram Islam. Dalam narasinya, diungkapkan bahwa kemunculan awal Warteg (Warung Tegal) tidak dapat dipisahkan dari taktik logistik militer saat Sultan Agung mengerahkan pasukannya untuk menyerbu VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.
Kisah bermula ketika Sultan Agung memberikan mandat kepada masyarakat Tegal untuk menyediakan dukungan pangan murah bagi ribuan prajurit Mataram yang akan bergerak ke barat. Di sinilah peran krusial Bupati Tegal saat itu, Kyai Rangga, muncul dalam catatan sejarah. Kyai Rangga, yang juga pernah dikirim sebagai duta perdamaian ke Batavia pada April 1628, menginstruksikan rakyatnya untuk menyiapkan perbekalan khusus. Menu yang dipilih bukan tanpa alasan: telur asin dan orek tempe. Dua jenis lauk ini dipilih karena sifatnya yang murah namun memiliki ketahanan yang luar biasa, sehingga tetap layak dikonsumsi meski dibawa dalam perjalanan jauh oleh para prajurit.
Visualisasi film akan menggambarkan Pelabuhan Tegal sebagai lumbung pangan atau depot logistik raksasa milik Mataram. Namun, alur cerita akan memuncak pada drama pengkhianatan yang membocorkan rencana tersebut kepada VOC. Penonton akan menyaksikan adegan dramatis saat armada kompeni menyerbu Tegal dan membakar habis gudang-gudang beras serta 200 perahu Mataram, yang menyebabkan kerugian hingga 4.000 pikul logistik. Akibat kehancuran ini, pasukan Mataram terpaksa mundur, namun sebagian prajurit memilih untuk tetap tinggal di wilayah yang kini menjadi Jakarta. Mereka kemudian bertahan hidup dengan berjualan makanan yang dulunya menjadi logistik perang mereka, yakni orek tempe dan telur asin—yang menjadi cikal bakal budaya Warteg.
Film “Jejak Warteg” juga akan menghubungkan sejarah klasik tersebut dengan gelombang migrasi besar kedua pada tahun 1950-an. Saat itu, pembangunan infrastruktur besar-besaran di Jakarta oleh Presiden Soekarno—seperti Monas dan Jembatan Semanggi—menarik ribuan warga dari desa-desa di Tegal seperti Sidakaton, Sidapurna, dan Krandon untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Istri-istri para pekerja inilah yang kemudian membuka warung untuk melayani kebutuhan pangan pekerja kerah biru, memperkokoh identitas Warteg sebagai oase bagi rakyat kecil.
Sisi filosofis bangunan Warteg pun akan diangkat secara mendalam. Penggunaan dua pintu di sisi kanan dan kiri dimaknai sebagai simbol kepemimpinan dan kedisiplinan prajurit, sekaligus strategi arsitektural agar pelanggan di ruang sempit dapat bersirkulasi dengan lancar. Warna biru yang ikonik merepresentasikan identitas Tegal sebagai “Kota Bahari”, sementara budaya “ambil sendiri” (prasmanan) diyakini sebagai warisan cara makan di barak militer Mataram dahulu.
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Namun, “Jejak Warteg” tidak hanya bicara soal nostalgia. Narasi film juga akan memotret tantangan kontemporer yang pahit, mulai dari konflik premanisme dan pungutan liar oleh oknum ormas, hingga fluktuasi harga pangan yang kerap menjepit nasib pedagang kecil. Di tengah tantangan tersebut, resiliensi perantau Tegal tetap bersinar, salah satunya melalui inovasi modern seperti jaringan waralaba Kharisma dan lainnya yang mengusung konsep kebersihan dan sistem kemitraan 50:50.
Secara keseluruhan, judul film ini mengandung makna filosofis “Jejak” sebagai pengalaman indrawi dan memori yang membekas dalam pikiran manusia. Film ini ingin menegaskan bahwa Warteg bukan sekadar tempat makan, melainkan monumen hidup dari sebuah perjuangan yang berawal dari perintah Sultan Agung dan kecerdikan Kyai Rangga, yang terus bertahan di tengah kerasnya rimba beton Jakarta hingga hari ini.
Melalui narasi yang kuat dan riset sejarah yang mendalam, “Jejak Warteg” diharapkan menjadi mahakarya yang mengangkat derajat kuliner rakyat ke panggung dunia, sekaligus mengingatkan kita pada akar sejarah yang membentuk identitas bangsa. Selama masih ada orang yang lapar dan bekerja, Warteg—dengan orek tempe dan telur asinnya—akan tetap menjadi singgasana yang hangat bagi siapa saja. By Mukroni
- Berita Terkait :
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

