Jakarta, Kowantaranews.com – Di antara kepulan asap dapur warung makan yang menjamur di Jakarta, terselip sebuah nama yang kerap disebut sebagai “bapak moyang” kuliner Tegal: Kyai Rangga. Legenda tutur menyebut sosok ini sebagai Bupati Tegal yang menciptakan konsep Warteg saat mempersiapkan logistik perang Kesultanan Mataram. Namun, apakah klaim ini merupakan fakta sejarah yang valid atau sekadar romantisme cerita rakyat? Penelusuran terhadap arsip kolonial dan babad lokal mengungkap sebuah realitas yang mengejutkan.
Secara faktual, catatan sejarah dan babad memang mengonfirmasi keberadaan tokoh bernama Kyai Rangga. Dalam kronik penyerangan Mataram ke Batavia tahun 1628, Kyai Rangga dicatat menjabat sebagai Bupati Tegal yang diutus Sultan Agung sebagai duta perdamaian ke Batavia pada bulan April 1628, sebelum perang pecah. Namun, komando militer tertinggi saat itu dipegang oleh Tumenggung Bahureksa, Bupati Kendal, yang memimpin ribuan pasukan menuju benteng VOC.
Lantas, di mana letak “fakta” hubungan Kyai Rangga dengan Warteg? Jawabannya bukan pada pendirian bangunan warung, melainkan pada penciptaan sistem logistik darurat.
Fakta: Tragedi Lumbung Padi 1628
Peristiwa kunci yang mengubah sejarah kuliner ini adalah penghancuran logistik. Mengetahui Tegal dan Cirebon menjadi basis penimbunan beras untuk pasukan Bahureksa dan Kyai Rangga, armada VOC melancarkan serangan laut yang menghanguskan lumbung-lumbung padi tersebut. Kehancuran ini adalah fakta sejarah tak terbantahkan yang memicu krisis pangan di kalangan prajurit Mataram.
Di sinilah peran Kyai Rangga dan administrasinya menjadi krusial. Dalam kondisi terjepit, instruksi untuk mengolah sisa bahan makanan menjadi sajian tahan lama menjadi satu-satunya cara bertahan hidup. Tempe yang dimasak kering (orek) dan telur yang diasinkan adalah solusi jenius untuk mengawetkan protein tanpa teknologi pendingin di tengah medan perang tropis. Jadi, narasi bahwa menu Warteg adalah “ransum perang” adalah fakta sosiologis yang kuat, bukan mitos.
Mitos: Warteg Berdiri di Abad ke-17
Sering terjadi kesalahpahaman bahwa Warteg sebagai “restoran” sudah ada sejak zaman Sultan Agung. Ini adalah mitos. Warteg sebagai entitas bisnis baru muncul pada gelombang urbanisasi tahun 1950-an, ketika warga desa Sidakaton dan Sidapurna merantau ke Jakarta.
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Namun, hubungan darah antara masa lalu dan masa kini sangat erat. Para perantau ini diyakini sebagai keturunan dari pasukan Mataram (anak buah Bahureksa dan Kyai Rangga) yang tidak kembali ke Yogyakarta pasca-kekalahan 1628. Mereka menetap di Tegal karena malu atau takut dihukum, lalu mewariskan resep “ransum bertahan hidup” tersebut kepada anak cucu mereka.
Kesimpulan
Hubungan antara Kyai Rangga dan Warteg adalah Fakta Historis yang Berevolusi. Kyai Rangga bukanlah pemilik warung pertama, namun ia adalah arsitek logistik yang (mungkin secara tidak sengaja) meletakkan DNA kuliner Tegal. Kegagalan misinya di tahun 1628 memaksa terciptanya inovasi pengawetan makanan, yang 300 tahun kemudian menjadi modal utama keturunan pasukannya untuk menaklukkan ibu kota—bukan dengan pedang, melainkan dengan centong nasi. By Mukroni
- Berita Terkait :
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

