Jakarta, Kowantaranews.com – Dinamika mobilitas masyarakat Indonesia pada masa perayaan Idulfitri 1446 Hijriah menunjukkan tren yang tidak biasa. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat bahwa jumlah orang yang melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2025 mencapai 154,62 juta orang. Meskipun angka ini mencakup sekitar 54,89 persen dari total populasi penduduk Indonesia, realisasi tersebut menunjukkan penurunan sebesar 4,69 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang menembus angka 162,2 juta orang.
Fenomena penurunan ini menjadi indikator penting bagi kondisi ekonomi makro nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga memang masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12 persen pada kuartal II 2025. Namun, laju pertumbuhan konsumsi tersebut tercatat melambat menjadi 4,97 persen secara tahunan (yoy) pada periode tersebut, dan terus menunjukkan tren pelemahan hingga menyentuh angka 4,89 persen pada kuartal III 2025.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai bahwa kontraksi dalam jumlah pemudik ini merupakan dampak langsung dari melemahnya daya beli masyarakat. Penurunan perputaran uang secara nasional selama periode Lebaran menjadi bukti nyata; di mana pada tahun 2024 angka perputaran uang mencapai Rp197 triliun, namun pada tahun 2025 angka tersebut merosot menjadi sekitar Rp180 triliun. Menurut Esther, maraknya fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor serta kenaikan harga kebutuhan pokok membuat masyarakat lebih memilih untuk menahan konsumsi non-primer.
Pelemahan daya beli ini juga memicu perubahan pola perjalanan di masyarakat. Indef mencatat adanya kecenderungan pemudik beralih dari perjalanan jarak jauh menjadi perjalanan jarak pendek, seperti rute Semarang–Solo, guna menekan biaya transportasi. Selain itu, masyarakat kelas menengah bawah mulai menyimpan dana Tunjangan Hari Raya (THR) mereka untuk keperluan masa depan yang lebih mendesak daripada menghabiskannya untuk ongkos mudik yang kian mahal.
Di sisi lain, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memberikan perspektif tambahan bahwa penurunan sekitar 4 hingga 5 persen ini tidak serta-merta mencerminkan krisis daya beli secara menyeluruh. Ia menilai angka tersebut tidak terlalu signifikan dan bisa saja disebabkan oleh pilihan masyarakat untuk merayakan Lebaran di kota tempat tinggal mereka masing-masing, seperti di Jakarta. Kemenhub juga menyoroti bahwa realisasi 154,6 juta orang tersebut sebenarnya masih 5,6 persen lebih tinggi dibandingkan proyeksi survei awal yang hanya memperkirakan pergerakan sebesar 146,67 juta orang.
Dari aspek moda transportasi, terjadi anomali menarik di mana penggunaan angkutan umum justru mengalami kenaikan sebesar 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai total 27,62 juta penumpang. Kereta api menjadi primadona dengan jumlah penumpang mencapai 8,30 juta orang, diikuti oleh angkutan penyeberangan laut sebanyak 5,82 juta orang. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah pemudik secara total menurun, mereka yang tetap memilih pulang kampung cenderung beralih ke transportasi umum yang lebih terorganisir demi efisiensi biaya dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik, Industri Mamin Nasional Tertekan
Pulau Jawa tetap menjadi pusat gravitasi mudik dengan 101 juta orang atau 65,7 persen dari total pemudik menuju wilayah ini. Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi tujuan utama dengan 36,6 juta orang, disusul Jawa Timur dengan 27,4 juta orang, dan Jawa Barat sebanyak 22,1 juta orang. Sementara itu, daerah asal pemudik didominasi dari wilayah Jabodetabek yang menyumbang sekitar 60,73 persen pergerakan keluar.
Sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kenyamanan di tengah tantangan ekonomi dan infrastruktur, pemerintah terus mengoptimalkan kebijakan Work From Anywhere (WFA). Kebijakan ini terbukti efektif mengubah pola pergerakan masyarakat antara H-10 hingga H-2 Lebaran, sehingga kurva kepadatan lalu lintas cenderung mendatar dan tidak menumpuk pada satu titik waktu saja. Namun, dengan adanya proyeksi bahwa jumlah pemudik pada tahun 2026 akan kembali menyusut menjadi 143,9 juta orang, pemerintah dituntut untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap keterjangkauan biaya transportasi dan penguatan layanan angkutan umum perdesaan guna menjaga tradisi mudik tetap berkelanjutan di masa depan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik, Industri Mamin Nasional Tertekan
Strategi Industri Ritel 2026: Mengoptimalkan Momentum Ramadan untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Survei LPEM UI: Mayoritas Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Memburuk di Triwulan I-2026
Pangan Mahal dan Mudik Kolosal: Tantangan Nasional Menjelang Idul Fitri 1447 H
Pangan dalam Cengkeraman Perang dan Cuaca Ekstrem 2026
Tergerusnya Produksi Beras Nasional di Kuartal I-2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas
Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang
Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

