Jakarta, Kowantaranews.com — Pasar keuangan dalam negeri diguncang kepanikan hebat setelah nilai tukar rupiah ambruk hingga menembus batas psikologis dan mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada Kamis, 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah sebesar 0,6 persen ke level Rp 18.039 per dolar Amerika Serikat (AS), merosot tajam dari posisi hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.931 per dolar AS.
Kondisi serupa juga terjadi di pasar spot. Rupiah spot ditutup melemah sebesar 0,45 persen ke level Rp 18.049 per dolar AS setelah sehari sebelumnya bertahan di level Rp 17.967 per dolar AS. Kejatuhan nilai tukar ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia sepanjang tahun berjalan.
Akselerasi Tekanan Global dan Permintaan Musiman
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang berlarut-larut di kawasan tersebut telah menghambat prospek perdamaian global, mendorong harga minyak mentah dunia tetap tinggi, serta meningkatkan kecemasan akan risiko inflasi global. Akibatnya, terjadi kepanikan investor yang memicu aliran modal keluar (capital flight) secara masif dari negara-negara berkembang (emerging markets) menuju aset-aset aman (safe-haven assets).
Tidak hanya faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh melonjaknya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri yang bersifat musiman pada triwulan II. Destry mengakui adanya lonjakan kebutuhan dolar AS dari korporasi domestik untuk keperluan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo serta repatriasi dividen kepada pemegang saham asing.
Respons Cepat dan Agresif Bank Indonesia
Menghadapi tekanan depresiasi yang ekstrem ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar guna menstabilkan nilai tukar rupiah agar tetap bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya. BI menerapkan strategi intervensi berlapis secara agresif di pasar keuangan.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga,” tegas Destry Damayanti dalam pernyataan resminya.
Intervensi konsisten ini dilakukan melalui tiga jalur (triple intervention), yaitu intervensi langsung di pasar spot, transaksi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan dalam negeri bagi investor portofolio asing, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-pasar agar dapat memberikan imbal hasil (yield) yang lebih kompetitif. BI sendiri saat ini mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,25 persen.
Sinergi Pemerintah: Kucuran Rp 8 Triliun dan Pengendalian Devisa
Langkah penyelamatan nilai tukar ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui kebijakan fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyuntikkan dana cadangan sebesar Rp 8 triliun langsung ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Penempatan dana jumbo di pasar sekunder ini ditujukan untuk menstabilkan yield obligasi pemerintah dan menahan aksi jual portofolio oleh investor asing di tengah kepanikan pasar.
Purbaya juga menegaskan bahwa kejatuhan rupiah melewati batas Rp 18.000 per dolar AS tidak mengganggu kapasitas pemerintah dalam melunasi kewajiban utangnya. Ia menjelaskan bahwa utang pemerintah mayoritas mengusung skema kupon tetap (fixed-rate), sehingga fluktuasi kurs harian tidak akan langsung merusak postur anggaran secara drastis. Meski demikian, ia membenarkan bahwa pelemahan rupiah akan meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri saat dikonversi ke dalam mata uang lokal.
“Pembayaran utang tetap berjalan aman karena kuponnya konstan. Rupiah yang melemah hanya meningkatkan nilai konversinya dalam rupiah, namun dampaknya masih berada dalam rentang proyeksi dan simulasi yang telah kami lakukan,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Saat ini, asumsi makro nilai tukar dalam APBN 2026 dipatok sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Pemerintah sebelumnya juga telah melakukan berbagai simulasi mitigasi risiko jika terjadi lonjakan harga energi akibat konflik global. Purbaya menekankan bahwa fundamental ekonomi riil Indonesia sesungguhnya jauh lebih kuat dibanding nilai kurs saat ini, tecermin dari penerimaan pajak pada Mei 2026 yang masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 22,1 persen secara tahunan.
Selain intervensi pasar obligasi, pemerintah juga menekan kebocoran valas secara terstruktur melalui pemberlakuan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) baru sejak 1 Juni 2026. Melalui skema ini, para eksportir komoditas wajib menempatkan 100 persen devisa hasil ekspornya di dalam negeri selama minimal 12 bulan di bank-bank BUMN, dengan insentif pajak PPh bunga tabungan hingga nol persen sebagai stimulus kepatuhan.
PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen
Dedolarisasi Melalui Local Currency Transaction
Sebagai benteng pertahanan jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan sistemik terhadap mata uang dolar AS, Bank Indonesia terus memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi perdagangan bilateral. Langkah de-dolarisasi ini telah diimplementasikan bersama sejumlah negara mitra strategis seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Uni Emirat Arab.
Hingga April 2026, realisasi pemanfaatan skema LCT telah menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai mencapai USD 22,7 miiliyar. Angka ini hampir mendekati total pencapaian sepanjang tahun fiskal sebelumnya yang mencatatkan nilai akumulasi sebesar USD 25,7 miliar.
Bank Indonesia mengimbau pelaku pasar untuk tidak panik berlebihan karena ketahanan eksternal Indonesia masih ditopang oleh cadangan devisa yang sangat solid, yakni sebesar USD 146,2 miliar per akhir April 2026. Solidnya cadangan devisa dan berjalannya reformasi struktural diharapkan mampu meredam volatilitas pasar keuangan dan mengembalikan pergerakan rupiah ke arah fundamentalnya secara bertahap. By Mukroni
- Berita Terkait :
PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen
Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga
Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026
Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen
BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional
“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump
Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri
Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia
Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia
Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026
BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan
Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global
Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza
Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF
497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional
Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal
Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata
Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza
Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir
Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel
Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas
Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina
Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!
Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’
AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa
Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel
Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian
Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!
DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI
Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam
Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi
Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza
Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump
Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah
Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS
DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!
Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia
MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

