• Sab. Feb 28th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas

ByAdmin

Feb 28, 2026
Ilustrasi Himpitan Ekonomi Untuk Kelas Menengah (Gambar Kowantaranews)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Di balik angka pertumbuhan ekonomi nasional yang mencatat angka optimis sebesar 5,11 persen sepanjang tahun 2025, terselip cerita getir dari kelompok yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung konsumsi domestik: kelas menengah. Fenomena yang kini populer disebut “mantab” atau makan tabungan bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan strategi bertahan hidup yang permanen bagi jutaan orang yang kini terancam turun kelas.

Metafora “tergerus sesuap nasi” menjadi cerminan nyata di mana pengeluaran untuk kebutuhan primer, khususnya pangan dan biaya hidup dasar, telah mengerosi sisa-sisa kesejahteraan ekonomi masyarakat. Data dari Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri menunjukkan sebuah paradoks yang tajam: jumlah penduduk kelas menengah secara nasional menyusut menjadi 46,7 juta orang atau setara 16,6 persen dari populasi pada 2025, turun sekitar 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kelompok “menuju kelas menengah” (aspiring middle class) membengkak hingga mencapai 142 juta orang, menandakan bahwa banyak keluarga telah kehilangan bantalan finansialnya dan kini berada di ambang kerentanan.

Tekanan dari Segala Penjuru

Beban yang menghimpit kelas menengah bersifat struktural dan multidimensi. Di sisi pengeluaran, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang berlaku sejak 1 Januari 2025 telah memicu kenaikan harga barang dan jasa secara luas. Tekanan ini diperparah dengan penyesuaian tarif listrik bagi pelanggan nonsubsidi golongan 3.500 VA ke atas, yang mengalami kenaikan tagihan berkisar antara Rp 111.000 hingga Rp 346.000 per bulan.

Namun, beban yang paling “mencekik” justru datang dari sektor pendidikan. Pengeluaran kelompok menengah untuk komponen pendidikan tumbuh relatif tinggi, mencapai sekitar 7,7 persen per tahun. Rata-rata rumah tangga kelas menengah kini harus mengalokasikan sekitar Rp 1,18 juta per bulan hanya untuk biaya sekolah anak, jauh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran utilitas dan hunian yang rata-rata sebesar Rp 342.721. Tingginya biaya pendaftaran, SPP, dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) memaksa orang tua memprioritaskan pendidikan di atas nutrisi atau tabungan masa depan.

Realitas Generasi Sandwich

Bagi individu seperti Sakti (25), seorang pekerja lepas di Jakarta, kenyataan ekonomi ini terasa sangat menyesakkan. Dengan alokasi makan bulanan sebesar Rp 1,3 juta, ia hanya bisa membiayai dua kali makan sehari dengan anggaran Rp 43.000, yang nyaris mustahil untuk mendapatkan asupan bergizi seimbang di ibu kota. Sebagai bagian dari sandwich generation, beban Sakti berlipat ganda karena harus menyokong biaya hidup orang tua dan pendidikan adiknya. Hal ini mengonfirmasi temuan bahwa 67 persen masyarakat Indonesia kini terjebak dalam peran ganda sebagai penanggung jawab lintas generasi.

Strategi “mantab” pun menjadi tak terelakkan. Nilai rata-rata simpanan nasabah rumah tangga terus menyusut sejak November tahun lalu, dengan penurunan deposito nasabah di bawah Rp 100 juta mencapai 50 persen. Pendapatan masyarakat yang hanya tumbuh moderat—di mana upah buruh rata-rata tercatat sebesar Rp 3,33 juta pada November 2025—tidak mampu mengejar kecepatan inflasi pangan dan pajak.

Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang

Defisit Sektor Formal dan Harapan 2026

Akar masalah lain terletak pada pasar tenaga kerja. Meski tingkat pengangguran turun menjadi 4,74 persen, kualitas pekerjaan yang tersedia masih menjadi pertanyaan besar. Sebanyak 57,7 persen pekerja Indonesia masih berstatus informal, yang berarti mereka bekerja tanpa jaminan pensiun, pesangon, atau asuransi kecelakaan kerja. Keterbatasan serapan sektor formal memaksa kelas menengah beralih ke ekonomi gig yang fluktuatif.

Memasuki tahun 2026, pemerintah berjanji untuk memperkuat daya beli melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Bank Indonesia telah memperpanjang pelonggaran kartu kredit hingga Juni 2026 untuk memberi ruang napas bagi konsumsi rumah tangga. Selain itu, target ambisius pembukaan 19 juta lapangan kerja baru hingga 2029 mulai diupayakan melalui hilirisasi dan ekonomi kreatif. Namun, para ekonom senior seperti Faisal Basri tetap memperingatkan adanya potensi krisis ekonomi pada kuartal ketiga tahun 2026 jika kebijakan fiskal tidak dikendalikan dengan sangat hati-hati. Tanpa intervensi yang menyasar langsung pengendalian biaya pendidikan dan stabilitas harga pangan, dompet kelas menengah akan terus tergerus, dan impian Indonesia Emas 2045 terancam terhambat oleh rapuhnya fondasi ekonomi masyarakatnya sendiri. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang

Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta

Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta

Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17

Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal

Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal

Bertahan Hidup di Tanah Asing: Kisah Pasukan Sultan Agung yang Terdampar dan Melahirkan Legenda Warteg

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *