• Sel. Jun 16th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

LPG Meroket dan Minyak Tanah Langka, Warga Kupang Terpaksa Kembali ke Kayu Bakar

ByAdmin

Jun 15, 2026
Kayu bakar kering siap dijual (rri dok)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com — Badai krisis energi rumah tangga saat ini tengah melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua komoditas utama yang menjadi andalan dapur warga, yakni elpiji nonsubsidi dan minyak tanah, mendadak sulit diakses secara bersamaan. Lonjakan harga elpiji yang terlampau tinggi berpadu dengan kelangkaan minyak tanah yang kian parah di pasaran. Kondisi ini pun menggenapi penderitaan warga setempat, memaksa sebagian besar dari mereka mengambil langkah ekstrem demi menyambung hidup: kembali ke cara tradisional menggunakan kayu bakar.

Bagi Hendrik Ara (38), seorang warga Kota Kupang, memasak kini menjadi perkara yang penuh perhitungan matang. Ia mengaku sudah menyerah dan tidak lagi sanggup menggunakan elpiji tabung 12 kilogram di rumahnya. Alasan utamanya adalah lonjakan harga isi ulang gas yang dirasa sangat mencekik leher. Hingga awal tahun 2026, harga elpiji 12 kg di tingkat konsumen setempat masih berada pada kisaran normal, yaitu Rp 250.000 hingga Rp 270.000 per tabung. Namun, hanya dalam kurun waktu sekitar dua bulan terakhir, harganya melesat tanpa kendali. Saat ini, warga harus merogoh kocek antara Rp 420.000 hingga Rp 455.000 demi mendapatkan satu tabung elpiji ukuran tersebut—sebuah lompatan harga yang mendekati dua kali lipat.

Penderitaan warga NTT terasa berlipat ganda karena kondisi daerah mereka yang berbeda dari wilayah lain di Indonesia. Di NTT, khususnya Kota Kupang, elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram atau yang akrab disapa “gas melon” tidak beredar secara luas di tengah masyarakat. Hal ini memaksa seluruh lapisan warga, termasuk mereka yang berpenghasilan rendah, untuk beralih ke tabung gas nonsubsidi yang harganya jauh melampaui kemampuan daya beli mereka.

Sebagai alternatif awal untuk menghindari harga gas yang tidak masuk akal tersebut, Hendrik dan ribuan warga lainnya sempat beralih ke minyak tanah. Minyak tanah selama ini dianggap sebagai penolong bagi dapur-dapur kecil yang tidak mampu menjangkau elpiji nonsubsidi. Sialnya, pilihan ini pun tidak bertahan lama karena pasokan minyak tanah tiba-tiba menjadi sangat langka di pasaran dalam sebulan terakhir.

Demi mendapatkan jatah minyak tanah sebanyak 5 liter saja di agen, warga Kupang kini terpaksa mengantre hingga berjam-jam di bawah terik matahari. Karena kuota yang disediakan oleh agen sangat terbatas, antrean panjang tersebut sering kali berujung kekecewaan bagi warga yang berada di barisan belakang. Banyak dari mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa setelah lelah mengantre berjam-jam karena stok minyak tanah habis sebelum giliran mereka tiba.

Ketiadaan pilihan inilah yang akhirnya menggiring warga kembali menggunakan kayu bakar. Salah satunya dialami oleh Ina (50), seorang ibu rumah tangga yang menetap di Kelurahan Bello. Menurut Ina, kayu bakar kini menjadi penyelamat utama dapur keluarganya agar tetap bisa mengepul. “Kami pakai kayu bakar untuk memasak air dan makanan. Ini sangat membantu. Kompor minyak tanah hanya dipakai kalau ada kebutuhan mendesak pada malam hari. Rasanya seperti kembali ke zaman dulu,” ungkap Ina dengan nada getir.

Peralihan massal masyarakat ke kayu bakar ini pun langsung memicu geliat baru di pasar-pasar tradisional Kupang, salah satunya di Pasar Kasih. Di pasar tersebut, tumpukan kayu bakar kini menjadi pemandangan yang lazim dijajakan oleh para pedagang. Namun, tingginya permintaan juga berimbas pada naiknya harga kayu bakar itu sendiri. Saat ini, para pedagang mematok harga Rp 10.000 untuk mendapatkan tiga ikat kayu bakar. Padahal, beberapa pekan sebelumnya, dengan nominal uang yang sama, pembeli masih bisa membawa pulang empat ikat kayu bakar. Setiap ikatnya terdiri atas tiga batang kayu dengan panjang sekitar 50 sentimeter dan ketebalan 5 sentimeter.

Andre, salah seorang pedagang di Pasar Kasih Kupang, menuturkan bahwa dinamika pembeli kayu bakar telah bergeser drastis. Biasanya, kayu bakar hanya dicari dalam jumlah besar untuk keperluan pesta atau hajatan adat. Namun, belakangan ini, justru warga biasa yang mendominasi pembelian untuk memenuhi kebutuhan memasak harian di rumah akibat sulit dan mahalnya minyak tanah serta elpiji.

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Ironisnya, realitas pahit yang dialami warga di lapangan tampak sangat kontras dengan pernyataan resmi dari pihak regulator. Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus), Ahad Rahedi, melalui keterangan tertulisnya menyatakan bahwa harga elpiji 12 kg di tingkat agen resmi dan outlet Pertamina sebenarnya berkisar antara Rp 310.000 hingga Rp 350.000 per tabung. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk membeli langsung di agen resmi agar terhindar dari permainan harga di tingkat pengecer yang tidak terkontrol.

Terkait kelangkaan minyak tanah, Ahad bahkan menegaskan bahwa pasokan energi tersebut dalam kondisi yang aman dan proses penyalurannya ke wilayah Kupang berjalan lancar setiap harinya tanpa ada kendala. Klaim kelancaran pasokan tersebut sayangnya sangat bertolak belakang dengan antrean panjang berjam-jam serta jerit kesulitan yang setiap hari harus dihadapi oleh warga Kupang demi mendapatkan minyak tanah di lapangan. Kesenjangan informasi antara pihak otoritas dan realitas warga ini pun semakin memperpanjang daftar ketidakpastian bagi nasib dapur masyarakat Kupang di tengah krisis energi domestik yang kian mengkhawatirkan. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat

Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 18.039 per Dolar AS, Bank Indonesia Lipat Gandakan Intervensi

PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen

Rupiah Tembus Rp17.600: Mengapa Klaim ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’ Terbantahkan oleh Realitas di Lapangan?

Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga

Navigasi Subsidi Energi 2026: Menakar Ketahanan APBN dan Stabilitas Makroekonomi di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026

Paradoks Beras Indonesia: Harga Eceran Melambung Lewati HET Saat Cadangan Nasional Capai Titik Tertinggi dalam Sejarah 

Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen

BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional

“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump

Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri

Paradoks Beras Indonesia: Cadangan Tembus Rekor 5 Juta Ton, Harga di 109 Daerah Justru Merangkak Naik

Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia

Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia

Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026

BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan

Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global

Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza

Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF

497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional

Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal

Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata

Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza

Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir

Dari Iklim ke Gaza: Israel Culik Greta, Paksa Cium Bendera – Tuduhan Dehidrasi dan Pemukulan Mengguncang Dunia

Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel

Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas

Gencatan Senjata 2025 Runtuh: Israel Serang Qatar, Gaza City Terancam, Abraham Accords di Ujung Tanduk

Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina

Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!

Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’

Greta Thunberg Tantang Blokade Israel: Armada Bantuan Gaza Tiba di Tunisia di Tengah Ultimatum Trump dan Pembantaian Jurnalis

AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa

Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas: Krisis Kemanusiaan Memburuk di Tengah Jalan Buntu Diplomasi

Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel

Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?

Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian

Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!

DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI

Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam

Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi

Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza

Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump

Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah

Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS

DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!

Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia

MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *