Jakarta, Kowantaranews.com — Badai krisis energi rumah tangga saat ini tengah melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua komoditas utama yang menjadi andalan dapur warga, yakni elpiji nonsubsidi dan minyak tanah, mendadak sulit diakses secara bersamaan. Lonjakan harga elpiji yang terlampau tinggi berpadu dengan kelangkaan minyak tanah yang kian parah di pasaran. Kondisi ini pun menggenapi penderitaan warga setempat, memaksa sebagian besar dari mereka mengambil langkah ekstrem demi menyambung hidup: kembali ke cara tradisional menggunakan kayu bakar.
Bagi Hendrik Ara (38), seorang warga Kota Kupang, memasak kini menjadi perkara yang penuh perhitungan matang. Ia mengaku sudah menyerah dan tidak lagi sanggup menggunakan elpiji tabung 12 kilogram di rumahnya. Alasan utamanya adalah lonjakan harga isi ulang gas yang dirasa sangat mencekik leher. Hingga awal tahun 2026, harga elpiji 12 kg di tingkat konsumen setempat masih berada pada kisaran normal, yaitu Rp 250.000 hingga Rp 270.000 per tabung. Namun, hanya dalam kurun waktu sekitar dua bulan terakhir, harganya melesat tanpa kendali. Saat ini, warga harus merogoh kocek antara Rp 420.000 hingga Rp 455.000 demi mendapatkan satu tabung elpiji ukuran tersebut—sebuah lompatan harga yang mendekati dua kali lipat.
Penderitaan warga NTT terasa berlipat ganda karena kondisi daerah mereka yang berbeda dari wilayah lain di Indonesia. Di NTT, khususnya Kota Kupang, elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram atau yang akrab disapa “gas melon” tidak beredar secara luas di tengah masyarakat. Hal ini memaksa seluruh lapisan warga, termasuk mereka yang berpenghasilan rendah, untuk beralih ke tabung gas nonsubsidi yang harganya jauh melampaui kemampuan daya beli mereka.
Sebagai alternatif awal untuk menghindari harga gas yang tidak masuk akal tersebut, Hendrik dan ribuan warga lainnya sempat beralih ke minyak tanah. Minyak tanah selama ini dianggap sebagai penolong bagi dapur-dapur kecil yang tidak mampu menjangkau elpiji nonsubsidi. Sialnya, pilihan ini pun tidak bertahan lama karena pasokan minyak tanah tiba-tiba menjadi sangat langka di pasaran dalam sebulan terakhir.
Demi mendapatkan jatah minyak tanah sebanyak 5 liter saja di agen, warga Kupang kini terpaksa mengantre hingga berjam-jam di bawah terik matahari. Karena kuota yang disediakan oleh agen sangat terbatas, antrean panjang tersebut sering kali berujung kekecewaan bagi warga yang berada di barisan belakang. Banyak dari mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa setelah lelah mengantre berjam-jam karena stok minyak tanah habis sebelum giliran mereka tiba.
Ketiadaan pilihan inilah yang akhirnya menggiring warga kembali menggunakan kayu bakar. Salah satunya dialami oleh Ina (50), seorang ibu rumah tangga yang menetap di Kelurahan Bello. Menurut Ina, kayu bakar kini menjadi penyelamat utama dapur keluarganya agar tetap bisa mengepul. “Kami pakai kayu bakar untuk memasak air dan makanan. Ini sangat membantu. Kompor minyak tanah hanya dipakai kalau ada kebutuhan mendesak pada malam hari. Rasanya seperti kembali ke zaman dulu,” ungkap Ina dengan nada getir.
Peralihan massal masyarakat ke kayu bakar ini pun langsung memicu geliat baru di pasar-pasar tradisional Kupang, salah satunya di Pasar Kasih. Di pasar tersebut, tumpukan kayu bakar kini menjadi pemandangan yang lazim dijajakan oleh para pedagang. Namun, tingginya permintaan juga berimbas pada naiknya harga kayu bakar itu sendiri. Saat ini, para pedagang mematok harga Rp 10.000 untuk mendapatkan tiga ikat kayu bakar. Padahal, beberapa pekan sebelumnya, dengan nominal uang yang sama, pembeli masih bisa membawa pulang empat ikat kayu bakar. Setiap ikatnya terdiri atas tiga batang kayu dengan panjang sekitar 50 sentimeter dan ketebalan 5 sentimeter.
Andre, salah seorang pedagang di Pasar Kasih Kupang, menuturkan bahwa dinamika pembeli kayu bakar telah bergeser drastis. Biasanya, kayu bakar hanya dicari dalam jumlah besar untuk keperluan pesta atau hajatan adat. Namun, belakangan ini, justru warga biasa yang mendominasi pembelian untuk memenuhi kebutuhan memasak harian di rumah akibat sulit dan mahalnya minyak tanah serta elpiji.
Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat
Ironisnya, realitas pahit yang dialami warga di lapangan tampak sangat kontras dengan pernyataan resmi dari pihak regulator. Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus), Ahad Rahedi, melalui keterangan tertulisnya menyatakan bahwa harga elpiji 12 kg di tingkat agen resmi dan outlet Pertamina sebenarnya berkisar antara Rp 310.000 hingga Rp 350.000 per tabung. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk membeli langsung di agen resmi agar terhindar dari permainan harga di tingkat pengecer yang tidak terkontrol.
Terkait kelangkaan minyak tanah, Ahad bahkan menegaskan bahwa pasokan energi tersebut dalam kondisi yang aman dan proses penyalurannya ke wilayah Kupang berjalan lancar setiap harinya tanpa ada kendala. Klaim kelancaran pasokan tersebut sayangnya sangat bertolak belakang dengan antrean panjang berjam-jam serta jerit kesulitan yang setiap hari harus dihadapi oleh warga Kupang demi mendapatkan minyak tanah di lapangan. Kesenjangan informasi antara pihak otoritas dan realitas warga ini pun semakin memperpanjang daftar ketidakpastian bagi nasib dapur masyarakat Kupang di tengah krisis energi domestik yang kian mengkhawatirkan. By Mukroni
- Berita Terkait :
Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat
Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI
Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat
Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur
PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen
Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga
Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026
Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen
BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional
“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump
Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri
Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia
Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia
Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026
BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan
Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global
Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza
Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF
497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional
Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal
Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata
Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza
Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir
Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel
Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas
Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina
Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!
Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’
AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa
Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel
Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian
Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!
DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI
Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam
Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi
Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza
Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump
Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah
Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS
DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!
Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia
MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

