• Sen. Mar 9th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Tergerusnya Produksi Beras Nasional di Kuartal I-2026 Akibat Cuaca Ekstrem

ByAdmin

Mar 5, 2026
ILUSTRASI. Luas panen dan produksi padi di Indonesia (ANTARA FOTO/Muhammad Mada)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Capaian swasembada beras nasional yang diraih Indonesia pada tahun 2025 kini tengah menghadapi ujian berat di awal tahun 2026. Setelah mencatatkan sejarah dengan produksi mencapai 34,69 hingga 34,71 juta ton pada tahun sebelumnya, stabilitas pangan nasional mulai dibayangi oleh ancaman fenomena alam yang ekstrem. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis proyeksi yang menunjukkan adanya tren penurunan produksi beras pada periode Januari hingga April 2026, yang dipicu oleh penyusutan luas panen dan gangguan cuaca hidrometeorologi di berbagai sentra produksi utama.

Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Padi, produksi beras nasional pada empat bulan pertama tahun 2026 diperkirakan mencapai 13,98 juta ton. Angka ini mengalami kontraksi tipis sebesar 0,18 persen dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 14,01 juta ton. Penurunan ini selaras dengan berkurangnya luas panen padi nasional sebesar 0,20 persen, yakni dari 4,49 juta hektare menjadi 4,48 juta hektare. Meskipun pada Januari 2026 produksi sempat melonjak signifikan menjadi 1,75 juta ton atau naik 38,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya, performa di bulan-bulan berikutnya justru menunjukkan kelesuan. Khusus untuk periode Februari hingga April 2026, produksi beras diprediksi merosot hingga 4,02 persen secara tahunan akibat akumulasi dampak bencana.

Faktor utama yang menggerus produktivitas lahan adalah banjir besar yang melanda wilayah Sumatera dan Jawa sejak akhir tahun 2025. Di Pulau Sumatera, tercatat 107.324 hektare lahan sawah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak banjir dan tanah longsor. Dari total luasan tersebut, sekitar 44.600 hektare lahan padi dan jagung dinyatakan mengalami gagal panen atau puso. Kerusakan infrastruktur pun tidak terelakkan, mulai dari rusaknya 152 kilometer jaringan irigasi hingga hilangnya 2.300 unit alat dan mesin pertanian (alsintan).

Kondisi serupa terjadi di Pulau Jawa, di mana banjir merendam ribuan hektare sawah di jalur lumbung padi nasional. Di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tercatat 4.049 hektare sawah terendam banjir dengan ancaman puso yang nyata. Sementara itu, Kabupaten Bekasi melaporkan 5.301 hektare lahan terdampak, dan di Indramayu luasan sawah yang tergenang mencapai 10.394 hektare. Di Jawa Tengah, ribuan hektare sawah di wilayah Jepara juga dilaporkan mengalami puso, yang mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani mencapai puluhan miliar rupiah.

Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas

Situasi semakin pelik dengan adanya peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai munculnya tiga bibit siklon tropis (90S, 93S, dan 92P) di sekitar wilayah Indonesia pada Maret 2026. Fenomena ini memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat yang berpotensi mengganggu fase panen raya di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Bali. Tak berhenti di situ, tantangan ganda muncul dengan prediksi fenomena El Niño yang diperkirakan mulai melanda pada Juli 2026. Fenomena ini membawa ancaman kekeringan panjang yang dapat memperburuk penurunan produksi pada paruh kedua tahun ini.

Merespons kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran rehabilitasi sebesar Rp 336 miliar khusus untuk pemulihan sawah di Sumatera. Skema padat karya pun diterapkan agar petani yang terdampak tetap memiliki penghasilan dengan memperbaiki lahan mereka sendiri. Di sisi lain, Perum Bulog memastikan stok beras nasional tetap aman di angka 3,5 juta ton untuk menjaga stabilitas pasokan di masyarakat menjelang momentum Ramadan dan Idul Fitri. Selain itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengintensifkan penyaluran 828 ribu ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mulai Maret hingga Desember 2026 guna menekan spekulasi harga di tingkat pasar. Strategi mitigasi seperti pompanisasi masif dan percepatan cetak sawah seluas 250.000 hektare menjadi langkah kunci pemerintah untuk mempertahankan status swasembada di tengah ketidakpastian iklim global. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas

Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang

Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta

Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta

Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17

Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal

Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal

Bertahan Hidup di Tanah Asing: Kisah Pasukan Sultan Agung yang Terdampar dan Melahirkan Legenda Warteg

Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628

Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat

Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal

Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda  

Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M

Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme

Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?

Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!

Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!

BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!

Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?

Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan

Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan

Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!

Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!

Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis

Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru

Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang

Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam

Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur

JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot

76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza

Afrika Selatan Menuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza di Hadapan Mahkamah Internasional, ini Alasan Adila Hassim

Kontroversi Nat Schwartz: Penyelidikan The New York Times tentang Kekerasan Seksual oleh Hamas dan Implikasinya

Pengarahan Jaksa ICC Karim AA Khan KC kepada Dewan Keamanan PBB mengenai Situasi di Libya: Laporan dan Peta Jalan Menuju Keadilan Berdasarkan Resolusi 1970 (2011)

Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill

Prof. Jeffrey Sachs: Kebijakan Luar Negeri AS Bertentangan dengan Kepentingan Rakyat dan Didasarkan pada Kebohongan Berkelanjutan

Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global

Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden

Thomas Piketty: Barat Harus Memberikan Sanksi kepada Israel Jika Benar-Benar Mendukung Solusi Dua Negara

Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *