Jakarta, Kowantaranews.com — Hari bersejarah bagi gerakan ekonomi kerakyatan dan perjuangan buruh nasional terjadi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Pada Sabtu (16/5/2026), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja penting ke Bumi Anjuk Ladang untuk meresmikan pengoperasian secara serentak 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) secara nasional yang dipusatkan di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono. Selain meresmikan program ekonomi perdesaan tersebut, Kepala Negara juga meresmikan secara langsung Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara bagi perjuangan hak-hak buruh di Indonesia.
Kunjungan ini menegaskan komitmen ganda pemerintahan Prabowo Subianto dalam menyelaraskan reformasi ekonomi struktural berbasis perdesaan dengan rekonsiliasi sosio-politik sejarah perburuhan tanah air. Berbagai jajaran Kabinet Merah Putih turut mendampingi Presiden, menunjukkan betapa pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menyukseskan kedua agenda strategis nasional tersebut .
Pemerataan Ekonomi Desa Melalui Jaringan KDMP
Peresmian pengoperasian 1.061 unit KDMP secara massal ini merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Sebanyak 1.061 gerai yang serentak mulai beroperasi tersebut terbagi atas 530 gerai di 7 kabupaten/kota di Jawa Timur dan 531 gerai di 8 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Jumlah gerai yang diluncurkan ini merupakan bagian dari total 9.182 gerai fisik yang pembangunannya telah diselesaikan sejak November 2025.
Dalam sambutannya di KDMP Desa Nglawak, Presiden Prabowo menyampaikan target ambisius pemerintah untuk menyelesaikan pembangunan 20.000 hingga 30.000 koperasi desa pada Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026 mendatang. “Kalau 20.000 gerai sudah terbangun, saya rasa prestasi luar biasa. Di mana ada negara dalam setahun bisa membangun koperasi sebanyak Indonesia?” ujar Presiden. Target jangka panjang dari program strategis nasional ini adalah pembentukan 80.000 koperasi di seluruh Indonesia, mencakup wilayah desa, kelurahan, hingga nelayan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa guna menjamin profesionalisme dan tata kelola yang bersih, pemerintah tengah merekrut 30.000 manajer profesional untuk mengelola KDMP serta 5.476 pengelola untuk koperasi nelayan di bawah naungan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Para manajer ini berstatus sebagai pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara selama dua tahun pertama untuk memastikan aset koperasi tidak jatuh ke dalam kepentingan politik praktis di tingkat lokal.
KDMP dirancang sebagai penyedia sistem logistik pangan dan pusat keuangan mikro di tingkat perdesaan. Koperasi ini bertugas menyerap hasil bumi petani lokal dengan harga yang layak demi menaikkan Nilai Tukar Petani (NTP), sekaligus menjual bahan pokok bersubsidi seperti beras, minyak goreng, gula, dan garam dengan harga terkendali demi menekan inflasi daerah.
Penghormatan Sejarah Buruh di Museum Ibu Marsinah
Sebelum meresmikan operasional KDMP di Kertosono, pada Sabtu pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Presiden Prabowo terlebih dahulu meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro. Langkah peresmian memorial ini dilakukan tepat enam bulan setelah Presiden secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah pada 10 November 2025 lalu. Penganugerahan ini menandai pengakuan resmi negara atas keberanian aktivis buruh perempuan berumur 24 tahun tersebut, yang tewas secara keji pada Mei 1993 setelah memperjuangkan hak-hak normatif pekerja.
Presiden Prabowo didampingi oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta keluarga almarhumah Marsinah menandatangani prasasti peresmian. Sekitar 7.000 buruh dari berbagai daerah di Jawa Timur turut memadati area sekitar kompleks memorial untuk menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut.
Menariknya, pembangunan kompleks memorial yang berdiri di atas lahan seluas 938,6 meter persegi ini sama sekali tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) [20]. “Total anggaran museum ini mencapai hampir Rp 3,8 miliar dan semuanya berasal dari iuran gotong royong keluarga besar KSPSI AGN,” tegas Andi Gani [20]. Proses konstruksi fisik bangunan sendiri memakan waktu yang cukup cepat, yakni sekitar 4,5 bulan sejak peletakan batu pertama pada 27 Desember 2025.
Presiden Prabowo beserta beberapa menteri kabinet, di antaranya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, berkesempatan melakukan peninjauan ke dalam ruang museum. Di dalam bangunan tersebut dipamerkan berbagai memorabilia perjalanan hidup Marsinah. Beberapa koleksi ikonik yang dipamerkan meliputi sepeda ontel tua yang digunakan Marsinah semasa sekolah dan bekerja, ijazah asli SD hingga SMA, seragam kerja pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) Sidoarjo, tas, dompet, serta piagam penghargaan kemanusiaan termasuk Yap Thiam Hien Award yang diraihnya pada tahun 1993. Di sudut lainnya, terdapat diorama yang menggambarkan sejarah aksi buruh tahun 1990-an dan visualisasi May Day 2025.
Di bagian belakang kompleks museum, juga dibangun fasilitas Rumah Singgah yang disediakan secara gratis bagi para peziarah atau aktivis buruh dari luar kota. Fasilitas ini dapat digunakan maksimal untuk menginap satu malam agar tetap teratur dan terjaga fungsionalitasnya.
Peringatan Keras terhadap Kekerasan Aparat
Dalam pidato peresmiannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pendirian museum khusus perjuangan buruh merupakan peristiwa yang sangat langka, tidak hanya di tingkat nasional melainkan juga di tingkat global. Bagi Presiden, sosok Marsinah adalah simbol perjuangan abadi masyarakat marjinal atau rakyat kecil yang tidak memiliki kekuatan struktural.
Presiden juga memanfaatkan momentum peresmian ini untuk memperingatkan keras jajaran aparat keamanan dan birokrasi negara agar menghentikan segala bentuk tindakan kekerasan berlebihan terhadap rakyat yang tengah memperjuangkan hak-hak hidup mereka. “Falsafah dasar negara kita adalah Pancasila, yang tertera mulia dalam pembukaan UUD kita. Kekerasan keji seperti yang dialami Ibu Marsinah di masa lalu tidak boleh terulang lagi di masa kini,” tegas Presiden Prabowo.
Kunjungan komprehensif ini mengirimkan sinyal kuat kepada publik bahwa pembangunan ekonomi nasional di era Prabowo Subianto bertumpu pada kedaulatan masyarakat desa, sembari menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan, perlindungan hak sipil, serta keadilan bagi kelas pekerja. By Mukroni
- Berita Terkait :
Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Lebaran 2025 Turun Menjadi 154,6 Juta Orang
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik, Industri Mamin Nasional Tertekan
Strategi Industri Ritel 2026: Mengoptimalkan Momentum Ramadan untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Survei LPEM UI: Mayoritas Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Memburuk di Triwulan I-2026
Pangan Mahal dan Mudik Kolosal: Tantangan Nasional Menjelang Idul Fitri 1447 H
Pangan dalam Cengkeraman Perang dan Cuaca Ekstrem 2026
Tergerusnya Produksi Beras Nasional di Kuartal I-2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas
Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang
Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

