• Ming. Jun 28th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Potensi Ekspor Ribuan Desa: Mampukah UMKM Kita Menembus Pasar Global?

ByAdmin

Jun 28, 2026
Penggelontoran dana Rp200 T ke Bank BUMN oleh Menkeu Purbaya dituding langgar konstitusi dan pengamat ekonomi juga mengingatkan untuk waspada inflasi.-dok disway-
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Peringatan Hari UMKM Internasional yang jatuh pada tanggal 27 Juni menjadi momentum krusial bagi perekonomian akar rumput di Indonesia. Di tengah dinamika ekonomi global yang kian tidak menentu serta fluktuasi nilai tukar rupiah, muncul sebuah pertanyaan penting: mampukah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berada di pelosok desa melangkah lebih jauh dari sekadar bertahan hidup, untuk menembus dan bersaing di pasar internasional?

Indonesia dianugerahi ribuan desa dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Potensi ini tidak sekadar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di tingkat global. Melalui program “Desa BISA Ekspor” yang digagas dan diimplementasikan secara bertahap sejak September 2025, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya menjadikan desa sebagai pusat kekuatan ekonomi baru. Tujuannya jelas, yakni mendatangkan devisa bagi negara sekaligus menyejahterakan masyarakat desa melalui komoditas unggulan lokal.

Berdasarkan data pemetaan Kemendag, tercatat ada 2.616 desa yang memiliki potensi ekspor dan tersebar di 32 provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 787 desa telah masuk dalam kategori kluster 1, yang artinya berstatus sudah siap ekspor. Sementara itu, 1.708 desa lainnya masih berada di kluster 2, yang berarti membutuhkan pendampingan lebih lanjut guna memperkuat ekosistem ekspor—mulai dari kesiapan sumber daya manusia, logistik, pemasaran, akses keuangan, hingga adopsi teknologi. Sisanya, sebanyak 121 desa merupakan sentra industri kecil dan menengah (IKM).

Kesiapan setiap daerah tentu bervariasi dan memunculkan fenomena yang menarik. Aceh, misalnya, memiliki jumlah desa potensi ekspor terbanyak secara nasional dengan 398 desa. Namun ironisnya, hanya sekitar 7 persen (28 desa) yang benar-benar siap ekspor atau masuk ke kluster 1. Sebaliknya, Sulawesi Selatan justru tampil sebagai provinsi yang paling siap. Dari 247 desanya yang berpotensi, sebanyak 64,4 persen atau 159 desa telah berstatus siap ekspor. Sektor perkebunan, khususnya komoditas kakao yang tersebar di 130 desa, menjadi primadona dan telah menembus pasar luar negeri seperti Malaysia, India, Amerika Serikat, China, hingga Jepang. Selain kakao, ada pula gula aren, rumput laut, minyak nilam, dan produk kriya unggulan seperti tenun bira dan ukiran kayu.

Potensi besar dari desa-desa tersebut pada praktiknya sangat ditopang oleh keberadaan UMKM sebagai pilar utama perekonomian bangsa. Tercatat, UMKM menggerakkan lebih dari 90 persen roda ekonomi nasional dengan jumlah yang terus meningkat hingga mencapai 65,5 juta unit pada 2025. Sektor ini juga menyerap 97 persen tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Bahkan, pada triwulan pertama tahun 2026, kegiatan penjajakan bisnis (business matching) bagi UMKM berorientasi ekspor telah berhasil meraup potensi transaksi sebesar 23,6 juta dolar AS.

Akan tetapi, jalan menuju pasar global tidaklah bebas hambatan. Akronim “BISA” dalam program Kemendag tersebut merupakan singkatan dari “Berani Inovasi, Siap Adaptasi”. Inilah yang rupanya menjadi tantangan terberat. Laporan Survei Usaha Kecil Asia Pasifik dari CPA (Certified Practising Accountant) Australia menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan: selama lima tahun terakhir sejak 2022, Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan yang UMKM-nya konsisten tidak mengalami peningkatan inovasi. Tercatat, hanya 28 persen pelaku usaha kecil yang berencana memperkenalkan produk atau layanan baru yang unik pada 2026, merosot dari angka 37 persen pada tahun sebelumnya.

Kurangnya inovasi ini bisa menjadi kelemahan fatal di pasar internasional yang sangat kompetitif. Untuk bisa bersaing, UMKM desa tidak bisa lagi sekadar menjual barang mentah (raw material). Mereka dituntut menciptakan nilai tambah (value-added) melalui produk olahan yang kreatif. Selain itu, UMKM desa juga masih harus menghadapi tantangan sistemik berupa kebijakan suku bunga yang tinggi. Tekanan pembiayaan ini tidak hanya menghambat ekspansi bisnis, tetapi juga mempersempit margin keuntungan para pelaku usaha di akar rumput.

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Meski dihadapkan pada krisis inovasi dan tantangan modal, secercah optimisme yang luar biasa tetap menyala di kalangan pelaku usaha. Survei CPA Australia yang sama juga mengungkapkan bahwa 86 persen pelaku UMKM di Indonesia sangat yakin bisnis mereka akan terus tumbuh. Sebanyak 72 persen pelaku usaha kecil juga telah merasakan secara langsung dampak positif dari teknologi terhadap profitabilitas mereka sepanjang 2025. Kepercayaan diri ini pun terbukti dari ekspansi penyerapan tenaga kerja, di mana 40 persen usaha kecil menambah jumlah karyawannya pada 2025, dan angka ini diproyeksikan akan terus naik menjadi 52 persen pada 2026.

Pada akhirnya, program Desa BISA Ekspor adalah sebuah jembatan emas bagi komoditas lokal. Namun, jembatan ini hanya bisa dilewati dengan aman apabila pemerintah, swasta, dan pelaku UMKM itu sendiri bersinergi untuk meruntuhkan tembok stagnasi inovasi. Dengan pendampingan yang intensif, adaptasi digital yang lebih masif, dan keberanian untuk berinovasi meramu produk baru, UMKM desa niscaya akan “naik kelas” dan benar-benar membuktikan diri sebagai motor penggerak devisa Indonesia di masa depan. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat

Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 18.039 per Dolar AS, Bank Indonesia Lipat Gandakan Intervensi

PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen

Rupiah Tembus Rp17.600: Mengapa Klaim ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’ Terbantahkan oleh Realitas di Lapangan?

Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga

Navigasi Subsidi Energi 2026: Menakar Ketahanan APBN dan Stabilitas Makroekonomi di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026

Paradoks Beras Indonesia: Harga Eceran Melambung Lewati HET Saat Cadangan Nasional Capai Titik Tertinggi dalam Sejarah 

Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen

BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional

“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump

Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri

Paradoks Beras Indonesia: Cadangan Tembus Rekor 5 Juta Ton, Harga di 109 Daerah Justru Merangkak Naik

Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia

Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia

Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026

BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan

Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global

Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza

Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF

497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional

Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal

Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata

Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza

Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir

Dari Iklim ke Gaza: Israel Culik Greta, Paksa Cium Bendera – Tuduhan Dehidrasi dan Pemukulan Mengguncang Dunia

Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel

Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas

Gencatan Senjata 2025 Runtuh: Israel Serang Qatar, Gaza City Terancam, Abraham Accords di Ujung Tanduk

Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina

Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!

Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’

Greta Thunberg Tantang Blokade Israel: Armada Bantuan Gaza Tiba di Tunisia di Tengah Ultimatum Trump dan Pembantaian Jurnalis

AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa

Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas: Krisis Kemanusiaan Memburuk di Tengah Jalan Buntu Diplomasi

Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel

Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?

Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian

Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!

DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI

Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam

Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi

Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza

Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump

Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah

Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS

DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!

Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia

MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *