• Rab. Jul 1st, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Tekanan Ekonomi Makin Berat, Keluarga Indonesia Terpaksa Ketatkan Ikat Pinggang

ByAdmin

Jul 1, 2026
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto Pikiran Rakyat)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi pada pertengahan tahun 2026, keluarga-keluarga di Indonesia kian merasakan beban yang menghimpit. Kenaikan biaya hidup yang terus merangkak naik tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan yang sepadan. Akibatnya, strategi “ikat pinggang” atau penghematan ketat menjadi jalan satu-satunya bagi banyak rumah tangga untuk bisa sekadar bertahan hidup dan memastikan dapur tetap mengepul.

Realita pahit ini salah satunya dialami oleh Daya, seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja. Ia menuturkan bahwa anggaran keluarga kini harus diatur dengan sangat hati-hati. ”Kalau dulu masih bisa membeli kebutuhan sekunder, seperti pakaian atau sepatu baru. Sekarang semuanya harus ditahan,” ungkapnya dengan nada pasrah. Prioritas keuangan keluarganya saat ini telah dipangkas dan hanya tertuju pada kebutuhan yang paling esensial: kebutuhan pokok sehari-hari, biaya pendidikan anak, cicilan rumah, dan ongkos transportasi.

Berbagai upaya penghematan dilakukan Daya demi menjaga stabilitas finansial. Mulai dari membawa bekal makanan dari rumah untuk dirinya dan anak-anak, hingga menekan penggunaan listrik semaksimal mungkin agar tagihan bulanan tetap terjangkau. Meski begitu, Daya memiliki prinsip teguh terkait pendidikan. Ia menolak untuk mengurangi anggaran sekolah anak-anaknya dan tetap memilih menyekolahkan mereka di institusi swasta karena meyakini kualitas yang didapat sebanding dengan biaya yang harus dibayar.

Tekanan yang dirasakan Daya semakin berlapis ketika kebijakan efisiensi anggaran di kementerian dan lembaga pemerintah mulai diberlakukan. Kebijakan ini serta-merta memangkas peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan, seperti dari biaya perjalanan dinas maupun honor kegiatan di luar kantor. ”Sekarang saya hanya mengandalkan gaji pokok, tunjangan fungsional, dan tunjangan kinerja,” keluhnya.

Kisah perjuangan serupa juga datang dari sektor informal. Awang (30), seorang pengemudi ojek daring di kawasan Tangerang Selatan, merasakan langsung pahitnya penurunan pendapatan. Pada masa libur sekolah, penghasilannya anjlok hingga hanya berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari. Angka ini tentu terasa berat di tengah tingginya harga kebutuhan. ”Ya, mau bagaimana lagi. Ada istri dan anak yang harus dinafkahi,” keluh Awang yang terpaksa memeras keringat sejak dini hari hingga larut malam demi menutup kebutuhan keluarganya. Secercah harapan kini disandarkannya pada regulasi baru terkait penurunan potongan komisi aplikator dari 20 persen menjadi 8 persen yang mulai efektif diberlakukan pada 1 Juli 2026.

Menanggapi fenomena ini, Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Tin Herawati, memberikan peringatan. Menurutnya, jurang antara biaya hidup dan pendapatan ini berpotensi kuat melahirkan “kelompok miskin baru”. Banyak keluarga kini terjebak dalam situasi defisit finansial, di mana pengeluaran jauh lebih besar daripada pemasukan, sehingga terpaksa berutang melalui pinjaman daring maupun rentenir.

”Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, dampaknya bisa meluas, mulai dari masalah gizi, putus sekolah, rendahnya kualitas pengasuhan, hingga konflik yang berujung perceraian,” jelas Tin. Kemiskinan ini juga merampas hak anak atas pengasuhan yang layak, karena orangtua yang kelelahan bekerja tidak lagi memiliki waktu dan energi untuk mendampingi tumbuh kembang buah hatinya. Masalah ini kian diperberat oleh perubahan sosial akibat gawai dan internet yang kerap mengurangi interaksi langsung, memicu budaya konsumtif, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.

Fakta kerentanan ini tergambar jelas dalam data Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Nilai rata-rata Indeks Kerentanan Keluarga (Iketan) Indonesia pada tahun 2025 telah menyentuh angka 20,8—melonjak sangat jauh di atas target pemerintah sebesar 8,6. Tingginya angka Iketan ini menjadi alarm bahaya bahwa keluarga Indonesia sangat rentan terhadap konflik, disfungsi, dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Untuk menghadapi badai ini, komunikasi dan kemampuan adaptasi menjadi kunci utama. Daya membuktikan hal ini dengan selalu bersikap terbuka kepada anak-anaknya mengenai kondisi keuangan keluarga agar mereka memahami situasi sesungguhnya. Sikap transparan ini berbuah manis ketika sang anak justru memberikan dukungan emosional dengan berkata, ”Bunda sudah memberi yang terbaik buat aku.” Kalimat sederhana itu menjadi penguat bagi Daya untuk terus bertahan.

Meski demikian, Kepala Pusat Kesehatan Mental Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Diana Setiyawati, mengingatkan bahwa kemampuan komunikasi banyak keluarga di Indonesia masih belum mendalam. Interaksi sering kali hanya sebatas rutinitas harian tanpa menyentuh perasaan, kecemasan, atau persoalan inti keluarga. Akibatnya, keluarga kerap menemui jalan buntu saat harus mencari solusi bersama.

Siasat Peternak Blitar Hadapi Anjloknya Harga Telur: Tolak Tengkulak, Pilih Jual Langsung ke Konsumen

Diana juga menyoroti minimnya kehadiran negara yang belum terintegrasi secara penuh dalam isu ini. Di banyak negara maju, keluarga dipandang sebagai investasi sosial yang mendapatkan dukungan nyata melalui layanan pengasuhan, pendidikan orangtua, hingga fasilitas publik yang ramah keluarga. ”Keluarga bukan sekadar urusan privat. Ketahanan keluarga sangat menentukan ketahanan masyarakat dan masa depan bangsa,” tegasnya.

Penguatan ketahanan keluarga jelas tidak bisa hanya dibebankan pada kemampuan adaptasi individu dan rumah tangga. Negara perlu segera turun tangan menciptakan ekosistem ekonomi dan sosial yang mendukung. Tanpa upaya serius untuk mengurai dan mengurangi tekanan ekonomi, kerentanan keluarga akan terus meningkat dan menjadi bom waktu yang memperbesar berbagai persoalan sosial di masa depan. By Mukroni

  • Berita Terkait :

Siasat Peternak Blitar Hadapi Anjloknya Harga Telur: Tolak Tengkulak, Pilih Jual Langsung ke Konsumen

Potensi Ekspor Ribuan Desa: Mampukah UMKM Kita Menembus Pasar Global?

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat

Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 18.039 per Dolar AS, Bank Indonesia Lipat Gandakan Intervensi

PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen

Rupiah Tembus Rp17.600: Mengapa Klaim ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’ Terbantahkan oleh Realitas di Lapangan?

Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga

Navigasi Subsidi Energi 2026: Menakar Ketahanan APBN dan Stabilitas Makroekonomi di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026

Paradoks Beras Indonesia: Harga Eceran Melambung Lewati HET Saat Cadangan Nasional Capai Titik Tertinggi dalam Sejarah 

Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen

BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional

“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump

Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri

Paradoks Beras Indonesia: Cadangan Tembus Rekor 5 Juta Ton, Harga di 109 Daerah Justru Merangkak Naik

Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia

Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia

Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026

BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan

Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global

Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza

Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF

497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional

Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal

Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata

Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza

Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir

Dari Iklim ke Gaza: Israel Culik Greta, Paksa Cium Bendera – Tuduhan Dehidrasi dan Pemukulan Mengguncang Dunia

Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel

Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas

Gencatan Senjata 2025 Runtuh: Israel Serang Qatar, Gaza City Terancam, Abraham Accords di Ujung Tanduk

Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina

Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!

Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’

Greta Thunberg Tantang Blokade Israel: Armada Bantuan Gaza Tiba di Tunisia di Tengah Ultimatum Trump dan Pembantaian Jurnalis

AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa

Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas: Krisis Kemanusiaan Memburuk di Tengah Jalan Buntu Diplomasi

Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel

Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?

Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian

Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!

DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI

Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam

Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi

Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza

Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump

Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah

Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS

DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!

Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia

MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *