• Sen. Jul 13th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Ironi Beras Bulog: Stok Menggunung Cetak Rekor, Harga Malah Naik dan Diserbu Kutu

ByAdmin

Jul 13, 2026
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com Sebuah ironi besar tengah membayangi ketahanan pangan Indonesia di pertengahan tahun 2026. Di satu sisi, pemerintah bangga dengan torehan angka cadangan pangan yang melimpah ruah. Di sisi lain, masyarakat harus menghadapi kenyataan pahit: harga beras di pasar terus merangkak naik, terjadi kelangkaan beras premium di ritel modern, sementara jutaan ton beras di gudang-gudang Perum Bulog justru terancam turun mutu dan diserbu hama kutu.

Rekor CadaIroni Beras Bulog: Stok Menggunung Cetak Rekor, Harga Malah Naik dan Diserbu Kutu

Sebuah ironi besar tengah membayangi ketahanan pangan Indonesia di pertengahan tahun 2026. Di satu sisi, pemerintah bangga dengan torehan angka cadangan pangan yang melimpah ruah. Di sisi lain, masyarakat harus menghadapi kenyataan pahit: harga beras di pasar terus merangkak naik, terjadi kelangkaan beras premium di ritel modern, sementara jutaan ton beras di gudang-gudang Perum Bulog justru terancam turun mutu dan diserbu hama kutu.

Rekor Cadangan Beras Tertinggi yang Berujung Masalah

Berdasarkan catatan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 7 Juli 2026, jumlah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog mencapai angka fantastis, yakni 5,2 juta ton. Volume ini diakui sebagai stok beras tertinggi sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka. Namun, alih-alih dioptimalkan secara taktis untuk menstabilkan harga pasar yang sedang bergejolak, tumpukan beras yang menggunung tersebut justru mulai mengalami penurunan kualitas akibat terlalu lama disimpan di gudang.

Masalah penumpukan ini berujung pada keresahan warga di tingkat tapak. Pada pekan kedua Mei 2026, wabah kutu beras menyerbu permukiman warga di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lokasi pemukiman yang berdekatan dengan kompleks pergudangan Perum Bulog Karawang membuat jutaan kutu migrasi dan masuk ke rumah-rumah warga. Bulog bergerak cepat melakukan penyemprotan disinfektan dan pengasapan (fumigasi), serta mengevaluasi total sistem sanitasi dan pengendalian hama terpadu di gudang tersebut.

Satu bulan berselang, tepatnya pada pekan pertama Juni 2026, giliran warga di 23 desa di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, yang melayangkan protes keras. Mereka menolak beras bantuan pangan yang disalurkan karena kondisinya yang sudah berwarna kuning kecokelatan dan tidak layak konsumsi. Meskipun Bulog segera menarik dan mengganti beras bermasalah tersebut, insiden ini terlanjur memicu perhatian serius di tingkat parlemen.

Sorotan Tajam Parlemen atas Usia Simpan Beras

Isu penurunan mutu ini menjadi agenda krusial dalam rapat kerja Komisi IV DPR bersama Bapanas pada 10 Juni 2026. Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), mempertanyakan efektivitas pengelolaan dan perputaran beras Bulog. Politikus Partai Gerindra tersebut mengungkapkan bahwa dari sekitar 5 juta ton stok beras yang ada, sebanyak 1,3 juta ton di antaranya sudah berusia simpan antara satu hingga satu setengah tahun.

Sebagai contoh, di wilayah Jawa Timur, dari total stok sebesar 1,4 juta ton, sekitar 400.000 ton merupakan beras usang yang telah disimpan lebih dari satu tahun. Titiek mendesak pemerintah agar mempercepat perputaran beras Bulog dan menyortir beras yang telah berusia di atas satu tahun untuk dialihkan sebagai pakan ternak guna menghindari kerugian mutu yang lebih parah.

Merespons kritik tersebut, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa dari total 5,305 juta ton CBP yang dikelola Bulog, proporsi beras yang mengalami kerusakan berat hingga harus dibuang (disposal) jumlahnya relatif sangat kecil, yaitu hanya sekitar 3.619 ton. Sementara itu, beras yang mengalami penurunan mutu namun masih bisa diperbaiki kualitasnya (reprocessing) tercatat sebanyak 93.488 ton (sekitar 1,76 persen dari total stok). Dari jumlah beras turun mutu tersebut, diperkirakan hanya 10 persen atau sekitar 9.000 ton yang kualitasnya sudah benar-benar tidak dapat diselamatkan lagi.

Tekanan Inflasi dan Kelangkaan Beras Premium

Meskipun pemerintah mengeklaim cadangan beras melimpah, kondisi riil di pasar menunjukkan situasi yang bertolak belakang. Sepanjang semester pertama tahun 2026, masyarakat harus menghadapi tekanan inflasi beras tahunan selama enam bulan berturut-turut. Data mencatat tingkat inflasi tahunan beras dari Januari hingga Juni 2026 masing-masing sebesar 3,44 persen, 3,61 persen, 3,71 persen, 4,36 persen, 4,55 persen, dan 3,98 persen.

Kesulitan masyarakat kian bertambah dengan hilangnya beras premium di jaringan ritel modern. Kekosongan pasokan beras premium ini kemudian diisi oleh beras fortifikasi (beras yang diperkaya vitamin dan mineral). Masalahnya, harga beras fortifikasi ini berkisar antara Rp92.500 hingga Rp95.500 per kemasan 5 kilogram. Jika dibandingkan dengan beras premium biasa yang berharga Rp74.500 per kemasan 5 kg, konsumen terpaksa merogoh kocek tambahan sebesar Rp18.000 hingga Rp21.000 demi mendapatkan bahan pokok tersebut.

Kondisi ini dipicu oleh tingginya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani yang berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Untuk menghindari kerugian akibat kewajiban mematuhi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium, produsen penggilingan padi skala besar mengalihkan produksinya ke beras fortifikasi yang harganya tidak diatur oleh skema HET pemerintah. Akibatnya, rata-rata harga beras nasional tetap bertahan tinggi di atas HET, diperparah dengan tingginya harga beras di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti Papua dan Maluku.

Belajar dari Kegagalan Sistem Pangan Thailand

Krisis tata kelola beras ini membuat Indonesia dinilai perlu mengambil pelajaran berharga dari Thailand. Negara pengekspor beras utama tersebut kini menerapkan sistem perputaran stok (rolling stock) yang ketat, audit berkala terhadap persediaan fisik gudang, serta pengawasan ketat terhadap dana pembelian gabah.

Sikap disiplin ini diterapkan Thailand agar tidak mengulangi luka lama skandal beras tahun 2014 di bawah pemerintahan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Kala itu, pemerintah Thailand membeli gabah petani jauh di atas harga pasar dengan tujuan mendongkrak kesejahteraan petani sekaligus menimbun beras guna menguasai pasar global. Namun, strategi tersebut gagal total setelah India dan Vietnam membanjiri pasar dunia dengan harga yang lebih kompetitif.

Akibatnya, jutaan ton beras Thailand menumpuk dan membusuk di gudang-gudang penyimpanan, yang berujung pada kerugian negara yang ditaksir mencapai 320 miliar hingga 500 miliar baht. Dari audit menyeluruh yang melibatkan 100 tim pemeriksa, ditemukan bahwa dari total 18,7 juta ton beras yang mengendap di gudang pemerintah dan swasta, hanya 12 juta ton yang memenuhi standar mutu. Sementara 5 juta ton lainnya berada di bawah standar, dan 400.000 ton dinyatakan hilang dalam proses pengiriman.

S&P Dow Jones Masukkan RI ke Watchlist, Status Emerging Market Terancam Turun Kelas

Tantangan El Nino dan Rekomendasi Kebijakan ke Depan

Dilema tata kelola beras di Indonesia berpotensi semakin kompleks menjelang paruh kedua tahun 2026 hingga panen raya pada Maret 2027. Hal ini dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem El Nino yang telah dimulai sejak Mei 2026 dan diproyeksikan bertahan hingga Mei 2027. Dampak nyata dari El Nino ini adalah ancaman penurunan produksi beras nasional serta potensi mundurnya musim tanam pertama yang biasanya berlangsung pada periode Oktober-Maret.

Untuk mengantisipasi risiko inflasi pangan berkepanjangan dan penurunan mutu beras di gudang, pemerintah didorong untuk segera mengubah pola intervensinya:

Percepatan “Beras Kita”: Perum Bulog harus segera merealisasikan rencana produksi beras komersial dengan merek “Beras Kita” untuk kualitas medium dan premium. Beras Kita kualitas medium dapat menjadi alternatif pengganti beras program SPHP, sedangkan kualitas premium dapat menjadi solusi cepat mengatasi kelangkaan beras premium di pasar ritel.

Penyaluran CBP secara Masif: Pemerintah perlu mempercepat pelepasan stok cadangan beras yang menumpuk di gudang secara lebih masif ke pasar guna menekan harga eceran, dengan tetap menjaga keseimbangan harga GKP di tingkat petani.

Distribusi ke Ritel Modern: Ketimbang memprioritaskan ekspor beras premium ke luar negeri, pemerintah sebaiknya mengarahkan pasokan beras tersebut untuk mengisi kekosongan di jaringan ritel modern dalam negeri guna membantu daya beli masyarakat kelas menengah yang sedang tertekan. By Mukroni

  • Berita Terkait :

S&P Dow Jones Masukkan RI ke Watchlist, Status Emerging Market Terancam Turun Kelas

Badai Sempurna Perekonomian: Rupiah Tertekan, Manufaktur Kontraksi, dan Alarm Negatif dari Fitch

Beras Premium “Hidup Segan Mati Tak Mau”, Beras Fortifikasi Kini Kuasai Ritel Modern

Ancaman Inflasi Lanjutan: Dari El Nino hingga Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Tekanan Ekonomi Makin Berat, Keluarga Indonesia Terpaksa Ketatkan Ikat Pinggang

Siasat Peternak Blitar Hadapi Anjloknya Harga Telur: Tolak Tengkulak, Pilih Jual Langsung ke Konsumen

Potensi Ekspor Ribuan Desa: Mampukah UMKM Kita Menembus Pasar Global?

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat

Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 18.039 per Dolar AS, Bank Indonesia Lipat Gandakan Intervensi

PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen

Rupiah Tembus Rp17.600: Mengapa Klaim ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’ Terbantahkan oleh Realitas di Lapangan?

Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga

Navigasi Subsidi Energi 2026: Menakar Ketahanan APBN dan Stabilitas Makroekonomi di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026

Paradoks Beras Indonesia: Harga Eceran Melambung Lewati HET Saat Cadangan Nasional Capai Titik Tertinggi dalam Sejarah 

Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen

BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional

“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump

Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri

Paradoks Beras Indonesia: Cadangan Tembus Rekor 5 Juta Ton, Harga di 109 Daerah Justru Merangkak Naik

Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia

Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia

Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026

BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan

Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global

Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza

Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF

497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional

Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal

Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata

Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza

Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir

Dari Iklim ke Gaza: Israel Culik Greta, Paksa Cium Bendera – Tuduhan Dehidrasi dan Pemukulan Mengguncang Dunia

Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel

Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas

Gencatan Senjata 2025 Runtuh: Israel Serang Qatar, Gaza City Terancam, Abraham Accords di Ujung Tanduk

Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina

Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!

Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’

Greta Thunberg Tantang Blokade Israel: Armada Bantuan Gaza Tiba di Tunisia di Tengah Ultimatum Trump dan Pembantaian Jurnalis

AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa

Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas: Krisis Kemanusiaan Memburuk di Tengah Jalan Buntu Diplomasi

Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel

Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?

Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian

Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!

DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI

Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam

Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi

Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza

Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump

Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah

Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS

DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!

Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia

MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *