Jakarta, Kowantaranews.com — Kalangan dunia usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan bahwa prioritas utama Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti seharusnya difokuskan pada menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dibandingkan memacu penurunan suku bunga acuan (BI-Rate). Ketergantungan industri manufaktur nasional terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri yang masih sangat tinggi menjadi alasan mendasar di balik dorongan tersebut.
Ketua Komite Analisis Kebijakan Ekonomi Apindo, Aviliani, mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen bahan baku industri nasional saat ini masih dipasok melalui jalur impor. Implikasinya, setiap gejolak pada kurs Rupiah secara langsung mentransmisikan tekanan terhadap kalkulasi biaya pokok produksi sektor manufaktur.
”Yang menjadi persoalan sebenarnya bukan semata-mata Rupiah berada di level berapa. Kalau, misalnya, berada di level Rp18.000 per dolar AS tetapi nilainya stabil, pelaku usaha masih bisa melakukan kalkulasi dan penyesuaian. Kondisi yang paling berat justru jika nilainya terus naik dan turun secara fluktuatif, karena pengusaha tidak mungkin terus-menerus mengubah harga jual produknya,” ujar Aviliani seusai konferensi pers Pre-Rakerkonas XXXV di Jakarta.
Ketika Rupiah mengalami pelemahan mendadak, sektor manufaktur dihadapkan pada pilihan yang serba sulit. Produsen harus memilih antara menaikkan harga jual di tingkat konsumen dengan risiko penurunan volume penjualan, atau mempertahankan harga jual dengan cara mengurangi ukuran maupun spesifikasi produk (shrinkflation). Dilema ini dirasakan paling berat oleh industri manufaktur yang terikat oleh kontrak harga dan perencanaan produksi dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun secara teori pelemahan Rupiah dapat meningkatkan daya saing harga produk ekspor di pasar global, Aviliani menilai manfaat tersebut masih sangat terbatas bagi Indonesia. Kapasitas ekspor manufaktur nasional dinilai belum cukup besar untuk menjadi penyangga utama stabilitas nilai tukar. Berbeda dengan negara berorientasi ekspor masif seperti China yang mampu menopang mata uangnya melalui surplus perdagangan, penguatan Rupiah selama ini lebih banyak didorong oleh aliran modal asing (capital inflows) ke pasar obligasi dan saham.
Oleh karena itu, strategi paling realistis dalam jangka pendek adalah menjaga kepercayaan investor agar arus modal asing tetap bertahan di pasar keuangan domestik. Terkait respons terhadap suku bunga, Aviliani menilai dampaknya terhadap keputusan investasi bersifat relatif. Investor jangka panjang cenderung memprioritaskan kepastian hukum dan kepastian kebijakan pemerintah terlebih dahulu sebelum memperhitungkan variabel makroekonomi seperti suku bunga. Jika prospek bisnis dinilai menguntungkan, kendala suku bunga tinggi masih dapat disiasati melalui pembiayaan eksternal atau instrumen pasar modal.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani berharap Bank Indonesia tetap konsisten menerapkan bauran kebijakan (policy mix) yang seimbang dan berbasis data. Stabilitas kurs perlu dijaga tanpa memberikan tekanan berlebihan pada sektor-sektor produktif. Shinta menggarisbawahi bahwa tantangan utama dunia usaha bukan sekadar tingkat suku bunga acuan, melainkan koordinasi lintas sektor untuk mengatasi hambatan struktural seperti tingginya biaya logistik, tumpang tindih regulasi, serta beban biaya operasional yang terus menggerus daya saing industri nasional.
Ironi Beras Bulog 2026: Rekor Cadangan Melimpah di Tengah Serbuan Kutu, Penurunan Mutu, dan Inflasi
Dari sisi otoritas moneter, Pjs Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa arah kebijakan bank sentral tidak mengalami perubahan. Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap ditempatkan sebagai kunci utama kebijakan moneter saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pernyataan BI sebagai sinyal kesinambungan kebijakan untuk meredam keraguan pasar pasca-pergantian kepemimpinan. Penekanan pada stabilitas kurs penting untuk menahan laju inflasi barang impor (imported inflation), terutama di tengah realisasi inflasi Juni 2026 yang tercatat mencapai 3,34 persen secara tahunan (YoY)—mendekati batas atas target BI 1,5–3,5 persen. Sementara itu, Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan prasyarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, di mana BI dapat terus menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan melalui bauran instrumen moneter serta insentif likuiditas sektoral. By Mukroni
- Berita Terkait :
Ironi Beras Bulog: Stok Menggunung Cetak Rekor, Harga Malah Naik dan Diserbu Kutu
S&P Dow Jones Masukkan RI ke Watchlist, Status Emerging Market Terancam Turun Kelas
Badai Sempurna Perekonomian: Rupiah Tertekan, Manufaktur Kontraksi, dan Alarm Negatif dari Fitch
Beras Premium “Hidup Segan Mati Tak Mau”, Beras Fortifikasi Kini Kuasai Ritel Modern
Ancaman Inflasi Lanjutan: Dari El Nino hingga Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Tekanan Ekonomi Makin Berat, Keluarga Indonesia Terpaksa Ketatkan Ikat Pinggang
Potensi Ekspor Ribuan Desa: Mampukah UMKM Kita Menembus Pasar Global?
Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat
Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI
Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat
Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur
PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen
Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga
Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026
Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen
BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional
“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump
Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri
Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia
Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia
Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026
BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan
Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global
Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza
Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF
497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional
Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal
Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata
Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza
Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir
Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel
Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas
Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina
Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!
Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’
AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa
Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel
Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian
Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!
DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI
Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam
Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi
Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza
Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump
Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah
Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS
DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!
Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia
MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

