• Jum. Agu 7th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

Dilema Ekonomi 2026: Kemiskinan Menyusut, Rasio Gini Mendorong Kesenjangan

ByAdmin

Agu 7, 2026
Anak-anak bermain di kawasan padat penduduk di Kampung Bandan, Jakarta, Jumat (14/10/2022). (Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com — Kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 menampilkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, indikator makro menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menekan angka kemiskinan hingga menyentuh level terendah. Namun di sisi lain, ketimpangan pengeluaran dan konsentrasi kekayaan masyarakat justru kian menganga, menciptakan fenomena pelebaran jurang kesenjangan sosial yang kian mengkhawatirkan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebanyak 22,93 juta orang. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 430.000 orang jika dibandingkan dengan data periode September 2025. Secara persentase, tingkat kemiskinan nasional berhasil ditekan dari 8,25 persen menjadi 8,07 persen.

Penurunan persentase tersebut diukur menggunakan indikator Garis Kemiskinan (GK) nasional, yang pada Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp 669.235 per kapita per bulan—mengalami kenaikan 4,33 persen dibandingkan September 2025. Jika dikalkulasikan di tingkat rumah tangga dengan asumsi rata-rata keluarga miskin memiliki 4,62 anggota, maka garis kemiskinan berada pada kisaran Rp 3.091.866 per rumah tangga per bulan. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menegaskan bahwa garis kemiskinan ini menjadi ambang batas resmi untuk membedakan kelompok penduduk miskin dan tidak miskin berdasarkan pendekatan pengeluaran.

Jurang Ketimpangan Desa-Kota dan Anomali Tabungan

Meskipun statistik tren kemiskinan bergerak melandai sejak Maret 2025, capaian ini diiringi oleh peningkatan kesenjangan ekonomi. Data BPS mencatat rasio Gini Indonesia pada Maret 2026 melonjak menjadi 0,368. Kenaikan rasio Gini ini mencerminkan meleburnya pemerataan pendapatan, terutama akibat melebarnya jurang perbedaan tingkat kesejahteraan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Direktur Celios, Media Wahyudi Askar, menilai pertumbuhan ekonomi yang tercipta belum terdistribusi secara adil. Menurutnya, pemangkasan anggaran daerah turut memperkeruh kondisi sosial ekonomi di daerah perdesaan, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional cenderung hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu di kawasan perkotaan.

Anomali kesenjangan ini dipertegas oleh laporan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Mei 2026. Meski total Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan tumbuh impresif hingga 13,4 persen secara tahunan (year-on-year), struktur kepemilikan simpanan masyarakat menunjukkan ketimpangan yang ekstrem.

Dari total 682,1 juta rekening simpanan di perbankan nasional, mayoritas rekening bersaldo di bawah Rp 100 juta hanya menguasai 11,06 persen dari total nilai simpanan. Sebaliknya, kelompok elite pemilik rekening dengan saldo di atas Rp 1 miliar—yang jumlahnya hanya 0,12 persen dari total rekening—justru menguasai 70,85 persen dari total DPK nasional.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyoroti bahwa pertumbuhan DPK yang tinggi tidak bisa dijadikan tolok ukur membaiknya daya beli atau kemampuan menabung masyarakat secara menyeluruh. Kenaikan simpanan bank saat ini murni ditopang oleh akumulasi kekayaan kelompok papan atas, sementara masyarakat menengah ke bawah berjuang keras sekadar untuk memenuhi kebutuhan harian dan mengalami penurunan kemampuan menabung.

Wacana Perubahan Standar Garis Kemiskinan

Di tengah catatan statistik tersebut, efektivitas metodologi perhitungan kemiskinan yang digunakan BPS selama ini mendapat sorotan tajam dari Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Anggota DEN, Arief Ansory, mengungkapkan bahwa Presiden telah menyetujui usulan untuk melakukan revisi dan penyempurnaan metodologi garis kemiskinan.

Saat ini, BPS mengukur garis kemiskinan makanan berdasarkan kebutuhan minimum 2.100 kalori per kapita per hari (terdiri atas 52 komoditas utama), serta kebutuhan bukan makanan yang diwakili oleh 51 komoditas di perkotaan dan 47 komoditas di perdesaan (meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Namun, menurut Arief, indikator tersebut dinilai kurang relevan dengan status Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income country). DEN mengusulkan agar garis kemiskinan disesuaikan dengan standar internasional, yakni pada rentang Rp 750.000 hingga Rp 1.000.000 per kapita per bulan.

Inflasi Pangan Menyenggol Meja Makan: Siasat Warteg Menjaga Harga Tetap Terjangkau

Arief menegaskan, jika penyesuaian standar ini diterapkan, angka kemiskinan statistik Indonesia diperkirakan akan melonjak lebih dari dua kali lipat secara instan. Meski demikian, langkah ini dianggap krusial agar data yang dihasilkan akurat dan menggambarkan kondisi riil di lapangan. Standar lama yang terlalu rendah dinilai misleading dan membuat efektivitas program pengentasan kemiskinan pemerintah menjadi sulit diukur secara obyektif.

Menanggapi rencana reformasi indikator tersebut, BPS menyatakan siap melakukan penyempurnaan melalui simulasi dan kajian ilmiah mendalam. M. Edy Mahmud menyampaikan bahwa BPS berkoordinasi secara lintas lembaga bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Bappenas, DEN, Forum Masyarakat Statistik (FMS), akademisi, serta mitra internasional. BPS menekankan pentingnya kehati-hatian agar perubahan metodologi tetap memiliki dasar ilmiah yang kokoh tanpa mengorbankan keterbandingan data antarwaktu (comparability). By Mukroni

  • Berita Terkait :

Inflasi Pangan Menyenggol Meja Makan: Siasat Warteg Menjaga Harga Tetap Terjangkau

Dari “Kaum Boro” Menjadi “Migrasi Uang”: Kisah Perjuangan di Balik Proklamasi Ibu Kota Mi Ayam Bakso Wonogiri

Menuai Kritik dan Korban Jiwa, Pemerintah Evaluasi Program Koperasi Desa Merah Putih

Siasat Peternak Blitar Hadapi Anjloknya Harga Telur: Tolak Tengkulak, Pilih Jual Langsung ke Konsumen

Potensi Ekspor Ribuan Desa: Mampukah UMKM Kita Menembus Pasar Global?

Fenomena Shrinkflation di Warteg Bantah Klaim Pemerintah Soal Fondasi Ekonomi RI yang Kuat

Peringatan Bank Dunia: Ruang Fiskal Menyempit dan Ancaman Mandeknya Ekspansi Kelas Menengah RI

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok, DPR Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI Susun Strategi Darurat

Rupiah Tembus Rp 18.000 dan IHSG Ambles 4,2%, Istana Tegaskan Menkeu Purbaya Tidak Mundur

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 18.039 per Dolar AS, Bank Indonesia Lipat Gandakan Intervensi

PP No. 20 Tahun 2026 Terbit: CV dan PT Resmi Tak Lagi Bisa Nikmati PPh Final UMKM 0,5 Persen

Rupiah Tembus Rp17.600: Mengapa Klaim ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’ Terbantahkan oleh Realitas di Lapangan?

Rupiah Terdepresiasi hingga Rp17.700-an, Tekanan Inflasi Pangan Mulai Menggerus Meja Makan Warga

Navigasi Subsidi Energi 2026: Menakar Ketahanan APBN dan Stabilitas Makroekonomi di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Defisit Ganda Menghantui Indonesia: Proyeksi Transaksi Berjalan Melebar ke 1,6 Persen pada 2026

Paradoks Beras Indonesia: Harga Eceran Melambung Lewati HET Saat Cadangan Nasional Capai Titik Tertinggi dalam Sejarah 

Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh Solid di Atas 5,5 Persen

BRIN Ungkap Potensi Ikan Gabus sebagai Superfood Lokal dan Pangan Fungsional

“May Day Strong”: Kebangkitan Kelas Pekerja Amerika Melawan Kebijakan Donald Trump

Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen untuk Jaga Daya Saing Industri

Paradoks Beras Indonesia: Cadangan Tembus Rekor 5 Juta Ton, Harga di 109 Daerah Justru Merangkak Naik

Panas Ekstrem: Pengganda Risiko Utama yang Mengancam Ketahanan Pangan Dunia

Paradoks Bio-Kedaulatan: Dilema Ketahanan Energi dan Ancaman Krisis Pangan Indonesia

Ancaman Ganda di Lumbung Pangan: Geopolitik Timur Tengah dan ‘El Niño Godzilla’ 2026

BGN Tegaskan Makan Bergizi Gratis Bukan Proyek Bisnis: Fokus Cerdaskan Anak, Bukan Pamer Pendapatan

Swasembada di Tengah Krisis: Strategi Indonesia Menghadapi ‘Dosa Ekologis’ dan Gejolak Pangan Global

Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza

Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF

497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional

Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal

Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata

Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza

Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir

Dari Iklim ke Gaza: Israel Culik Greta, Paksa Cium Bendera – Tuduhan Dehidrasi dan Pemukulan Mengguncang Dunia

Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel

Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas

Gencatan Senjata 2025 Runtuh: Israel Serang Qatar, Gaza City Terancam, Abraham Accords di Ujung Tanduk

Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina

Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!

Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’

Greta Thunberg Tantang Blokade Israel: Armada Bantuan Gaza Tiba di Tunisia di Tengah Ultimatum Trump dan Pembantaian Jurnalis

AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa

Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas: Krisis Kemanusiaan Memburuk di Tengah Jalan Buntu Diplomasi

Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel

Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?

Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian

Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!

DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI

Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam

Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi

Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza

Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump

Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah

Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS

DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!

Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia

MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *