Jakarta, Kowantaranews.com -Dunia energi Indonesia kembali diguncang oleh gejolak geopolitik di belahan dunia lain. Mulai 18 April 2026, PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga pada produk Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi secara nasional. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan dampak nyata dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ketegangan militer tersebut telah memutus arteri vital energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20% hingga 30% perdagangan minyak dan LPG global.
Pemicu utama kenaikan harga ini adalah lonjakan harga referensi internasional, Contract Price Aramco (CPA). Serangan terhadap fasilitas energi strategis di Ras Laffan Industrial City, Qatar, pada Maret 2026, telah menyebabkan penurunan ekspor LPG dari wilayah tersebut sebesar 13%. Kondisi force majeure ini mendorong Saudi Aramco dan Sonatrach (Aljazair) untuk menaikkan harga jual resmi (OSP) mereka antara 38% hingga 80% pada bulan April. Tekanan global ini diformulasikan ke dalam harga domestik melalui persamaan:
$$P_{domestik} = (CPA_{global} \times E_{USD/IDR}) + \Delta L$$
Di mana kenaikan harga terjadi karena variabel $CPA$ dan nilai tukar rupiah ($E$) yang melemah secara simultan akibat ketidakpastian pasar global.
Di pasar domestik, harga Elpiji 12 kg (Bright Gas) di wilayah Jawa dan Bali kini dibanderol Rp 228.000 per tabung, naik sekitar 18,75% dari harga sebelumnya yang sebesar Rp 192.000. Sementara itu, ukuran 5,5 kg mengalami kenaikan 18,89% menjadi Rp 107.000. Di luar Jawa, beban biaya logistik ($\Delta L$) membuat harga melambung lebih tinggi; di Kalimantan Timur mencapai Rp 238.000, di Sulawesi Selatan menyentuh Rp 250.000, dan puncaknya di Papua (Jayapura) mencapai Rp 285.000 per tabung 12 kg.
Dampak kenaikan ini langsung terasa pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama industri kuliner dan perhotelan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) menilai pelaku usaha kini berada dalam posisi terjepit. Biaya operasional melonjak drastis tepat saat harga bahan pangan strategis seperti cabai rawit merah masih bertahan tinggi di kisaran Rp 79.750 hingga Rp 85.000 per kg. Tak hanya energi, UMKM makanan juga terpukul oleh kenaikan harga plastik kemasan sebesar 40% hingga 70% yang dipicu oleh lonjakan harga bahan baku turunan petrokimia.
Stok Beras Melimpah, Bulog Justru Terganjal Kelangkaan Kemasan Plastik
Fenomena “shrinkflation” atau pengecilan porsi mulai menjadi siasat umum para pedagang agar tidak kehilangan pembeli yang daya belinya sedang tertekan inflasi nasional yang mencapai 4,76%. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memperingatkan risiko besar lainnya: migrasi massal konsumen nonsubsidi ke gas melon 3 kg. Selisih harga yang kian lebar dikhawatirkan memicu kelangkaan stok gas bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro.
Sebagai solusi jangka menengah, pemerintah mulai mempercepat program transisi energi. Anggaran sebesar Rp 2,4 triliun dialokasikan untuk pemberian gratis kompor induksi beserta alat masaknya guna mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Sejumlah pelaku UMKM di daerah bahkan telah melaporkan peningkatan keuntungan hingga dua kali lipat setelah beralih ke kompor listrik karena biaya memasak yang lebih efisien. Di sisi fiskal, para ekonom mendesak pemerintah untuk memberikan stimulus darurat, termasuk usulan penurunan tarif PPN dari 11% menjadi 9% untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah badai harga energi global ini. By Mukroni
- Berita Terkait :
Stok Beras Melimpah, Bulog Justru Terganjal Kelangkaan Kemasan Plastik
Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah: Stok Beras Nasional Tembus 4,9 Juta Ton Hadapi El Nino 2026
Sensus Ekonomi 2026: Strategi Nasional Mendorong UMKM Naik Kelas Lewat Penetrasi Digital
Hadapi Tekanan Ganda Geopolitik dan Biaya, Sektor Usaha Kencangkan Ikat Pinggang
Navigasi Ekonomi 2026: Indonesia Hadapi Dampak Perang Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz
Mengungkap “Pasal Siluman” dalam PP 26/2021 yang Menghambat Kemandirian Gula Nasional
Konflik Selat Hormuz Guncang Harga Pupuk Dunia, Mentan Pastikan Pasokan Domestik Tetap Stabil
Polikrisis 2026: Saat Konflik Timur Tengah dan Iklim Ekstrem Bertemu di Meja Makan Kita
Navigasi Ekonomi Indonesia 2026: Ambisi Pertumbuhan di Tengah Badai Geopolitik
BPS: Inflasi Maret 2026 Capai 3,48 Persen, Dipicu Lonjakan Harga Pangan dan Transportasi
Daya Beli Melemah, Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat Akibat Inflasi Pangan
Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Lebaran 2025 Turun Menjadi 154,6 Juta Orang
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik, Industri Mamin Nasional Tertekan
Strategi Industri Ritel 2026: Mengoptimalkan Momentum Ramadan untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Survei LPEM UI: Mayoritas Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Memburuk di Triwulan I-2026
Pangan Mahal dan Mudik Kolosal: Tantangan Nasional Menjelang Idul Fitri 1447 H
Pangan dalam Cengkeraman Perang dan Cuaca Ekstrem 2026
Tergerusnya Produksi Beras Nasional di Kuartal I-2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Dompet Kelas Menengah Tergerus ”Sesuap Nasi”: Antara Strategi “Mantab” dan Risiko Turun Kelas
Beban Ganda Petani Padang: Sawah Terkubur Galodo, Jaring Pengaman Asuransi Justru Hilang
Layar Lebar “Jejak Warteg”: Mengurai Memori Kolektif dan Resiliensi Perantau di Rimba Beton Jakarta
Menelusuri Jejak Warteg: Dari Strategi Logistik Sultan Agung hingga Jaringan Pangan Urban Jakarta
Evolusi Kuliner Pantura: Akulturasi Budaya Tionghoa-Jawa dalam Logistik Perang Abad ke-17
Mitos atau Fakta? Menjawab Hubungan Bupati Kyai Rangga dan Sejarah Berdirinya Warung Tegal
Jejak Logistik Mataram 1628: Mengungkap Peran Kyai Rangga dalam Genealogi Warung Tegal
Menelusuri Sidakaton dan Sidapurna: Desa Para ‘Jenderal’ Warteg dan Jejak Pelarian Pasukan 1628
Warisan Kyai Rangga: Bagaimana Kegagalan Pengepungan Batavia Menciptakan Pahlawan Kuliner Rakyat
Operasi Senyap Sultan Agung: Menelusuri Jejak Logistik Perang di Balik Misi Damai Bupati Tegal
Stasiun Jakarta Kota dan Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Hindia Belanda
Mobilisasi Penduduk Tegal ke Jakarta: Jejak Sejarah di Masa Sultan Agung Menyerang VOC 1628 M
Lokasi Taman Eden dalam Tradisi Yahudi: Antara Geografi, Alegori, dan Mistisisme
Hutan Orang Rimba Jadi Kebun Sawit: Berondolan Dicuri, Pemerintah Sibuk Selfie ?
Buruh Bersuara, Monas Jadi Panggung Prabowo, Warteg Tetep Jadi Pelarian!
Mengerikan! Sindikat Internasional Ekspor Kulit Mangrove Ilegal, Laut Maluku Menjerit!
BENCANA MEGA-DEFORESTASI: PUNCAK BOGOR JADI KUBURAN HUTAN, JAKARTA LUMPUH OLEH AIR MATA ALAM!
Dilema Besar! Pembangunan IKN atau Kesejahteraan Rakyat?
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza

