• Rab. Mar 4th, 2026

KowantaraNews

Jejak Warteg Warisan Lumbung Mataram, Semangat Sultan Agung dan Diplomasi Kyai Rangga

PDI-P Desak Pemerintah Keluar dari ‘Board of Peace’ Trump Pasca-Serangan AS-Israel ke Iran

ByAdmin

Mar 4, 2026
DOKUMENTASI PDI-P Surat duka Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri diletakkan di depan foto Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com -Eskalasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026 telah memicu gelombang protes diplomatik yang keras di dalam negeri Indonesia. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), melalui anggotanya di Komisi I DPR RI, Tubagus (TB) Hasanuddin, secara resmi mendesak pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk segera menarik diri dari keanggotaan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump. Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta 555 warga sipil tersebut dinilai telah mengubah institusi tersebut menjadi sebuah “Dewan Perang” (Board of War) yang bertentangan dengan amanat konstitusi Indonesia.

Anomali Dewan Perdamaian dan Agresi Militer

BoP pertama kali diluncurkan oleh Donald Trump pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss, dengan mandat awal untuk mengawasi stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. Indonesia, bersama dengan beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya seperti Turki dan Arab Saudi, bergabung dengan harapan dapat mengawal kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara. Namun, PDI-P memandang partisipasi ini kini telah menjadi bumerang politik yang membahayakan kedaulatan Indonesia.

TB Hasanuddin menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP adalah sebuah anomali diplomatik. Pasalnya, organisasi yang mengklaim membawa misi perdamaian tersebut justru dipimpin oleh negara yang melakukan agresi militer terhadap bangsa lain. Ia memperingatkan bahwa jika Indonesia tetap bertahan, terdapat lima risiko fundamental yang harus ditanggung oleh negara. Pertama, integritas politik luar negeri Indonesia akan hancur di mata dunia karena dianggap menyimpang dari prinsip “Bebas Aktif” yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Kedua, absennya sikap tegas pemerintah dalam mengutuk invasi tersebut memperkuat persepsi global bahwa Indonesia secara implisit mendukung tindakan kekerasan AS-Israel.

Ketimpangan Struktur dan Beban Fiskal

Kritik tajam juga diarahkan pada struktur organisasi BoP yang dinilai sangat asimetris. PDI-P menyoroti posisi Donald Trump sebagai Chairman yang sangat dominan, di mana ia memiliki otoritas absolut untuk menentukan kebijakan tanpa adanya perwakilan resmi dari pihak Palestina dalam struktur pengambilan keputusan. Hal ini dianggap menciptakan ketidakadilan substantif karena warga Palestina hanya diposisikan sebagai objek, bukan subjek dalam proses perdamaian.

Selain risiko diplomatik, PDI-P juga menyinggung beban finansial yang sangat berat. Untuk menjadi anggota tetap dalam Dewan Perdamaian Gaza, setiap negara dituntut memberikan kontribusi minimal sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp16 triliun. TB Hasanuddin menilai alokasi anggaran sebesar itu bersifat spekulatif dan sangat menekan kapasitas fiskal negara di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu pasca-serangan terhadap Iran.

Keselamatan Pasukan TNI dalam Bahaya

Poin paling krusial yang ditekankan oleh PDI-P adalah rencana pengiriman 8.000 personel TNI sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (International Security Force/ISF) di bawah kendali BoP. PDI-P memperingatkan bahwa menempatkan pasukan Indonesia di tengah wilayah konflik aktif tanpa adanya inklusivitas terhadap seluruh faksi di Gaza—termasuk Hamas—adalah misi yang sangat berisiko tinggi.

“Bukan tidak mungkin prajurit TNI akan berada di tengah reeskalasi konflik bersenjata, dan ini taruhannya nyawa,” tegas TB Hasanuddin. Penolakan secara terbuka dari pihak Hamas terhadap keberadaan pasukan BoP dua pekan lalu menjadi sinyal bahwa kehadiran TNI di bawah bendera institusi bentukan Trump dapat menjadikan prajurit Indonesia sebagai target serangan kelompok perlawanan yang menolak intervensi Barat.

MUI Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Pasca Serangan AS-Israel ke Iran

Diplomasi Duka sebagai Antitesis Kebijakan Pemerintah

Desakan keluar dari BoP ini mencapai puncaknya seiring dengan pengiriman surat duka cita oleh Megawati Soekarnoputri untuk rakyat Iran pada 2 Maret 2026. Dalam surat tersebut, Megawati secara eksplisit menyatakan bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak segala bentuk agresi militer sepihak. Sikap ini merupakan antitesis dari langkah pragmatis Presiden Prabowo yang hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan belasungkawa resmi atas wafatnya Khamenei, namun tetap menawarkan diri sebagai mediator konflik.

PDI-P mendesak pemerintah untuk segera melakukan reevaluasi total dan kembali pada garis perjuangan Non-Blok yang diwariskan oleh Bung Karno. Menurut partai tersebut, penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui keanggotaan dalam aliansi militer yang mengabaikan kedaulatan negara merdeka. Jika pemerintah tidak segera keluar dari BoP, Indonesia dikhawatirkan akan terjebak secara permanen dalam pusaran geopolitik Timur Tengah yang membahayakan keselamatan nasional dan merusak reputasi Indonesia sebagai pembela kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah. By Mukroni

  • Berita Terkait

MUI Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Pasca Serangan AS-Israel ke Iran

79 Organisasi dan Puluhan Tokoh Teken Petisi “Melawan Imperialisme Baru”

Preseden Buruk Seleksi Hakim Konstitusi: Saat “Penugasan Lain” Mengalahkan Prosedur Baku

Geopolitik 2026: Indonesia di Tengah Pusaran ‘Konflik Abadi’ dan Perang Tarif Global

Mayoritas Mutlak: 77% Publik Tolak Wacana Pilkada via DPRD, Gen Z Paling Keras Melawan

Revolusi Gen Z: Tumbangnya Pemerintah Bulgaria di Ambang Pintu Euro

Kesenjangan Tajam, Kemarahan Membara: Ketimpangan Ekonomi dan Kebijakan DPR Picu Gejolak Sosial

Analisis Krisis Politik Indonesia 2025: Akar Masalah dan Rekomendasi Strategis untuk Elite Politik

Gaji DPR Rp 230 Juta per Bulan: Kemewahan di Tengah Krisis Rakyat

Bendera One Piece Berkibar: Pemberontakan Nakama atau Penghinaan Merah Putih?

Lee Jae-myung: Dari Buruh Anak ke Presiden, Anak Warteg pun Bisa Jadi Bintang Korea!

Saham Anjlok, Obligasi Meledak, Dolar Lesu: Utang AS Bikin Panik, Warteg Santai Tak Berdampak!

Deregulasi Bikin Impor Melaju, Industri Lokal Teriak: ‘Warteg Aja Lebih Terlindungi!’

Preman Ngepet di Warteg, Pengangguran Ngetem: Jabodetabek Jadi Ring Tinju Ormas!

The Fed Bikin BI Pusing, Rupiah Ngegas, Warteg Tetap Ramai!

Ojol Belum BPJS, Aplikator Bilang ‘Gaspol!’, Warteg Jadi Penutup Perut!

PHK Bikin Kantoran Jadi Penutup Warteg: Prabowo Geleng-Geleng, Orek Tempe Tetap Sold Out!

Jobless Jadi Trend, Dompet Ikut Send: BPS vs IMF Panas, Warteg Tetap Menang!

Ekonomi Loyo, Pengangguran Melejit: Warteg Tetap Ramai, Tapi Dompet Makin Sepi!

Ekonomi Indonesia 2025: Konsumsi Loyo, Rupiah Goyang, Warteg Tetap Jaya!

PMI Anjlok, IKI Goyang, Warteg Tetap Jaya: Industri Indonesia Lawan Badai Tarif Trump!

PHK Mengintai, Tarif Trump Menghantui, Warteg: Tenang, Ada Telor Dadar!

Warteg Halal Harap-Harap Cemas: UMKM Indonesia Lawan Tarif Trump dan Gempuran Impor China!

Prabowo Jalan-jalan ke China, ASEAN Cuma Dapat Senyum dari

GPN & QRIS: Warteg Go Digital, Transaksi Nusantara Gaspol, AS Cuma Bisa Cemas!

Indonesia vs AS: Tarif Impor Bikin Heboh, Warteg Jagokan Dompet Digital!

Utang Rp 250 Triliun Numpuk, Pemerintah Frontloading Biar Warteg Tetep Jualan Tempe!

Indonesia ke AS: ‘Tarif Dikurangin Dong, Kami Beli Energi, Kedelai, Sekalian Stok Warteg!’

TikTok Tawar Tarif: AS-China Ribut, Indonesia Santai di Warteg!

Kelapa Meroket, Warteg Meratap: Drama Harga di Pasar Negeri Sawit!

Trump Tarik Tarif, Rupiah Rontok, Warteg pun Waswas: Drama Ekonomi 2025!

Danantara dan Dolar: Prabowo Bikin Warteg Nusantara atau Kebingungan?

Warteg Lawan Tarif Trump: Nasi Oreg Tempe Bikin Dunia Ketagihan!

Perang Melawan Resesi: UMKM Indonesia Bersenjatakan E-Commerce & KUR, Pemerintah Salurkan Rp171 Triliun untuk Taklukkan Pasar ASEAN!

Gempuran Koperasi Desa Merah Putih: 70.000 Pusat Ekonomi Baru Siap Mengubah Indonesia!

1 Juta Mimpi Terhambat: UMKM Berjuang Melawan Kredit Macet

Warteg Jadi Garda Terdepan Revolusi Gizi Nasional!

Skema Makan Bergizi Gratis: Asa Besar yang Membebani UMKM

Revolusi Gizi: Makan Gratis untuk Selamatkan Jutaan Jiwa dari Kelaparan

Gebrakan Sejarah: Revolusi Makan Bergizi Gratis, Ekonomi Lokal Bangkit!

PPN 12 Persen: Harapan atau Ancaman Bagi Ekonomi Rakyat?

Setengah Kekayaan Negeri dalam Genggaman Segelintir Orang: Potret Suram Kesenjangan Ekonomi Indonesia

Menuju Indonesia Tanpa Impor: Mimpi Besar atau Bom Waktu?

Gebrakan PPN 12 Persen: Strategi Berani yang Tak Menjamin Kas Negara Melejit!

Rupiah di Ujung Tanduk: Bank Indonesia Siapkan “Senjata Pamungkas” untuk Lawan Gejolak Dolar AS!

PPN Naik, Dompet Rakyat Tercekik: Ancaman Ekonomi 2025 di Depan Mata!

12% PPN: Bom Waktu untuk Ekonomi Rakyat Kecil

Prabowo Hadapi Warisan Beban Utang Raksasa: Misi Penyelamatan Anggaran di Tengah Tekanan Infrastruktur Jokowi

Rapat Elite Kabinet! Bahlil Pimpin Pertemuan Akbar Subsidi Energi demi Masa Depan Indonesia

Ekonomi Indonesia Terancam ‘Macet’, Target Pertumbuhan 8% Jadi Mimpi?

Janji Pemutihan Utang Petani: Kesejahteraan atau Jurang Ketergantungan Baru?

Indonesia Timur Terabaikan: Kekayaan Alam Melimpah, Warganya Tetap Miskin!

Menuju Swasembada Pangan: Misi Mustahil atau Harapan yang Tertunda?

QRIS dan Uang Tunai: Dua Sisi dari Evolusi Pembayaran di Indonesia

Ledakan Ekonomi Pedas: Sambal Indonesia Mengguncang Dunia!

Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk: Lenyapnya Satwa dan Habitat Indonesia!

Indonesia Menuju 2045: Berhasil Naik Kelas, Tapi Kemiskinan Semakin Mengancam?

Food Estate: Ilusi Ketahanan Pangan yang Berujung Malapetaka ?

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *