• Sen. Jan 12th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Mayoritas Mutlak: 77% Publik Tolak Wacana Pilkada via DPRD, Gen Z Paling Keras Melawan

ByAdmin

Jan 12, 2026
Foto: Para demonstran bereaksi di dekat asap yang mengepul dari kompleks Parlemen menyusul kebakaran yang terjadi selama protes terhadap tewasnya 19 orang pada hari Senin setelah protes antikorupsi yang dipicu oleh larangan media sosial, yang kemudian dicabut, selama jam malam di Kathmandu, Nepal, 9 September 2025. (REUTERS/Adnan Abidi)
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com – Gelombang penolakan terhadap wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke tangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) semakin tak terbendung. Dua survei besar yang dirilis pada pergantian tahun 2025-2026 mengonfirmasi bahwa aspirasi elit partai politik di Jakarta bertolak belakang secara diametral dengan kehendak rakyat di akar rumput.

Data terbaru dari jajak pendapat Litbang Kompas pada Desember 2025 menunjukkan angka “mayoritas mutlak”: sebanyak 77,3 persen publik bersikeras agar gubernur dan bupati/wali kota tetap dipilih langsung oleh rakyat. Hanya segelintir kecil, yakni 5,6 persen, yang setuju dengan gagasan pemilihan oleh DPRD.

Temuan ini diperkuat oleh survei LSI Denny JA pada Januari 2026 yang menyoroti fenomena menarik: perlawanan paling sengit justru datang dari pemilih muda. Generasi Z (Gen Z) tercatat sebagai kelompok demografis yang paling keras menolak, dengan angka penolakan mencapai 84 persen. Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, menyebut angka ini sebagai penolakan yang “masif dan sistemik,” menandakan bahwa generasi yang tumbuh di era demokrasi penuh ini memandang hak pilih sebagai hal yang non-negosiabel.

Ironi Partai Pengusung

Wacana ini mulanya bergaung kencang dalam perayaan HUT ke-61 Partai Golkar, di mana narasi “biaya politik mahal” dijadikan alasan utama untuk merevisi sistem pemilihan. Namun, data lapangan menunjukkan ironi tajam. Mayoritas pemilih dari partai-partai pengusung wacana ini—termasuk Golkar, Gerindra, PAN, dan Demokrat—justru menolak ide elit partai mereka sendiri. Lebih dari 50 persen basis pemilih partai-partai Koalisi Indonesia Maju (KIM) terekam tetap menginginkan Pilkada langsung.

“Angka ini menunjukkan bahwa elite partai sedang berada di ruang gema yang terpisah dari konstituennya,” ujar Arya Fernandes, peneliti CSIS, memperingatkan potensi instabilitas politik jika kebijakan ini dipaksakan.

Defisit Kepercayaan pada DPRD

Mengapa publik begitu resisten? Alasannya bukan karena publik menutup mata pada masalah biaya tinggi atau politik uang. Publik menyadari masalah tersebut, namun solusi yang mereka inginkan adalah perbaikan sistem penegakan hukum (43,3 persen), bukan pencabutan hak pilih.

Faktor terbesar penolakan adalah krisis kepercayaan terhadap integritas wakil rakyat. Sebanyak 78,1 persen responden mengaku tidak percaya bahwa anggota DPRD akan memilih kepala daerah secara jujur dan demi kepentingan rakyat. Publik khawatir Pilkada via DPRD hanya akan memindahkan praktik politik uang dari rakyat ke ruang tertutup fraksi-fraksi di parlemen daerah.

Revolusi Gen Z: Tumbangnya Pemerintah Bulgaria di Ambang Pintu Euro

Politisi PDI-P, Adian Napitupulu, menyuarakan sentimen ini dengan menyebut wacana tersebut sebagai upaya merenggut kedaulatan. “Hak rakyat jangan direnggut. Jika alasan biaya dijadikan pembenaran, itu tidak menjawab persoalan korupsi yang sebenarnya,” tegasnya. Senada, Benny K. Harman dari Demokrat—meski partainya di koalisi pemerintah—menilai kembali ke DPRD “bukan solusi” untuk masalah biaya politik.

Kini, bola panas berada di tangan pemerintah dan DPR. Dengan 77 persen rakyat menolak dan Gen Z berdiri di garis depan, memaksakan revisi undang-undang ini berisiko memicu gelombang protes sipil yang serius di tahun-tahun mendatang. By Mukroni

  • Berita Terkait

Revolusi Gen Z: Tumbangnya Pemerintah Bulgaria di Ambang Pintu Euro

Kesenjangan Tajam, Kemarahan Membara: Ketimpangan Ekonomi dan Kebijakan DPR Picu Gejolak Sosial

Analisis Krisis Politik Indonesia 2025: Akar Masalah dan Rekomendasi Strategis untuk Elite Politik

Gaji DPR Rp 230 Juta per Bulan: Kemewahan di Tengah Krisis Rakyat

Bendera One Piece Berkibar: Pemberontakan Nakama atau Penghinaan Merah Putih?

Lee Jae-myung: Dari Buruh Anak ke Presiden, Anak Warteg pun Bisa Jadi Bintang Korea!

Saham Anjlok, Obligasi Meledak, Dolar Lesu: Utang AS Bikin Panik, Warteg Santai Tak Berdampak!

Deregulasi Bikin Impor Melaju, Industri Lokal Teriak: ‘Warteg Aja Lebih Terlindungi!’

Preman Ngepet di Warteg, Pengangguran Ngetem: Jabodetabek Jadi Ring Tinju Ormas!

The Fed Bikin BI Pusing, Rupiah Ngegas, Warteg Tetap Ramai!

Ojol Belum BPJS, Aplikator Bilang ‘Gaspol!’, Warteg Jadi Penutup Perut!

PHK Bikin Kantoran Jadi Penutup Warteg: Prabowo Geleng-Geleng, Orek Tempe Tetap Sold Out!

Jobless Jadi Trend, Dompet Ikut Send: BPS vs IMF Panas, Warteg Tetap Menang!

Ekonomi Loyo, Pengangguran Melejit: Warteg Tetap Ramai, Tapi Dompet Makin Sepi!

Ekonomi Indonesia 2025: Konsumsi Loyo, Rupiah Goyang, Warteg Tetap Jaya!

PMI Anjlok, IKI Goyang, Warteg Tetap Jaya: Industri Indonesia Lawan Badai Tarif Trump!

PHK Mengintai, Tarif Trump Menghantui, Warteg: Tenang, Ada Telor Dadar!

Warteg Halal Harap-Harap Cemas: UMKM Indonesia Lawan Tarif Trump dan Gempuran Impor China!

Prabowo Jalan-jalan ke China, ASEAN Cuma Dapat Senyum dari

GPN & QRIS: Warteg Go Digital, Transaksi Nusantara Gaspol, AS Cuma Bisa Cemas!

Indonesia vs AS: Tarif Impor Bikin Heboh, Warteg Jagokan Dompet Digital!

Utang Rp 250 Triliun Numpuk, Pemerintah Frontloading Biar Warteg Tetep Jualan Tempe!

Indonesia ke AS: ‘Tarif Dikurangin Dong, Kami Beli Energi, Kedelai, Sekalian Stok Warteg!’

TikTok Tawar Tarif: AS-China Ribut, Indonesia Santai di Warteg!

Kelapa Meroket, Warteg Meratap: Drama Harga di Pasar Negeri Sawit!

Trump Tarik Tarif, Rupiah Rontok, Warteg pun Waswas: Drama Ekonomi 2025!

Danantara dan Dolar: Prabowo Bikin Warteg Nusantara atau Kebingungan?

Warteg Lawan Tarif Trump: Nasi Oreg Tempe Bikin Dunia Ketagihan!

Perang Melawan Resesi: UMKM Indonesia Bersenjatakan E-Commerce & KUR, Pemerintah Salurkan Rp171 Triliun untuk Taklukkan Pasar ASEAN!

Gempuran Koperasi Desa Merah Putih: 70.000 Pusat Ekonomi Baru Siap Mengubah Indonesia!

1 Juta Mimpi Terhambat: UMKM Berjuang Melawan Kredit Macet

Warteg Jadi Garda Terdepan Revolusi Gizi Nasional!

Skema Makan Bergizi Gratis: Asa Besar yang Membebani UMKM

Revolusi Gizi: Makan Gratis untuk Selamatkan Jutaan Jiwa dari Kelaparan

Gebrakan Sejarah: Revolusi Makan Bergizi Gratis, Ekonomi Lokal Bangkit!

PPN 12 Persen: Harapan atau Ancaman Bagi Ekonomi Rakyat?

Setengah Kekayaan Negeri dalam Genggaman Segelintir Orang: Potret Suram Kesenjangan Ekonomi Indonesia

Menuju Indonesia Tanpa Impor: Mimpi Besar atau Bom Waktu?

Gebrakan PPN 12 Persen: Strategi Berani yang Tak Menjamin Kas Negara Melejit!

Rupiah di Ujung Tanduk: Bank Indonesia Siapkan “Senjata Pamungkas” untuk Lawan Gejolak Dolar AS!

PPN Naik, Dompet Rakyat Tercekik: Ancaman Ekonomi 2025 di Depan Mata!

12% PPN: Bom Waktu untuk Ekonomi Rakyat Kecil

Prabowo Hadapi Warisan Beban Utang Raksasa: Misi Penyelamatan Anggaran di Tengah Tekanan Infrastruktur Jokowi

Rapat Elite Kabinet! Bahlil Pimpin Pertemuan Akbar Subsidi Energi demi Masa Depan Indonesia

Ekonomi Indonesia Terancam ‘Macet’, Target Pertumbuhan 8% Jadi Mimpi?

Janji Pemutihan Utang Petani: Kesejahteraan atau Jurang Ketergantungan Baru?

Indonesia Timur Terabaikan: Kekayaan Alam Melimpah, Warganya Tetap Miskin!

Menuju Swasembada Pangan: Misi Mustahil atau Harapan yang Tertunda?

QRIS dan Uang Tunai: Dua Sisi dari Evolusi Pembayaran di Indonesia

Ledakan Ekonomi Pedas: Sambal Indonesia Mengguncang Dunia!

Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk: Lenyapnya Satwa dan Habitat Indonesia!

Indonesia Menuju 2045: Berhasil Naik Kelas, Tapi Kemiskinan Semakin Mengancam?

Food Estate: Ilusi Ketahanan Pangan yang Berujung Malapetaka ?

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *