Jakarta, Kowantaranews.com -Gelombang desakan dari kalangan akademisi tanah air semakin menguat, menuntut Presiden Prabowo Subianto untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap posisi Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP). Aspirasi ini muncul secara simultan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran.
Melalui pernyataan sikap bertajuk ”Seruan Padjadjaran” yang dikeluarkan pada Jumat (6/3/2026), Dewan Profesor dan Senat Akademik Unpad menyatakan keprihatinan mendalam atas arah diplomasi Indonesia. Seruan yang ditandatangani oleh tokoh-tokoh seperti Prof. Atwar Bajari dan Prof. Iman Hernaman ini menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BoP serta penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) merupakan ujian berat bagi prinsip kebijakan luar negeri bebas aktif. Unpad secara tegas mengecam agresi militer bertajuk Operation Epic Fury yang diluncurkan pada 28 Februari 2026, yang tidak hanya melanggar kedaulatan Iran tetapi juga merusak tatanan internasional berbasis hukum.
Para akademisi menilai bahwa normalisasi pembunuhan politik terhadap pemimpin negara, seperti yang terjadi pada wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut, merupakan preseden yang sangat berbahaya dalam hubungan internasional. Oleh karena itu, Presiden didesak untuk konsisten pada amanat UUD 1945 dalam menjaga ketertiban dunia dan segera mengevaluasi keanggotaan Indonesia di BoP yang kini dianggap kehilangan legitimasi moralnya sebagai lembaga perdamaian.
Senada dengan Unpad, Institute of International Studies (IIS) UGM juga menuntut Indonesia untuk segera keluar dari BoP. Ririn Tri Nurhayati, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi UGM, menyebut tindakan Amerika Serikat dan Israel sebagai crime of aggression atau kejahatan agresi terhadap perdamaian karena dilakukan di tengah proses negosiasi nuklir. Peneliti UGM lainnya, Muhadi Sugiono, memperingatkan bahwa agresi ini justru akan mendorong proliferasi nuklir yang lebih signifikan karena Iran tidak lagi merasa terlindungi oleh traktat internasional.
Selain aspek geopolitik, kritik tajam juga diarahkan pada Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menyertai keanggotaan BoP. Perjanjian dagang ini mewajibkan Indonesia membuka akses pasar bagi 99% produk Amerika Serikat dengan tarif nol persen, yang dianggap akan memarjinalkan produk pangan lokal seperti kedelai, jagung, dan beras. Profesor Budi Guntoro dari UGM secara khusus menyoroti penghapusan kewajiban sertifikasi halal bagi produk impor asal AS dalam kerangka ART. Hal ini dinilai menciptakan ketidakadilan bagi UMKM domestik yang tetap dibebani biaya sertifikasi, sehingga merusak kedaulatan sistem pangan nasional dan etika produksi yang selama ini dijaga.
PDI-P Desak Pemerintah Keluar dari ‘Board of Peace’ Trump Pasca-Serangan AS-Israel ke Iran
Menanggapi tekanan publik dan akademisi, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah mulai mempertimbangkan evaluasi tersebut. Pada 3 Maret 2026, Presiden menggelar pertemuan intensif selama 3,5 jam dengan para tokoh bangsa di Istana Merdeka untuk membahas dampak strategis serangan AS-Israel. Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa Presiden menyadari mandat BoP telah melemah karena negara pendirinya justru menjadi agresor. Saat ini, pemerintah telah menangguhkan diskusi mengenai implementasi BoP seiring dengan upaya memprioritaskan de-eskalasi konflik global.
Dukungan untuk mengevaluasi keanggotaan ini juga datang dari parlemen. Anggota Komisi I DPR, Syamsu Rizal, menyatakan bahwa keluar dari BoP adalah langkah yang tepat jika lembaga tersebut terbukti gagal melindungi warga sipil dan justru menghancurkan citranya sebagai pelopor perdamaian dunia. Selain itu, para pakar hukum internasional mengingatkan bahwa keanggotaan dalam organisasi seperti BoP memerlukan ratifikasi DPR agar memiliki legitimasi hukum yang kuat di dalam negeri. Di tengah ketidakpastian hukum di Amerika Serikat pasca-putusan Mahkamah Agung mereka yang membatalkan kebijakan tarif sepihak, Indonesia kini berada di persimpangan jalan untuk meneguhkan kembali kemandirian diplomasinya demi kepentingan nasional yang lebih luas. By Mukroni
PDI-P Desak Pemerintah Keluar dari ‘Board of Peace’ Trump Pasca-Serangan AS-Israel ke Iran
MUI Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Pasca Serangan AS-Israel ke Iran
79 Organisasi dan Puluhan Tokoh Teken Petisi “Melawan Imperialisme Baru”
Preseden Buruk Seleksi Hakim Konstitusi: Saat “Penugasan Lain” Mengalahkan Prosedur Baku
Geopolitik 2026: Indonesia di Tengah Pusaran ‘Konflik Abadi’ dan Perang Tarif Global
Mayoritas Mutlak: 77% Publik Tolak Wacana Pilkada via DPRD, Gen Z Paling Keras Melawan
Revolusi Gen Z: Tumbangnya Pemerintah Bulgaria di Ambang Pintu Euro
Kesenjangan Tajam, Kemarahan Membara: Ketimpangan Ekonomi dan Kebijakan DPR Picu Gejolak Sosial
Analisis Krisis Politik Indonesia 2025: Akar Masalah dan Rekomendasi Strategis untuk Elite Politik
The Fed Bikin BI Pusing, Rupiah Ngegas, Warteg Tetap Ramai!
Ojol Belum BPJS, Aplikator Bilang ‘Gaspol!’, Warteg Jadi Penutup Perut!
PHK Bikin Kantoran Jadi Penutup Warteg: Prabowo Geleng-Geleng, Orek Tempe Tetap Sold Out!
Jobless Jadi Trend, Dompet Ikut Send: BPS vs IMF Panas, Warteg Tetap Menang!
Ekonomi Loyo, Pengangguran Melejit: Warteg Tetap Ramai, Tapi Dompet Makin Sepi!
Ekonomi Indonesia 2025: Konsumsi Loyo, Rupiah Goyang, Warteg Tetap Jaya!
PMI Anjlok, IKI Goyang, Warteg Tetap Jaya: Industri Indonesia Lawan Badai Tarif Trump!
PHK Mengintai, Tarif Trump Menghantui, Warteg: Tenang, Ada Telor Dadar!
Warteg Halal Harap-Harap Cemas: UMKM Indonesia Lawan Tarif Trump dan Gempuran Impor China!
Prabowo Jalan-jalan ke China, ASEAN Cuma Dapat Senyum dari
GPN & QRIS: Warteg Go Digital, Transaksi Nusantara Gaspol, AS Cuma Bisa Cemas!
Indonesia vs AS: Tarif Impor Bikin Heboh, Warteg Jagokan Dompet Digital!
Utang Rp 250 Triliun Numpuk, Pemerintah Frontloading Biar Warteg Tetep Jualan Tempe!
Indonesia ke AS: ‘Tarif Dikurangin Dong, Kami Beli Energi, Kedelai, Sekalian Stok Warteg!’
TikTok Tawar Tarif: AS-China Ribut, Indonesia Santai di Warteg!
Kelapa Meroket, Warteg Meratap: Drama Harga di Pasar Negeri Sawit!
Trump Tarik Tarif, Rupiah Rontok, Warteg pun Waswas: Drama Ekonomi 2025!
Danantara dan Dolar: Prabowo Bikin Warteg Nusantara atau Kebingungan?
Warteg Lawan Tarif Trump: Nasi Oreg Tempe Bikin Dunia Ketagihan!
Gempuran Koperasi Desa Merah Putih: 70.000 Pusat Ekonomi Baru Siap Mengubah Indonesia!
1 Juta Mimpi Terhambat: UMKM Berjuang Melawan Kredit Macet
Warteg Jadi Garda Terdepan Revolusi Gizi Nasional!
Skema Makan Bergizi Gratis: Asa Besar yang Membebani UMKM
Revolusi Gizi: Makan Gratis untuk Selamatkan Jutaan Jiwa dari Kelaparan
Gebrakan Sejarah: Revolusi Makan Bergizi Gratis, Ekonomi Lokal Bangkit!
PPN 12 Persen: Harapan atau Ancaman Bagi Ekonomi Rakyat?
Menuju Indonesia Tanpa Impor: Mimpi Besar atau Bom Waktu?
Gebrakan PPN 12 Persen: Strategi Berani yang Tak Menjamin Kas Negara Melejit!
Rupiah di Ujung Tanduk: Bank Indonesia Siapkan “Senjata Pamungkas” untuk Lawan Gejolak Dolar AS!
PPN Naik, Dompet Rakyat Tercekik: Ancaman Ekonomi 2025 di Depan Mata!
12% PPN: Bom Waktu untuk Ekonomi Rakyat Kecil
Rapat Elite Kabinet! Bahlil Pimpin Pertemuan Akbar Subsidi Energi demi Masa Depan Indonesia
Ekonomi Indonesia Terancam ‘Macet’, Target Pertumbuhan 8% Jadi Mimpi?
Janji Pemutihan Utang Petani: Kesejahteraan atau Jurang Ketergantungan Baru?
Indonesia Timur Terabaikan: Kekayaan Alam Melimpah, Warganya Tetap Miskin!
Menuju Swasembada Pangan: Misi Mustahil atau Harapan yang Tertunda?
QRIS dan Uang Tunai: Dua Sisi dari Evolusi Pembayaran di Indonesia
Ledakan Ekonomi Pedas: Sambal Indonesia Mengguncang Dunia!
Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk: Lenyapnya Satwa dan Habitat Indonesia!
Indonesia Menuju 2045: Berhasil Naik Kelas, Tapi Kemiskinan Semakin Mengancam?
Food Estate: Ilusi Ketahanan Pangan yang Berujung Malapetaka ?

