Jakarta, Kowantaranews.com -Dalam langkah yang mengejutkan banyak pihak, Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri untuk pemilihan presiden berikutnya pada tahun 2024. Sebaliknya, Biden memberikan dukungannya kepada Wakil Presiden Kamala Harris untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Pengumuman ini dibuat melalui akun X miliknya pada hari Minggu, 21 Juli 2024, dan dengan cepat menjadi topik utama dalam berita politik di seluruh negeri.
Alasan di Balik Keputusan Biden
Biden menyatakan bahwa keputusan untuk tidak mencalonkan diri kembali diambil setelah mempertimbangkan apa yang terbaik bagi Partai Demokrat dan negara. “Rekan-rekan Demokrat, saya telah memutuskan untuk tidak menerima nominasi tersebut dan memfokuskan seluruh energi saya pada tugas saya sebagai presiden selama sisa masa jabatan saya,” tulis Biden. Dalam pernyataannya, Biden menekankan pentingnya menyatukan partai dan negara di masa-masa yang penuh tantangan ini.
Biden, yang telah menjabat sebagai presiden sejak Januari 2021, menghadapi berbagai tantangan selama masa kepemimpinannya, termasuk pandemi COVID-19, masalah ekonomi, dan ketegangan politik yang meningkat. Keputusan untuk tidak mencalonkan diri lagi memungkinkan Biden untuk fokus sepenuhnya pada penyelesaian isu-isu ini tanpa terganggu oleh kampanye pemilihan.
Memilih Kamala Harris sebagai Penerus
Biden mengenang momen ketika ia memilih Kamala Harris sebagai calon wakil presiden untuk mendampinginya dalam Pilpres 2020. “Keputusan pertama saya sebagai calon partai pada tahun 2020 adalah memilih Kamala Harris sebagai wakil presiden saya. Dan itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat,” tulis Biden. Harris, yang sebelumnya menjabat sebagai Senator dari California, dipandang sebagai figur yang kuat dan berpengalaman dalam politik nasional.
Dalam pengumumannya, Biden menegaskan dukungannya yang penuh untuk Harris. Ia meminta seluruh pendukung Demokrat untuk bersatu di belakang Harris dan mendukung pencalonannya. “Hari ini saya ingin memberikan dukungan dan dukungan penuh saya agar Kamala menjadi calon partai kita tahun ini. Demokrat – inilah waktunya untuk bersatu dan mengalahkan Trump. Mari kita lakukan,” kata Biden.
Tantangan dan Peluang bagi Kamala Harris
Kamala Harris, jika terpilih sebagai calon presiden dari Partai Demokrat, akan menghadapi tantangan besar dalam upaya untuk memenangkan pemilihan presiden. Lawan utama yang kemungkinan besar akan dihadapinya adalah mantan presiden Donald Trump, yang masih memiliki basis pendukung yang kuat di kalangan Partai Republik. Namun, Harris juga memiliki banyak keunggulan yang bisa ia manfaatkan.
Sebagai wakil presiden, Harris telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan dan dedikasi dalam menangani berbagai isu nasional. Pengalaman dan latar belakangnya sebagai jaksa agung dan senator memberikan Harris fondasi yang kuat dalam hal kebijakan dan legislasi. Selain itu, pencalonannya sebagai wanita kulit hitam dan keturunan Asia pertama untuk posisi presiden dapat memberikan energi baru dan diversitas dalam politik Amerika.
Reaksi dari Partai Demokrat dan Publik
Pengumuman Biden mendapat berbagai reaksi dari para pemimpin dan anggota Partai Demokrat. Banyak yang memuji keputusan Biden untuk memberikan dukungan kepada Harris, melihatnya sebagai langkah yang bijaksana dan strategis. “Ini adalah momen penting bagi partai kita dan negara kita. Saya mendukung penuh Kamala Harris dan yakin dia akan menjadi presiden yang luar biasa,” kata Nancy Pelosi, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS.
Namun, tidak semua anggota Partai Demokrat setuju dengan keputusan ini. Beberapa mengungkapkan kekhawatiran tentang peluang Harris untuk memenangkan pemilihan, mengingat popularitas Trump dan polarisasi politik yang terus meningkat. “Kami harus sangat berhati-hati dan strategis dalam kampanye ini. Kamala Harris adalah kandidat yang kuat, tapi kita harus memastikan seluruh partai bersatu dan bekerja keras untuk memenangkan pemilu,” ujar seorang senator Demokrat yang enggan disebutkan namanya.
Di kalangan publik, reaksi terhadap keputusan Biden juga beragam. Banyak pendukung Demokrat yang merasa lega dan bersemangat dengan pencalonan Harris, melihatnya sebagai simbol perubahan dan kemajuan. Namun, ada juga yang skeptis dan merasa bahwa Harris harus membuktikan diri lebih lanjut untuk mendapatkan dukungan penuh dari pemilih.
Baca juga : Ethiopian Airlines Dikecam Setelah Penumpang Dikeluarkan untuk Memberi Tempat Duduk kepada Menteri
Baca juga : Insiden Penembakan Trump di Butler: Pelaku Bertindak Sendirian, Satu Korban Tewas
Baca juga : Penembakan di Rapat Umum Donald Trump: Mantan Presiden Selamat, Pelaku Tewas
Strategi Kampanye ke Depan
Dengan pencalonannya yang kini resmi didukung oleh Biden, Harris dan tim kampanyenya harus segera menyusun strategi yang efektif untuk menghadapi pemilihan yang semakin dekat. Salah satu tantangan utama adalah menyatukan berbagai faksi dalam Partai Demokrat dan memastikan semua pendukung partai memberikan dukungan penuh.
Kampanye Harris kemungkinan akan menekankan isu-isu utama seperti perawatan kesehatan, ekonomi, perubahan iklim, dan reformasi sosial. Selain itu, Harris juga diharapkan untuk terus menyoroti keberhasilan administrasi Biden-Harris dalam menangani pandemi COVID-19 dan upaya pemulihan ekonomi. Menyampaikan pesan yang kuat dan konsisten tentang visi masa depan Amerika juga akan menjadi kunci sukses kampanye.
Keputusan Joe Biden untuk tidak mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2024 dan mendukung Kamala Harris sebagai calon dari Partai Demokrat merupakan perkembangan besar dalam politik Amerika. Dukungan penuh Biden memberikan Harris landasan yang kuat untuk memulai kampanye, meskipun tantangan besar masih menantinya. Dengan kerja keras, strategi yang tepat, dan dukungan yang kuat dari partai dan publik, Harris memiliki peluang untuk membuat sejarah sebagai presiden wanita pertama Amerika Serikat.
Biden sendiri tampaknya berkomitmen untuk memastikan transisi yang lancar dan mendukung Harris dengan segala cara yang bisa ia lakukan. Saat bangsa ini bersiap untuk pemilihan yang akan datang, semua mata akan tertuju pada Harris dan bagaimana ia mengatasi tantangan-tantangan yang ada di depannya. Dukungan penuh dari partai dan kepemimpinan yang tegas akan menjadi faktor kunci dalam menentukan hasil akhir dari pemilihan ini. *Mukroni
Foto Kowantaranews.com
- Berita Terkait :
Ethiopian Airlines Dikecam Setelah Penumpang Dikeluarkan untuk Memberi Tempat Duduk kepada Menteri
Insiden Penembakan Trump di Butler: Pelaku Bertindak Sendirian, Satu Korban Tewas
Penembakan di Rapat Umum Donald Trump: Mantan Presiden Selamat, Pelaku Tewas
US Navy Pilots Return Home After Months of Battling Houthi Missiles and Drones
UK’s New PM Keir Starmer Calls for Urgent Gaza Ceasefire and Two-State Solution
Netanyahu Announces Israeli Delegation to Cairo for Ceasefire Talks Amid Ongoing Gaza Conflict
Hamas Accuses Israel of Stalling in Gaza Ceasefire Talks, Awaits Mediator Updates
Gaza War Spurs Surge in Terrorist Recruitment, Warns U.S. Intelligence
Heavy Fighting in Gaza Forces Thousands to Flee Again Amid Ongoing Conflict
Gaza Summer: Sewage, Garbage, and Health Risks in War-Torn Tent Camps
Head of Gaza’s Largest Hospital Released by Israel After Seven Months of Detention
Kisah Pegunungan Bani Yas’in: Esau bin Ishaq dan Keberanian Bani Jawa dalam Catatan Ibnu Khaldun
Unimaginable Suffering: A Hull Surgeon’s Mission to Aid Gaza’s War-Torn Civilians
Escalating Tensions: Israel and Hezbollah Edge Closer to Conflict Amid Rocket Fire and Threats
Netanyahu Announces Imminent Conclusion of Gaza Conflict’s Intense Phase
Gaza’s Overlooked Hostages: Thousands Held Without Charge in Israeli Detention
Chilean Art Exhibition Celebrates Palestinian Solidarity
Houthi Rebels Sink Bulk Carrier in Red Sea Escalation Amid Israel-Hamas Conflict
Tragedi Kemanusiaan di Gaza: Serangan Israel Menewaskan Sedikitnya 42 Orang
Kuba Ikut Dalam Gugatan Internasional Afrika Selatan di ICJ Mengenai Tindakan Israel di Gaza
Mengapa Gaza Adalah Zona Perang Terburuk: Perspektif Ahli Bedah Trauma David Nott
Armenia Resmi Akui Palestina sebagai Negara di Tengah Konflik Gaza-Israel
Qatar Lakukan Negosiasi Intensif untuk Gencatan Senjata Israel-Hamas
Day 256: Gaza Under Siege – Israel’s Airstrikes Claim Dozens of Lives
Pengunduran Diri Pejabat AS Stacy Gilbert: Protes terhadap Kebijakan Bantuan Kemanusiaan di Gaza
Idul Adha di Tengah Konflik: Ketika Kegembiraan Berganti Kesedihan di Gaza
Tragedi di Rafah: Delapan Tentara Israel Tewas dalam Pertempuran Terbaru di Jalur Gaza
AS menjatuhkan sanksi pada ‘kelompok ekstremis Israel’ karena memblokir bantuan Gaza
Langkah Israel: ‘Jeda Taktis’ untuk Meringankan Krisis Kemanusiaan di Gaza
Pembicaraan Gencatan Senjata Gaza oleh Qatar dan Mesir: Langkah Baru Menuju Perdamaian
Akhir yang Mendekat bagi Pemerintahan Netanyahu yang Terpecah
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Keputusasaan di Tengah Pertempuran
Ketegangan AS-Israel: Perdebatan atas Berbagi Informasi Intelijen
Tekanan Boikot Israel terhadap Merek-merek Amerika di Timur Tengah
$7.000 untuk Keluar dari Gaza: Eksploitasi Warga Palestina yang Melarikan Diri ke Mesir
Krisis Kemanusiaan di Gaza Meningkat, Yordania Gelar Pertemuan Darurat Internasional
Transformasi Ekonomi Global: Dampak Penghentian Perjanjian Petro Dollar oleh Arab Saudi
Rencana Gencatan Senjata Gaza Terhambat oleh Perubahan Usulan dari Hamas, Klaim AS
HRW: Penggunaan Kelaparan oleh Israel sebagai Senjata Perang di Gaza Merupakan ‘Kejahatan Perang’
PBB Temukan Bukti Kejahatan Kemanusiaan oleh Israel di Gaza
Resolusi DK PBB Dukung Gencatan Senjata Gaza: Langkah Menuju Perdamaian yang Tantangannya Besar”
Pertemuan Tegang di Kairo: Morsi Dituduh Mengimplikasikan Yahudi Mengendalikan Media AS
Gideon Levy: Pendudukan Israel Tidak Akan Berakhir Sampai Mereka Membayar Akibatnya
Ribuan Orang Berkumpul di Luar Gedung Putih untuk Memprotes Perang di Gaza
Benny Gantz Mengundurkan Diri dari Kabinet Perang: Pukulan Telak bagi Netanyahu
Kebencian terhadap Netanyahu Meningkat di Tengah Isolasi Internasional Israel
Dewan Menteri D-8 Serukan Gencatan Senjata “Segera, Permanen, Tanpa Syarat” di Gaza
Israel Menyerang Sekolah di Gaza yang Menampung Pengungsi Palestina, Menewaskan Sedikitnya 40 Orang
Bagaimana “Le Monde” Meliput Konflik Israel-Palestina Sejak 1945
Spanyol Ikut Campur dalam Kasus Genosida Afrika Selatan Terhadap Israel di ICJ
Bernie Sanders: Menghormati Netanyahu dengan Pidato Kongres adalah Kesalahan Besar
Gideon Levy Mengkritik Media Israel yang Tidak Memperlihatkan Penderitaan di Gaza
Kontroversi di Parlemen Prancis: Bendera Palestina di Tengah Isu Politik Sensitif
Lapid Kecam Smotrich dan Ben Gvir atas Ancaman Gulingkan Koalisi Terkait Gencatan Senjata Sandera
Macklemore: Melawan Apartheid demi Kemerdekaan Palestina di Tengah Konflik Gaza
Mesir Bergabung dalam Kasus Genosida terhadap Israel di Pengadilan Tinggi PBB
Türkiye Bergabung dalam Kasus Genosida Afrika Selatan terhadap Israel di ICJ