Jakarta, Kowantaranews.com — Sabtu, 10 Januari 2026. Langit abu-abu yang menggantung rendah di atas Lower Manhattan seakan mencerminkan suasana kelam yang menyelimuti kota hari ini. Udara musim dingin yang menusuk tulang di Foley Square tidak mampu meredam panasnya amarah ribuan warga New York yang tumpah ruah ke jalanan. Bukan sirene polisi yang mendominasi frekuensi suara kota hari ini, melainkan satu seruan ritmis yang menggema memantul di dinding-dinding beton gedung pengadilan federal: “Ice Kills! Ice Kills!”
Demonstrasi hari ini, yang diperkirakan diikuti oleh ribuan peserta, menandai puncak dari gelombang kemarahan nasional pasca tewasnya Renée Nicole Macklin Good, seorang penyair berusia 37 tahun dan ibu dari tiga orang anak, di ujung laras senjata agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Minneapolis tiga hari lalu. Apa yang bermula sebagai tragedi lokal di Midwest kini telah bermetamorfosis menjadi krisis politik berskala nasional yang berpusat di New York City.
Lautan Tanda dan Logistik Kemarahan
Sejak pukul 08:00 pagi, Foley Square telah berubah menjadi lautan spanduk hitam-putih. Pemandangan ini bukanlah kebetulan. Saksi mata melaporkan pengorganisiran yang sangat rapi dari kelompok Party for Socialism and Liberation (PSL) dan The People’s Forum, yang terlihat mendistribusikan ratusan poster seragam dari keranjang belanja logistik mereka. Poster-poster tersebut menampilkan wajah Renée Good dengan tatapan tajam, di bawah tulisan tebal tanpa serif: “JUSTICE FOR RENEE NICOLE GOOD”.
Namun, di sela-sela keseragaman visual tersebut, kreativitas kemarahan warga New York muncul melalui tanda-tanda buatan tangan yang lebih provokatif. Spanduk bertuliskan “ICE Cold Killers” dan “ICE is Trump’s Gestapo” diangkat tinggi-tinggi, menciptakan narasi visual yang menolak keberadaan lembaga federal tersebut. Salah satu demonstran terlihat membawa poster yang membalikkan narasi pemerintah federal dengan tulisan “Domestic Terrorist”—sebuah sindiran pahit terhadap label yang disematkan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri (DHS), Kristi Noem, kepada korban.
Mengepung “Killer Kristi” di One World Trade Center
Massa tidak hanya diam di Foley Square. Dalam sebuah pergerakan terkoordinasi, ribuan demonstran melakukan long march menuju One World Trade Center, lokasi di mana Sekretaris Kristi Noem dilaporkan sedang mengadakan konferensi pers. Kehadiran Noem di New York, kota yang telah mendeklarasikan diri sebagai “kota perlindungan” (sanctuary city) di bawah Walikota Zohran Mamdani, dianggap sebagai provokasi langsung.
Di bawah bayang-bayang menara pencakar langit tersebut, nyanyian berubah menjadi lebih personal. Seruan “Killer Kristi” membahana, menargetkan langsung pejabat tertinggi DHS tersebut atas kebijakan “deportasi massal” yang dinilai demonstran sebagai pemicu utama insiden penembakan ini. Ketegangan terasa nyata ketika barikade NYPD—polisi kota yang berada di posisi sulit antara mandat walikota sosialis mereka dan tugas mengamankan pejabat federal—memisahkan massa dari pintu masuk gedung.
Bayang-bayang Minneapolis: Kronologi yang Memicu Bara
Pemicu ledakan sosial di New York hari ini adalah detail mengerikan dari kematian Renée Good pada tanggal 7 Januari. Good, yang saat itu bertugas sebagai “pengamat hukum” (legal observer) sukarela untuk memantau aktivitas ICE di lingkungannya, tewas ditembak di dalam mobilnya sendiri.
Analisis forensik dan video warga yang beredar luas menunjukkan fenomena taktis yang dikenal sebagai “Jebakan Perintah Kontradiktif” (Contradictory Command Entrapment). Dalam rekaman tersebut, terdengar agen ICE meneriakkan perintah yang saling bertabrakan: satu agen memerintahkan Good untuk “pergi”, sementara agen lain menodongkan senjata dan berteriak “keluar dari mobil”. Kebingungan yang fatal ini berakhir dengan tiga tembakan yang dilepaskan oleh agen Jonathan Ross dari Tim Respon Khusus (SRT), tepat ketika Good berusaha mengemudikan mobilnya menjauh—sebuah tindakan yang oleh administrasi Trump diklaim sebagai “serangan teroris domestik”, namun oleh para demonstran di New York disebut sebagai “eksekusi jalanan”.
Krisis Federalisme dan “Musim Dingin yang Panas”
Demonstrasi 10 Januari ini juga memperlihatkan retakan mendalam dalam struktur pemerintahan Amerika Serikat. Walikota New York, Zohran Mamdani, secara terbuka menantang narasi Washington, menyebut insiden ini sebagai bukti kegagalan pelatihan dan moralitas federal. Dukungan politik lokal ini memberikan energi tambahan bagi demonstran, yang kini juga menuntut pengesahan “MELT Act” dan “RADAR Act”—undang-undang lokal New York yang dirancang untuk melarang agen ICE menggunakan masker penutup wajah dan memaksa transparansi operasi mereka.
Anwar Ibrahim: Penangkapan Maduro oleh AS Melanggar Hukum Internasional
Menariknya, protes hari ini juga diwarnai oleh isu geopolitik yang lebih luas. Di tengah lautan poster Renée Good, terlihat pula spanduk “Hands Off Venezuela”, mengaitkan kekerasan polisi domestik dengan kebijakan luar negeri AS. Hal ini menunjukkan bahwa bagi banyak demonstran di New York, isu imigrasi, keadilan rasial, dan anti-imperialisme kini telah melebur menjadi satu front perlawanan tunggal.
Saat matahari mulai terbenam di ufuk Manhattan, suara peluit (whistle)—simbol peringatan warga terhadap kehadiran ICE—terdengar bersahut-sahutan, menggantikan terompet klakson taksi kuning yang biasanya mendominasi kota. New York hari ini mengirimkan pesan yang jelas ke Washington: kematian seorang penyair di Minneapolis telah membakar sumbu perlawanan di jantung kota terpadat di Amerika. Musim dingin 2026 baru saja dimulai, namun suhu politik di jalanan New York sudah mencapai titik didih. By Mukroni
Anwar Ibrahim: Penangkapan Maduro oleh AS Melanggar Hukum Internasional
‘Tidak Ada Perang untuk Minyak’: Ribuan Warga AS Kecam Operasi Militer Penangkapan Maduro
“Itu Tindakan Perang!”: Walikota NYC Mamdani Telepon Trump, Kutuk Penangkapan Maduro
AS Gempur Caracas: Maduro Ditangkap dan Diterbangkan ke New York dalam Operasi Militer Mendadak
Sumpah di Stasiun Bawah Tanah: Awal Unik Pemerintahan Zohran Mamdani di New York
Zohran Mamdani Terpilih Jadi Wali Kota New York: Janji Bus Gratis Terancam Birokrasi MTA!
Stasiun Maryam Moghaddas di Tehran: Simbol Toleransi atau Propaganda?
Terobosan Bersejarah: Indonesia Dapat Izin Bangun Kampung Haji Sendiri di Mekkah!
Lee Jae-myung: Dari Buruh Anak ke Presiden, Anak Warteg pun Bisa Jadi Bintang Korea!
Saham Anjlok, Obligasi Meledak, Dolar Lesu: Utang AS Bikin Panik, Warteg Santai Tak Berdampak!
Deregulasi Bikin Impor Melaju, Industri Lokal Teriak: ‘Warteg Aja Lebih Terlindungi!’
Preman Ngepet di Warteg, Pengangguran Ngetem: Jabodetabek Jadi Ring Tinju Ormas!
The Fed Bikin BI Pusing, Rupiah Ngegas, Warteg Tetap Ramai!
Ojol Belum BPJS, Aplikator Bilang ‘Gaspol!’, Warteg Jadi Penutup Perut!
PHK Bikin Kantoran Jadi Penutup Warteg: Prabowo Geleng-Geleng, Orek Tempe Tetap Sold Out!
Jobless Jadi Trend, Dompet Ikut Send: BPS vs IMF Panas, Warteg Tetap Menang!
Ekonomi Loyo, Pengangguran Melejit: Warteg Tetap Ramai, Tapi Dompet Makin Sepi!
Ekonomi Indonesia 2025: Konsumsi Loyo, Rupiah Goyang, Warteg Tetap Jaya!
PMI Anjlok, IKI Goyang, Warteg Tetap Jaya: Industri Indonesia Lawan Badai Tarif Trump!
PHK Mengintai, Tarif Trump Menghantui, Warteg: Tenang, Ada Telor Dadar!
Warteg Halal Harap-Harap Cemas: UMKM Indonesia Lawan Tarif Trump dan Gempuran Impor China!
Prabowo Jalan-jalan ke China, ASEAN Cuma Dapat Senyum dari
GPN & QRIS: Warteg Go Digital, Transaksi Nusantara Gaspol, AS Cuma Bisa Cemas!
Indonesia vs AS: Tarif Impor Bikin Heboh, Warteg Jagokan Dompet Digital!
Utang Rp 250 Triliun Numpuk, Pemerintah Frontloading Biar Warteg Tetep Jualan Tempe!
Indonesia ke AS: ‘Tarif Dikurangin Dong, Kami Beli Energi, Kedelai, Sekalian Stok Warteg!’
TikTok Tawar Tarif: AS-China Ribut, Indonesia Santai di Warteg!
Kelapa Meroket, Warteg Meratap: Drama Harga di Pasar Negeri Sawit!
Trump Tarik Tarif, Rupiah Rontok, Warteg pun Waswas: Drama Ekonomi 2025!
Danantara dan Dolar: Prabowo Bikin Warteg Nusantara atau Kebingungan?
Warteg Lawan Tarif Trump: Nasi Oreg Tempe Bikin Dunia Ketagihan!
Gempuran Koperasi Desa Merah Putih: 70.000 Pusat Ekonomi Baru Siap Mengubah Indonesia!
1 Juta Mimpi Terhambat: UMKM Berjuang Melawan Kredit Macet
Warteg Jadi Garda Terdepan Revolusi Gizi Nasional!
Skema Makan Bergizi Gratis: Asa Besar yang Membebani UMKM
Revolusi Gizi: Makan Gratis untuk Selamatkan Jutaan Jiwa dari Kelaparan
Gebrakan Sejarah: Revolusi Makan Bergizi Gratis, Ekonomi Lokal Bangkit!
PPN 12 Persen: Harapan atau Ancaman Bagi Ekonomi Rakyat?
Menuju Indonesia Tanpa Impor: Mimpi Besar atau Bom Waktu?
Gebrakan PPN 12 Persen: Strategi Berani yang Tak Menjamin Kas Negara Melejit!
Rupiah di Ujung Tanduk: Bank Indonesia Siapkan “Senjata Pamungkas” untuk Lawan Gejolak Dolar AS!
PPN Naik, Dompet Rakyat Tercekik: Ancaman Ekonomi 2025 di Depan Mata!
12% PPN: Bom Waktu untuk Ekonomi Rakyat Kecil
Rapat Elite Kabinet! Bahlil Pimpin Pertemuan Akbar Subsidi Energi demi Masa Depan Indonesia
Ekonomi Indonesia Terancam ‘Macet’, Target Pertumbuhan 8% Jadi Mimpi?
Janji Pemutihan Utang Petani: Kesejahteraan atau Jurang Ketergantungan Baru?
Indonesia Timur Terabaikan: Kekayaan Alam Melimpah, Warganya Tetap Miskin!
Menuju Swasembada Pangan: Misi Mustahil atau Harapan yang Tertunda?
QRIS dan Uang Tunai: Dua Sisi dari Evolusi Pembayaran di Indonesia
Ledakan Ekonomi Pedas: Sambal Indonesia Mengguncang Dunia!
Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk: Lenyapnya Satwa dan Habitat Indonesia!
Indonesia Menuju 2045: Berhasil Naik Kelas, Tapi Kemiskinan Semakin Mengancam?
Food Estate: Ilusi Ketahanan Pangan yang Berujung Malapetaka ?
Menjelang Akhir Jabatan, Jokowi Tinggalkan PR Besar: Pembebasan Lahan IKN Tersendat!
Pangan Indonesia di Ujung Tanduk: Fase Krusial Beras dan Gula Menuju Krisis!
Tambang Pasir Laut: Ancaman Mematikan bagi Ekosistem dan Kehidupan Pesisir Indonesia!
Duel Menteri Jokowi: Ekspor Pasir Laut atau Hancurkan Lautan Indonesia?
Lonjakan Konsumsi di Tengah Tekanan Ekonomi: Masyarakat Indonesia Bertahan dengan Tabungan!
Hilirisasi Tambang: Mesin Pertumbuhan Ekonomi yang Tak Kunjung Menyala
Impor Lagi? Karena Produksi Pangan Lokal Terlalu Mewah untuk Rakyat!
Stop! Impor Makanan Mengancam! Ketahanan Pangan Indonesia di Ujung Tanduk!
Selamat Datang di Kawasan Lindung: Hutan Hilang Dijamin!
Kongsi Gula Raksasa: Kuasai Tanah, Singkirkan Hutan di Merauke!
Ekspor Pasir Laut Dibuka: Keuntungan Instan, Kerusakan Lingkungan Mengancam Masa Depan!
APBN 2025: Anggaran Jumbo, Stimulus Mini untuk Ekonomi
“Investasi di IKN Melonjak, Tapi Pesawatnya Masih Cari Parkir”
Mandeknya Pengembalian Aset BLBI: Ujian Nyali dan Komitmen Pemerintah
Jeratan Hukum Fify Mulyani dalam Kasus Poligami dan Tindak Pidana Pencucian Uang
Skandal Kuota Haji Khusus: Dugaan Penyelewengan di Balik Penyelenggaraan Haji 2024
IKN di Persimpangan: Anggaran Menyusut, Investasi Swasta Diharapkan
Warteg Menolak IKN, Apa Warteg Menolak IKAN ?
Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang
Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online
Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani
Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu
Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi
Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya
Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan
Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.
Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang
KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat
Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?
Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka
Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu
Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis
Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi
Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik
Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama
Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal
Kowartami Resmikan Warteg Republik Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat
Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit
Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik
Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi
Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung

