• Sab. Feb 7th, 2026

KowantaraNews

Kowantara News: Berita tajam, warteg jaya, UMKM tak terjajah!

Erosi Kepercayaan: Hanya 6% Warga Amerika yang Puas dengan Keterbukaan Pemerintah dalam Kasus Epstein

ByAdmin

Feb 7, 2026
RUU akan langsung dikirim tanpa debat kepada Presiden Donald Trump, yang berjanji akan menandatanganinya menjadi undang-undangFoto: Tom Williams/CQ Roll Call/Sipa USA/picture alliance
Sharing is caring

Jakarta, Kowantaranews.com — Amerika Serikat kini tengah menghadapi krisis kredibilitas institusional yang sangat serius. Sebuah jajak pendapat terbaru mengungkapkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap transparansi pemerintah dalam menangani berkas-berkas terkait skandal Jeffrey Epstein telah merosot ke titik nadir. Berdasarkan data dari survei CNN yang dilakukan oleh SSRS pada Januari 2026, hanya 6% warga Amerika yang menyatakan puas dengan jumlah bukti yang dirilis oleh pemerintah federal sejauh ini. Angka ini menunjukkan bahwa rilis jutaan halaman dokumen yang dilakukan baru-baru ini gagal meredakan kecurigaan publik mengenai adanya penutupan informasi yang dilakukan oleh elit kekuasaan.

Ketidakpuasan ini berakar pada persepsi yang meluas bahwa pemerintah secara sengaja menyembunyikan detail kunci. Sebanyak dua pertiga mayoritas warga Amerika (66%) percaya bahwa pemerintah federal secara sengaja menahan informasi penting yang seharusnya dibuka kepada publik. Persepsi ini melintasi garis partisan, meskipun dengan intensitas yang berbeda: hampir 90% pendukung Demokrat dan 72% pemilih independen yakin ada informasi yang sengaja ditutupi, sementara di kubu Republik, angka tersebut berada di angka 42%.

Sentimen ini diperburuk oleh kegagalan Departemen Kehakiman (DOJ) dalam memenuhi mandat hukum. Undang-Undang Transparansi File Epstein (Epstein Files Transparency Act), yang disahkan pada akhir tahun 2025, mewajibkan DOJ untuk merilis seluruh catatan investigasi paling lambat pada 19 Desember 2025. Namun, hingga tenggat waktu tersebut lewat, DOJ hanya merilis sebagian kecil dari dokumen yang diminta, yang memicu kritik tajam mengenai pelanggaran hukum oleh lembaga penegak hukum tertinggi di negara tersebut. Meskipun pada akhirnya DOJ merilis sekitar 3,5 juta halaman dokumen pada akhir Januari 2026, laporan internal menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya mengumpulkan lebih dari 6 juta halaman, yang berarti hampir separuh dari materi investigasi masih tetap tersegel.

Krisis kepercayaan ini juga didorong oleh kontroversi seputar proses redaksi atau penyensoran dokumen. Para pengacara korban mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai “proyek redaksi yang serampangan” oleh FBI. Dalam rilis terbaru, identitas para penyintas dan korban justru sering terpapar secara tidak sengaja melalui informasi pribadi yang gagal disensor, sementara nama-nama individu berkuasa yang diduga menjadi klien atau konspirator Epstein tampak dilindungi oleh sensor yang sangat ketat. Advokat korban ternama seperti Gloria Allred dan Lisa Bloom menyatakan kemarahan mereka, menyebut proses ini sebagai pengkhianatan berkelanjutan terhadap para penyintas. Allred menekankan bahwa “keadilan yang tertunda adalah keadilan yang ditolak,” merujuk pada tiga dekade kegagalan sistem hukum dalam memberikan transparansi penuh.

Epstein Files 2026: Rilis 3,5 Juta Halaman Ungkap Jaringan Elit Global dan Arsitektur Impunitas

Fenomena ini telah menciptakan persepsi yang mengakar mengenai adanya “sistem hukum ganda” di Amerika Serikat—satu sistem untuk warga biasa dan satu sistem lainnya untuk elit yang memiliki koneksi politik dan finansial. Media internasional, seperti surat kabar Swiss Le Temps, bahkan menggambarkan situasi ini sebagai “jurang maut Amerika” (American abyss), mempertanyakan bagaimana publik bisa tetap percaya pada pemerintah jika lembaga hukum tampak lebih berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan politik daripada menegakkan keadilan yang transparan.

Saat ini, sekitar dua pertiga warga Amerika percaya bahwa pemerintah masih menyembunyikan “daftar klien” Epstein untuk melindungi nama-nama besar di dunia politik dan bisnis. Dengan kepercayaan publik terhadap pemerintah federal yang berada pada level yang sangat rendah secara historis—hanya sekitar 33% menurut data Partnership for Public Service—penanganan skandal Epstein telah menjadi simbol dari erosi demokrasi yang lebih luas di Amerika Serikat. Tanpa adanya akuntabilitas yang nyata dan transparansi mutlak tanpa sensor yang memihak, “hantu” Jeffrey Epstein diprediksi akan terus menghantui stabilitas politik Amerika Serikat hingga pemilihan paruh waktu 2026 dan seterusnya. By Mukroni

  • Berita Terkait

Epstein Files 2026: Rilis 3,5 Juta Halaman Ungkap Jaringan Elit Global dan Arsitektur Impunitas

Gema ‘Ice Kills’ Guncang New York: Ribuan Demonstran Kepung One World Trade Center Tuntut Keadilan bagi Renée Good

Anwar Ibrahim: Penangkapan Maduro oleh AS Melanggar Hukum Internasional

‘Tidak Ada Perang untuk Minyak’: Ribuan Warga AS Kecam Operasi Militer Penangkapan Maduro

“Itu Tindakan Perang!”: Walikota NYC Mamdani Telepon Trump, Kutuk Penangkapan Maduro

AS Gempur Caracas: Maduro Ditangkap dan Diterbangkan ke New York dalam Operasi Militer Mendadak

Sumpah di Stasiun Bawah Tanah: Awal Unik Pemerintahan Zohran Mamdani di New York

Zohran Mamdani Terpilih Jadi Wali Kota New York: Janji Bus Gratis Terancam Birokrasi MTA!

Zohran Mamdani Bekukan Sewa 1 Juta Unit & Taklukkan Dinasti Cuomo: Kota New York Direbut Kembali dari Pasar

Stasiun Maryam Moghaddas di Tehran: Simbol Toleransi atau Propaganda?

Terobosan Bersejarah: Indonesia Dapat Izin Bangun Kampung Haji Sendiri di Mekkah!

Ledakan Bom Mobil di Quetta: Tragedi di Balochistan Mengguncang Pakistan

Tragedi Saniya Ansari: Bunuh Diri Remaja Muslim di Gujarat Akibat Pelecehan dan Penyalahgunaan Disturbed Areas Act

Lee Jae-myung: Dari Buruh Anak ke Presiden, Anak Warteg pun Bisa Jadi Bintang Korea!

Saham Anjlok, Obligasi Meledak, Dolar Lesu: Utang AS Bikin Panik, Warteg Santai Tak Berdampak!

Deregulasi Bikin Impor Melaju, Industri Lokal Teriak: ‘Warteg Aja Lebih Terlindungi!’

Preman Ngepet di Warteg, Pengangguran Ngetem: Jabodetabek Jadi Ring Tinju Ormas!

The Fed Bikin BI Pusing, Rupiah Ngegas, Warteg Tetap Ramai!

Ojol Belum BPJS, Aplikator Bilang ‘Gaspol!’, Warteg Jadi Penutup Perut!

PHK Bikin Kantoran Jadi Penutup Warteg: Prabowo Geleng-Geleng, Orek Tempe Tetap Sold Out!

Jobless Jadi Trend, Dompet Ikut Send: BPS vs IMF Panas, Warteg Tetap Menang!

Ekonomi Loyo, Pengangguran Melejit: Warteg Tetap Ramai, Tapi Dompet Makin Sepi!

Ekonomi Indonesia 2025: Konsumsi Loyo, Rupiah Goyang, Warteg Tetap Jaya!

PMI Anjlok, IKI Goyang, Warteg Tetap Jaya: Industri Indonesia Lawan Badai Tarif Trump!

PHK Mengintai, Tarif Trump Menghantui, Warteg: Tenang, Ada Telor Dadar!

Warteg Halal Harap-Harap Cemas: UMKM Indonesia Lawan Tarif Trump dan Gempuran Impor China!

Prabowo Jalan-jalan ke China, ASEAN Cuma Dapat Senyum dari

GPN & QRIS: Warteg Go Digital, Transaksi Nusantara Gaspol, AS Cuma Bisa Cemas!

Indonesia vs AS: Tarif Impor Bikin Heboh, Warteg Jagokan Dompet Digital!

Utang Rp 250 Triliun Numpuk, Pemerintah Frontloading Biar Warteg Tetep Jualan Tempe!

Indonesia ke AS: ‘Tarif Dikurangin Dong, Kami Beli Energi, Kedelai, Sekalian Stok Warteg!’

TikTok Tawar Tarif: AS-China Ribut, Indonesia Santai di Warteg!

Kelapa Meroket, Warteg Meratap: Drama Harga di Pasar Negeri Sawit!

Trump Tarik Tarif, Rupiah Rontok, Warteg pun Waswas: Drama Ekonomi 2025!

Danantara dan Dolar: Prabowo Bikin Warteg Nusantara atau Kebingungan?

Warteg Lawan Tarif Trump: Nasi Oreg Tempe Bikin Dunia Ketagihan!

Perang Melawan Resesi: UMKM Indonesia Bersenjatakan E-Commerce & KUR, Pemerintah Salurkan Rp171 Triliun untuk Taklukkan Pasar ASEAN!

Gempuran Koperasi Desa Merah Putih: 70.000 Pusat Ekonomi Baru Siap Mengubah Indonesia!

1 Juta Mimpi Terhambat: UMKM Berjuang Melawan Kredit Macet

Warteg Jadi Garda Terdepan Revolusi Gizi Nasional!

Skema Makan Bergizi Gratis: Asa Besar yang Membebani UMKM

Revolusi Gizi: Makan Gratis untuk Selamatkan Jutaan Jiwa dari Kelaparan

Gebrakan Sejarah: Revolusi Makan Bergizi Gratis, Ekonomi Lokal Bangkit!

PPN 12 Persen: Harapan atau Ancaman Bagi Ekonomi Rakyat?

Setengah Kekayaan Negeri dalam Genggaman Segelintir Orang: Potret Suram Kesenjangan Ekonomi Indonesia

Menuju Indonesia Tanpa Impor: Mimpi Besar atau Bom Waktu?

Gebrakan PPN 12 Persen: Strategi Berani yang Tak Menjamin Kas Negara Melejit!

Rupiah di Ujung Tanduk: Bank Indonesia Siapkan “Senjata Pamungkas” untuk Lawan Gejolak Dolar AS!

PPN Naik, Dompet Rakyat Tercekik: Ancaman Ekonomi 2025 di Depan Mata!

12% PPN: Bom Waktu untuk Ekonomi Rakyat Kecil

Prabowo Hadapi Warisan Beban Utang Raksasa: Misi Penyelamatan Anggaran di Tengah Tekanan Infrastruktur Jokowi

Rapat Elite Kabinet! Bahlil Pimpin Pertemuan Akbar Subsidi Energi demi Masa Depan Indonesia

Ekonomi Indonesia Terancam ‘Macet’, Target Pertumbuhan 8% Jadi Mimpi?

Janji Pemutihan Utang Petani: Kesejahteraan atau Jurang Ketergantungan Baru?

Indonesia Timur Terabaikan: Kekayaan Alam Melimpah, Warganya Tetap Miskin!

Menuju Swasembada Pangan: Misi Mustahil atau Harapan yang Tertunda?

QRIS dan Uang Tunai: Dua Sisi dari Evolusi Pembayaran di Indonesia

Ledakan Ekonomi Pedas: Sambal Indonesia Mengguncang Dunia!

Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk: Lenyapnya Satwa dan Habitat Indonesia!

Indonesia Menuju 2045: Berhasil Naik Kelas, Tapi Kemiskinan Semakin Mengancam?

Food Estate: Ilusi Ketahanan Pangan yang Berujung Malapetaka ?

Menjelang Akhir Jabatan, Jokowi Tinggalkan PR Besar: Pembebasan Lahan IKN Tersendat!

Pangan Indonesia di Ujung Tanduk: Fase Krusial Beras dan Gula Menuju Krisis!

Tambang Pasir Laut: Ancaman Mematikan bagi Ekosistem dan Kehidupan Pesisir Indonesia!

Duel Menteri Jokowi: Ekspor Pasir Laut atau Hancurkan Lautan Indonesia?

Lonjakan Konsumsi di Tengah Tekanan Ekonomi: Masyarakat Indonesia Bertahan dengan Tabungan!

Hilirisasi Tambang: Mesin Pertumbuhan Ekonomi yang Tak Kunjung Menyala

Impor Lagi? Karena Produksi Pangan Lokal Terlalu Mewah untuk Rakyat!

Stop! Impor Makanan Mengancam! Ketahanan Pangan Indonesia di Ujung Tanduk!

Selamat Datang di Kawasan Lindung: Hutan Hilang Dijamin!

Kongsi Gula Raksasa: Kuasai Tanah, Singkirkan Hutan di Merauke!

Ekspor Pasir Laut Dibuka: Keuntungan Instan, Kerusakan Lingkungan Mengancam Masa Depan!

APBN 2025: Anggaran Jumbo, Stimulus Mini untuk Ekonomi

“Investasi di IKN Melonjak, Tapi Pesawatnya Masih Cari Parkir”

Mandeknya Pengembalian Aset BLBI: Ujian Nyali dan Komitmen Pemerintah

Jeratan Hukum Fify Mulyani dalam Kasus Poligami dan Tindak Pidana Pencucian Uang

Skandal Kuota Haji Khusus: Dugaan Penyelewengan di Balik Penyelenggaraan Haji 2024

IKN di Persimpangan: Anggaran Menyusut, Investasi Swasta Diharapkan

Warteg Menolak IKN, Apa Warteg Menolak IKAN ?

Keren !, Sejumlah Alumni UB Mendirikan Koperasi dan Warteg Sahabat di Kota Malang

Ternyata Warteg Sahabat KOWATAMI Memakai Sistem Kasir Online

Ternyata Warteg Sahabat Berada di Bawah Naungan Koperasi Warung Sahabat Madani

Wow Keren !, Makan Gratis di Warteg Sahabat Untuk Penghafal Surat Kahfi di Hari Minggu

Warteg Sahabat Satu-Satunya Warteg Milenial di Kota Malang dengan Wifi

Warteg Sahabat Menawarkan Warteg Gaya Milenial untuk Kota Malang dan Sekitarnya

Republik Bahari Mengepakan Sayap Warteg ala Café di Cilandak Jakarta Selatan

Promo Gila Gilaan Di Grand Opening Rodjo Duren Cirendeu.

Pelanggan Warteg di Bekasi dan Bogor Kecewa, Menu Jengkol Hilang

KOWARTAMI Membuka Lagi Gerai Warteg Republik Bahari ke-5 di MABES Jakarta Barat

Ternyata Nasi Padang Ada yang Harganya Lebih Murah dari Warteg, Apa benar ?

Menikmati Menu Smoothies Buah Naga Di Laloma Cafe Majalengka 

Ternyata Tidak Jauh Dari Jakarta, Harga Nasi Padang Per Porsinya Rp 120 Ribu

Ketika Pedagang Warteg Menanyakan Syarat Mendapatkan Satu Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis

Warteg Republik Bahari Di Bawah Kowartami Mulai Berkibar Di Penghujung Pandemi

Curhat Pemilik Warung Seafood Bekasi Ketika Omsetnya Belum Beranjak Naik

Trending Di Twitter, Ternyata Mixue Belum Mendapat Sertifikat Halal Dari BPJPH Kementerian Agama

Megenal Lebih Dekat Apapun Makanannya Teh Botol Sosro Minumannya, Cikal Bakalnya Dari Tegal

Kowartami  Resmikan  Warteg  Republik  Bahari Cabang Ke-4 Di Salemba Jakarta Pusat

Natal Di Jepang, Kentucky Fried Chicken (KFC) Salah Satu Makanan Favorit

Pedagang Warteg Semakin Sulit Harga Beras Naik

Yabie Cafe Tempat Bersantai Kekinian di Kranji Bekasi

Nongkrong Sambil Mencicip Surabi dengan Beragam Topping di Bandung

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *