Jakarta, Kowantaranews.com -Dunia internasional saat ini tengah menyaksikan salah satu krisis hukum paling signifikan dalam sejarah modern. Gelombang kritik tajam datang dari dalam Amerika Serikat sendiri, di mana lebih dari 100 pakar hukum internasional terkemuka secara resmi menyatakan bahwa rangkaian serangan udara AS dan Israel ke Iran telah melanggar prinsip dasar tatanan dunia. Dalam surat terbuka yang dipublikasikan melalui jurnal kebijakan Just Security pada tanggal 2 April 2026, para pakar yang terdiri dari profesor senior universitas elit seperti Harvard, Yale, Stanford, dan Columbia, serta mantan penasihat hukum pemerintah, memperingatkan bahwa operasi militer ini telah mengabaikan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berpotensi besar dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Pelanggaran Terhadap Piagam PBB
Inti dari kegelisahan para ahli hukum ini terletak pada legalitas dimulainya perang, atau yang dikenal dengan istilah jus ad bellum. Berdasarkan Piagam PBB, penggunaan kekuatan militer terhadap negara berdaulat hanya diizinkan dalam dua kondisi: adanya otorisasi dari Dewan Keamanan PBB atau sebagai tindakan pembelaan diri (self-defense) terhadap serangan bersenjata yang sedang atau segera terjadi. Namun, Operasi Epic Fury yang diluncurkan pada 28 Februari 2026 tidak memiliki izin dari Dewan Keamanan PBB. Lebih lanjut, para pakar menekankan bahwa tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan Iran menimbulkan ancaman langsung yang dapat membenarkan klaim pembelaan diri oleh pemerintahan Donald Trump. Pengabaian terhadap prosedur multilateral ini dipandang sebagai tindakan agresi yang merusak norma-norma yang telah menjaga stabilitas global selama puluhan tahun.
Tragedi Kemanusiaan di Minab
Salah satu bukti paling kuat yang disorot oleh para ahli sebagai potensi kejahatan perang adalah serangan terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab pada hari pertama perang. Investigasi independen menunjukkan bahwa sekolah tersebut dihantam oleh rudal Tomahawk dalam skema serangan “triple tap”—tiga hantaman berturut-turut pada target yang sama—saat jam pelajaran berlangsung. Insiden ini menewaskan sedikitnya 175 orang, dengan mayoritas korban adalah anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun. Meskipun militer AS menyatakan serangan tersebut didasarkan pada data intelijen yang menganggap bangunan itu sebagai fasilitas militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bukti satelit menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah dipisahkan dari kompleks militer dan dioperasikan sebagai sekolah sipil selama lebih dari sepuluh tahun. Kegagalan untuk mengambil tindakan pencegahan guna menghindari kerugian sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Gugur Demi Perdamaian Dunia, Tiga Prajurit TNI Terima Penghormatan Tertinggi di Bandara Beirut
Retorika “No Quarter” dan Pengabaian Hukum
Selain tindakan fisik di lapangan, pernyataan pejabat senior AS juga menjadi sorotan tajam. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dalam sebuah pengarahan pada 13 Maret, menyatakan bahwa militer akan terus menyerang “tanpa ampun, tanpa belas kasihan bagi musuh kami”. Dalam terminologi hukum perang, pernyataan “no quarter” atau perintah untuk tidak memberikan pengampunan adalah ilegal karena melarang penerimaan tawanan perang dan memerintahkan pembunuhan terhadap musuh yang telah menyerah. Tindakan menyatakan no quarter merupakan kejahatan perang tersendiri berdasarkan Undang-Undang Kejahatan Perang AS (18 U.S.C. 2441) dan Konvensi Den Haag.
Dampak Teknologi AI dalam Penargetan
Para pakar juga menyoroti penggunaan sistem kecerdasan buatan (AI) seperti Maven Smart System yang mampu memproses ribuan target dalam hitungan jam. Ketergantungan pada algoritma yang menggunakan data usang diduga kuat menjadi penyebab pemboman objek sipil secara masif. Tom Dannenbaum, profesor dari Stanford Law School, mengingatkan bahwa meskipun kondisi politik saat ini membuat penuntutan sulit dilakukan, kejahatan perang memiliki yurisdiksi universal tanpa batasan waktu. Hal ini berarti setiap negara di masa depan dapat menuntut individu yang bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran ini, memastikan bahwa akuntabilitas tetap membayangi para pengambil kebijakan yang mengabaikan hukum internasional demi ambisi militer. By Mukroni
- Berita Terkait :
Gugur Demi Perdamaian Dunia, Tiga Prajurit TNI Terima Penghormatan Tertinggi di Bandara Beirut
Jutaan Massa Padati Aksi ‘No Kings’ di AS dan Eropa, Bruce Springsteen Pimpin Protes di Minnesota
Iran Tolak Rencana Damai 15 Poin AS, Ajukan Syarat Kontrol Mutlak Selat Hormuz
“Iran Bukan Ancaman Langsung”: Joe Kent Mundur dan Tuduh Trump Tertekan Lobi Israel
Misteri Kematian Jurnalis Prancis Pro-Palestina Marine Vlahovic saat Investigasi Genosida Gaza
Indonesia Bakal Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan Asing ke Gaza dalam Misi ISF
497 Serangan Israel Pasca-Gencatan Senjata, PBB Bentuk Pasukan Stabilisasi Internasional
Israel Veto Indonesia-Turki, Pasukan Perdamaian PBB untuk Gaza Terancam Batal
Kesepakatan Perdamaian Gaza Tahap Pertama: Langkah Awal Menuju Gencatan Senjata
Trump vs. Thunberg: Pertukaran Sindiran Terkait Insiden Flotilla Gaza
Kronologi Diplomasi Gaza: Negosiasi Perdamaian 5-6 Oktober 2025 di Mesir
Hamas di Persimpangan: Terima Proposal Damai Trump atau Hadapi Dukungan AS untuk Serangan Israel
Pencegatan Global Sumud Flotilla dan Deportasi Greta Thunberg: Krisis Kemanusiaan Gaza Memanas
Tsunami Politik Barat: Dari Benteng Israel ke Pelukan Palestina
Guncangan Diplomatik: Inggris, Australia, Kanada Akui Palestina, Israel Murka!
Hannah Einbinder Memisahkan Identitas Yahudi dari Negara Israel dalam Pidato Emmy: ‘Free Palestine’
AS vs PBB: Larangan Visa Palestina Picu Pemindahan Sidang ke Jenewa
Mustafa Bargouti Peringatkan Indonesia: Menerima Pengungsi Palestina adalah Tipu Daya Israel
Kelaparan Gaza: Bencana Akibat Pendudukan Israel atau Diamnya Barat?
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Kondisi Terkini dan Langkah Menuju Perdamaian
Pembantaian Tengah Malam-Sahur: Israel Hancurkan Gaza, Darah Anak-Anak Banjiri Jalanan!
DRAMA GAZA: TRUMP BERBALIK ARAH – DARI ANCAMAN PENGUSIRAN HINGGA DIPLOMASI YANG TAK PASTI
Gaza di Ambang Bencana: Kelaparan Massal Mengintai Akibat Blokade Israel yang Kejam
Dibungkam! Aktivis Cerdas Columbia Diculik dalam Serangan terhadap Demokrasi
Mantan Jurnalis BBC Jadi Finalis Miss Universe Great Britain untuk Advokasi Gaza
Liga Arab Dukung Rencana Rekonstruksi Gaza oleh Mesir, Tantang Proposal Trump
Gencatan Senjata Hancur, Gaza Menjerit dalam Lorong Kegelapan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Nutrisi dan Kebersamaan di Sekolah
Liang Wenfeng: Jenius AI China yang Mengguncang Dunia dan Mengancam Hegemoni Teknologi AS
DOSA DAN BANJIR DAHSYAT: KETIKA NEGERI MAKMUR TENGGELAM DAN HUTAN MANGROVE BANGKIT!
Mangrove, Benteng Gaib Penahan Tsunami dan Penyelamat Umat Manusia
MANGROVE: POHON SAKTI PENJAGA BUMI DARI AMUKAN LAUTAN!
Mangrove: Pohon Ajaib yang Menyembuhkan Bumi dan Mengenyangkan Perut Manusia
Serai Wangi: Pahlawan Tak Terduga untuk Lingkungan yang Terluka!
Mangrove Indonesia: Lumbung Karbon Terbesar yang Menyelamatkan Planet!
Krisis Sputnik Baru: Deepseek Mengancam Hegemoni Teknologi Amerika
Laut Terkunci: Pagar Bambu yang Mengurung Masa Depan Nelayan
Isra Miraj: Langkah Kosmik Menuju Harmoni Multikultural
Retakan Tanah Mengintai: Perlombaan Melawan Waktu di Tengah Ancaman Longsor Pekalongan
Di Balik Obsesi Swasembada Pangan: Lingkungan dan Masyarakat yang Terlupakan
Makan Bergizi Gratis Ngebut! 82,9 Juta Pelajar Siap Disantuni di 2025!
Kemiskinan Menyusut, Tapi Jurang Kesenjangan Kian Menganga!
Jeritan Nelayan: Terjebak di Balik Tembok Laut, Rezeki Kian Terkikis
Menimbang Makna di Balik Perayaan Tahun Baru
Insiden di Mahkamah Internasional: Pengacara Israel Disebut ‘Pembohong’ oleh Pengamat Selama Sidang
Raja Saudi Salman Dirawat karena Radang Paru-paru di Istana Al Salam
Helikopter dalam Konvoi yang Membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi Jatuh di Azerbaijan Timur
JPMorgan Chase Tarik Investasi dari Elbit Systems di Tengah Tekanan Kampanye Boikot
76 Tahun Nakba: Peringatan Sejarah dan Bencana yang Berkepanjangan di Gaza
Hakim Kanada Tolak Pembubaran Demo Pro-Palestina di Universitas McGill
Blokade Bantuan ke Gaza: Protes, Krisis Kelaparan, dan Konsekuensi Global
Netanyahu Tegaskan Israel Bukan “Negara Bawahan” AS di Tengah Ketegangan dengan Biden
Mayor Angkatan Darat AS Mengundurkan Diri untuk Memprotes Dukungan Amerika terhadap Israel di Gaza
Enam Sekutu Amerika Serikat Dukung Keanggotaan Penuh Palestina di PBB
Jeremy Corbyn di Rafah: ” Kisah Horor dan Harapan di Gaza: Panggilan untuk Keadilan dan Perdamaian”
Antony Blinken Mengecam Klaim Israel: Keadilan dan Kemanusiaan dalam Konflik Gaza
Mayoritas Warga Kanada Mendukung Protes di Kampus Universitas Menurut Jajak Pendapat Terbaru
Raja Denmark Mengibarkan Bendera Palestina: Solidaritas Global Menguat Setelah Badai Al-Aqsa
Gary Lineker: Tidak Bisa Diam Mengenai Konflik Gaza dan Kritik Terhadap Tindakan Israel
Kekuatan Opini Publik: Kim Kardashian dan Dampak #Blockout2024 Pro-Palestina
Perspektif Kritis Randa Jarrar: Hillary Clinton dalam Kacamata Seorang Profesor Studi Timur Tengah
Peringatan Raja Spanyol Felipe VI: Eskalasi Kekerasan di Gaza dan Panggilan untuk Aksi Global
Perayaan Cinta dan Solidaritas: Pengantin di Montreal Mengekspresikan Dukungan untuk Palestina
Bisan Owda dan AJ+ Raih Penghargaan Peabody atas Liputan Gaza
Grace Blakeley Mendorong Sanksi terhadap Israel dalam Debat BBC Question Time
Insiden Pelecehan Verbal di Arizona State University: Staf Pro-Israel Diberhentikan
Respon Defiant Israel Menyusul Peringatan Biden tentang Serangan Rafah
Dinamika Hubungan India-Israel di Bawah Pemerintahan Narendra Modi
Himne Macklemore untuk Perdamaian dan Keadilan: “Solidaritas Diam”
Tujuan Israel Menolak Gencatan Senjata dengan Hamas dan Melancarkan Operasi di Rafah
Mahasiswa Inggris Protes untuk Palestina: Aksi Pendudukan di Lima Universitas Terkemuka
Solidaritas Pelajar di MIT: Dukungan untuk Gaza dan Perlawanan Terhadap Perintah Polisi
Senator Partai Republik Ancam ICC: ‘Targetkan Israel dan Kami Akan Menargetkan Anda’
Pembelotan Massal dan Ketegangan Internal: Pasukan Israel Menolak Perintah di Gaza
Israel Menutup Kantor Al Jazeera
Ketegangan di Upacara Pembukaan Universitas Michigan: Pengunjuk Rasa Pro-Palestina Dikeluarkan
Ketegangan Internal dan Eksternal: Keputusan Kontroversial Menutup Saluran Al Jazeera di Israel
Situasi Tegang: Demonstrasi di Institut Seni Chicago Berakhir dengan Puluhan Orang Ditangkap
Platform Pittsburgh: Peran Pentingnya dalam Gerakan Reformasi Amerika dalam Yudaisme
Deklarasi Balfour dan Peran Walter Rothschild: Sebuah Tinjauan
Pelukan Islam Shaun King dan Dukungannya terhadap Palestina: Kisah Perubahan dan Aktivisme
Trinidad dan Tobago Resmi Mengakui Negara Palestina: Tinjauan Keputusan dan Implikasinya
Kolombia Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Israel karena Dugaan Genosida di Gaza
Kontroversi Video Rashida Tlaib: Pertahanan Pro-Palestina di Tengah Keretakan Demokrat Michigan
Kontroversi Terkait Protes Mahasiswa di AS: Antara Anti-Semitisme dan Anti-Perang
Konfrontasi di Kampus: Mahasiswa Universitas Columbia Berjuang Demi Solidaritas dengan Palestina
Robert Reich Membela Mahasiswa yang Memprotes Perang Israel di Gaza di Kampus-kampus Amerika
Perjuangan Mahasiswa Amerika: Solidaritas dengan Palestina Melawan Represi dan Kekerasan
Protes Mahasiswa Pro-Palestina di Washington Tetap Berlanjut Meski Ditekan Pemerintah
Keyakinan Nahamanides dalam Realitas Surga dan Lokasi Taman Eden Dekat Garis Katulistiwa
Konsep Bumi sebagai Pusat Alam Semesta dalam Divine Comedy Dante
Thomas Aquinas: Pemikiran tentang Surga, Khatulistiwa, dan Taman Eden dalam Summa Theologica
Neturei Karta: Sekte Yahudi Anti-Zionis yang Menolak Negara Israel Berdasarkan Keyakinan Eskatologis
Neturei Karta: Sekte Yahudi Anti-Zionis yang Menolak Negara Israel

